facebooklogocolour

Likuidasionisme dan Otzovisme

Presidium of the 9th Congress of the Russian Communist Party BolsheviksDemoralisasi yang menjangkiti kaum Menshevik terekspresikan dalam fenomena yang lalu dikenal sebagai likuidasionisme. Di bawah kondisi reaksi, mayoritas kawan-petualang borjuis kecil PBSDR berayun ke kanan. Ini bukanlah sebuah tendensi politik yang jelas, tetapi sebuah mood yang merasuki strata ini, mood skeptisisme mengenai masa depan revolusi sosialis, dan terutama mood keraguan – ragu akan potensi revolusioner kelas buruh, ragu akan kebenaran filsafat Marxis, ragu akan diri mereka sendiri, pendeknya ragu akan segala sesuatu. Manifestasi paling jelas dari mood kaum inteligensia di sayap kanan gerakan ini adalah “likuidasionisme” di antara kaum Menshevik. Tetapi di sayap kiri ini juga menemui ekspresinya dalam “otzovisme”, yang muncul dalam barisan Bolshevik. Lembeknya fraksi Sosial Demokratik dalam Duma, yang didominasi Menshevik, kecenderungan organiknya untuk berkompromi dengan kaum liberal, dan penolakannya untuk dikendalikan oleh Partai memprovokasi tendensi recall-isme dan ultimatum-isme. Seperti yang Lenin sering katakan, ultra-kiri-isme adalah harga yang harus dibayar oleh gerakan untuk oportunisme. Tetapi, di bawah kondisi reaksi yang menguat, penolakan untuk menggunakan Duma Ketiga guna mempersatukan kekuatan Partai yang terpencar-pencar jelas akan merugikan.

Mood likuidasionis menemukan ekspresinya yang paling jelas dalam lapisan intelektual dan penulis Menshevik. Orang-orang seperti Potresov, Larin, Dan, Martynov, Axelrod, Cherevanin terus melempar tuduhan kalau Bolshevik adalah ekstremis, dan kelewatan dalam melawan kaum liberal borjuis. Beberapa menganjurkan untuk mencampakkan gagasan pemberontakan bersenjata dan membuat Duma sebagai poin utama dari semua kegiatan Sosial Demokratik. Dalam kata lain, mereka ingin mencampakkan perspektif revolusi. Kaum Menshevik lainnya seperti Zhordania tidak bergerak sejauh itu, tetapi berargumen bahwa kaum borjuasi (kaum liberal) harus memimpin revolusi karena karakter revolusi ini adalah borjuis-demokratik. Ini berarti mencampakkan hegemoni kelas buruh – sebuah pembenaran “teoretis” untuk ketidakpercayaan kaum intelektual kelas menengah pada kelas buruh, yang menyembunyikan ketertundukannya pada borjuasi besar di belakang serangkaian sofisme yang “membuktikan” bahwa proletariat tidak mampu memimpin masyarakat. Prasangka ini dapat terekspresikan secara langsung dan “jujur” (buruh terlalu bodoh, tidak paham, dsb.) atau dalam bentuk yang lebih halus (revolusi ini adalah borjuis-demokratik, waktunya belum tepat, dsb.) Bagi kaum intelektual yang terbiasa bermain-main dengan gagasan seperti buah-buah catur, tidaklah sulit untuk menciptakan argumen pintar untuk proposisi apapun, yang sesuai dengan mood mereka saat itu atau kepentingan diri mereka sendiri (dua hal ini biasanya berkait kelindan). Bagi orang-orang ini, bila kita mau jujur saja, tidak akan pernah ada waktu yang tepat bagi kelas buruh untuk merebut kendali masyarakat.Kaum Menshevik mencoba mendasarkan diri mereka pada berbagai macam argumen “kompleks” dan kutipan Marx untuk “membuktikan” bahwa kaum buruh Rusia harus mensubordinasikan diri mereka di bawah kaum liberal borjuis, membantu yang belakangan ini merebut kekuasaan, memperkenalkan demokrasi dan kemudian membuka periode panjang perkembangan kapitalis, dan hanya setelah itu, setelah sekitar seratus tahunan, kondisi-kondisi objektif akan matang untuk sosialisme. Pada kenyataannya posisi seperti ini tidak ada kesamaannya dengan Marxisme, dan hanya karikatur skolastiknya. Ini telah dijawab berulang kali oleh Lenin dan Trotsky, dan bahkan sudah dijawab sejak awal oleh Marx dan Engels.

Pada dasarnya ini adalah ekspresi demoralisasi. Seawal Oktober 1907, Potresov menulis ke Axelrod: “Kita sedang mengalami disintegrasi total dan demoralisasi penuh ... Tidak hanya tidak ada organisasi, tetapi bahkan tidak ada elemen-elemen untuknya. Dan non-eksistensi ini bahkan dianggap sebuah sebuah prinsip.”[1] Pada 20 Februari 1908, Axelrod menulis surat ke Plekhanov mengekspresikan pesimisme dalamnya mengenai masa depan: “Tanpa meninggalkannya [Partai] untuk sekarang, dan tanpa mengumumkan keruntuhannya yang tak terelakkan, kita harus mempertimbangkannya dari perspektif ini dan tidak mengaitkan masa depan gerakan kita dengan apa yang terjadi padanya.”[2] Pada musim semi 1908, kaum Menshevik mulai membubarkan organisasi-organisasi bawah tanah Partai di Moskow dan menggantikan mereka dengan apa-yang-disebut kelompok-kelompok inisiatif, yang terutama membatasi diri mereka pada kegiatan-kegiatan kebudayaan dan kerja dalam koperasi dan klub yang diizinkan oleh undang-undang. Pada Juli, Alexander Martynov dan Boris Goldman mengumumkan seruan terbuka untuk membubarkan Komite Pusat Partai dan menggantikannya dengan “biro informasi”. Ini secara efektif berarti melikuidasi Partai sebagai sebuah kekuatan revolusioner dan beradaptasi pada undang-undang Stolypin.

Perjuangan melawan likuidasionisme oleh karenanya adalah perjuangan untuk mempertahankan Partai sebagai sebuah organisasi revolusioner, perjuangan melawan usaha sayap kanan untuk mencairkan dan mencampakkan tujuan dan kebijakan revolusionernya dan mensubordinasinya pada kaum liberal. Lenin berbicara dengan penuh kebencian mengenai tendensi likuidasionis yang dia segera kenali sebagai refleksi demoralisasi kaum intelektual yang memalingkan punggung mereka ke revolusi dengan alasan menolak metode-metode perjuangan dan organisasi “lama”. “Kaitan antara likuidasionisme dan mood ‘keletihan’ kaum filistin adalah jelas,” tulisnya. “Yang ‘letih’ (terutama mereka-mereka yang letih karena tidak berbuat apapun) tidak berusaha sama sekali untuk mencari jawaban untuk masalah ekonomi dan politik hari ini... Orang-orang ‘letih’ macam ini, yang naik pangkat jadi penulis dan dari situ membenarkan ‘keletihan’ mereka terhadap masalah lama, ketidakinginan mereka untuk bekerja dengan masalah lamamasuk ke kategori orang-orang yang tidak hanya ‘lelah’ tetapi juga berkhianat.”[3] Lenin menulis di artikel yang lain: “Semakin panji ini ‘dikibarkan’, menjadi jelas bahwa apa yang ada di depan kita adalah sebuah lap liberal yang kotor dan robek-robek.” Inilah watak utama pertentangan antara Bolshevisme dan Menshevisme yang berujung pada perpecahan pada 1912.

Konflik internal Partai menampakkan dirinya di setiap pertemuan. Pada 5-12 November 1907, Konferensi keempat – atau ketiga “Seluruh Rusia” – di Helsingfors sekali lagi mendiskusikan taktik Duma. Dari 27 delegasi yang hadir, sepuluh adalah Bolshevik, empat Menshevik, lima Polandia, lima Bund, dan tiga Latvia. Lenin mendukung penggunaan Duma, bukan sebagai kendaraan untuk memenangkan reforma –seperti yang diinginkan oleh kaum likuidator – tetapi sebagai platform untuk agitasi revolusioner, dan selalu di atas basis kemandirian kelas, bukan blok dengan Kadet, seperti yang diusung oleh kaum Bund dan Menshevik. Konferensi menyetujui untuk menerima kesepakatan sementara dengan kelompok-kelompok buruh dan tani yang ada di sayap kiri Kadet, dengan tujuan memenangkan kaum tani dari pengaruh kaum liberal borjuis. Ini adalah dorongan penting bagi posisi Lenin. Semuanya tampak akan berjalan lancar. Lalu ada kemunduran baru.

Pada musim semi 1908, semua anggota Bolshevik dalam Biro Rusia tiba-tiba ditangkap. Ini mengacaukan kerja faksi Bolshevik di Rusia. Pada momen inilah kaum Menshevik mengambil peluang dari situasi ini untuk mencoba mengubah KP menjadi pusat informasi semata. Proposal ini ditolak pada Plenum Agustus yang berlangsung pada 1908 di Jenewa. Seperti biasa kaum Bolshevik didukung oleh Marxis Polandia dan Latvia. Diputuskan untuk digelar konferensi partai untuk mendiskusikan masalah likuidasionisme. Kaum Menshevik menolak gagasan ini, begitu juga kaum Otzovis yang menyerukan diadakannya “sebuah kongres yang murni Bolshevik”, di saat Lenin mencoba mempertahankan kesatuan Partai. Selain menuntut recall fraksi Duma, tendensi Otzovis juga menuntut agar Partai memboikot kerja di organisasi-organisasi legal. Di bawah kondisi kontra-revolusi yang menguat, kaum Marxis harus menggunakan semua peluang legal yang ada, tidak peduli sekecil apapun: serikat buruh, klub buruh, kelompok asuransi dan, terutama, Duma. Mengabaikan peluang-peluang legal ini adalah kesalahan yang bisa membawa bencana. Ini berarti mencampakkan usaha untuk meraih massa, dan dengan demikian mereduksi partai menjadi sekte belaka. Lenin meluncurkan perjuangan keras melawan tendensi ultra-kiri ini, yang dia karakterkan secara tepat sebagai “likuidasionisme yang dibalik luar-dalamnya”.

Mood ultra-kiri mendominasi lapisan kepemimpinan faksi Bolshevik pada saat ini. Pendukung tendensi ini meliputi tokoh-tokoh kunci seperti: Alexander Bogdanov (Maximovich), Grigory Alexinsky, A. Sokolov (Volsky), Martin Lyadov (Mandelshtamm) dan juga Gorky, yang pemahaman Marxismenya terbatas dan ini ditunjukkan oleh dukungannya terhadap tendensi filsafat semi-mistis yang disebut “membangun-Tuhan”[4]. Dorongan untuk mengkritik dan merevisi postulat-postulat dasar Marxisme adalah refleksi dari mood pesimisme dan putus asa yang mendominasi kaum inteligensia, dan ini kita saksikan berulang kali dalam sejarah di setiap periode kontra-revolusioner. Dukungan Bogdanov terhadap kebijakan ultra-kiri secara organik terhubungkan dengan revisionisme filsafatnya dan penolakannya terhadap materialisme dialektik, yang sudah hadir sejak sebelum Revolusi 1905. Lenin selalu antusias ingin menggunakan bantuan dari orang-orang yang bertalenta, dan oleh karenanya dia siap menolerir ide-ide eksentriknya Bogdanov, sementara membuat jelas kalau dia tidak setuju dengannya. Tetapi dalam konteks kontra-revolusi yang menguat, dengan desersi, keputusasaan dan apostasi dari seluruh penjuru, Lenin mafhum kalau dia tidak boleh lagi menolerir kemunduran ini. Akan menjadi bunuh diri kalau kita membiarkan Partai dirasuki oleh mistisisme busuk yang datang dari kaum intelektual kelas-menengah. Ini akan mengarah ke likuidasi partai Marxis, dimulai dari kader-kadernya.

Kita harus berdiri membela teori Marxis, dan Lenin tidak ragu-ragu menegaskan posisinya bahkan bila ini akan berarti pecah dengan kebanyakan pemimpin lainnya. Ketegasan Lenin dalam membela filsafat Marxis telah dikomentari secara ironis oleh para sejarawan non-Marxis. Wajar saja, kalau seorang tidak menerima Marxisme, bagaimana bisa ia memahami perlunya berjuang mempertahankan prinsip-prinsip teori Marxis? Marxisme adalah sebuah doktrin ilmiah yang memiliki logika internalnya sendiri. Mustahil memisahkan tiga komponen Marxisme. Kita tidak bisa menerima sejumlah postulat Marxis sementara menolak yang lainnya, seperti orang memilih dasi atau kaus kaki. Materialisme dialektik adalah inti dari Marxisme, metode Marxisme. Tanpa materialisme dialektik, seluruh Marxisme akan runtuh, atau berubah menjadi dogma yang formalistik dan kaku. Untuk alasan inilah kaum borjuasi dan para penjilatnya di universitas-universitas terus menyerang dialektika Marxis, yang mereka coba sajikan sebagai semacan gagasan mistis atau sofisme tak-berarti. Pada kenyataannya, materialisme dialektika adalah satu-satunya bentuk materialisme yang konsisten, dan oleh karenanya satu-satu cara yang konsisten untuk berjuang melawan segala bentuk mistisisme dan agama. Dan sejarah sains merupakan bukti memadai bahwa sains dan agama adalah cara pandang yang tak terdamaikan satu sama lain. Perjuangan Lenin untuk membela filsafat Marxis tidaklah dipahami oleh banyak aktivis partai pada saat itu. Level teori rata-rata anggota telah menurun karena pertumbuhan partai yang pesat di satu sisi dan hilangnya kader-kader berpengalaman karena penjara dan pengasingan. Anggota yang tersisa tidak memiliki pemahaman Marxisme yang menyeluruh, dan dalam kondisi kerja bawah tanah yang sulit, mereka kebingungan menyaksikan diskusi-diskusi yang tampaknya abstrak dan mengawang-awang di antara para eksil. Ada banyak seruan untuk persatuan dan keluhan mengenai perseteruan faksional. Tetapi tidak ada satupun hal yang bisa menghentikan Lenin.

Mood kaum inteligensia

MatEmpKritisismePeriode reaksi mengekspresikan dirinya tidak hanya dalam aksi penindasan, tetapi dengan cara-cara yang lebih keji. Trauma kekalahan mempengaruhi orang secara psikologis dalam ribuan cara: depresi, pesimisme dan keputusasaan. Kelas buruh tidak hidup dalam keterisolasian dari lapisan-lapisan sosial lainnya. Mereka dikelilingi oleh kelas-kelas lain, terutama kaum borjuasi kecil dalam semua sub-divisinya yang tak terhingga, yang menjadi perantara untuk mood, prasangka dan gagasan kelas penguasa, menyebarnya ke seluruh penjuru masyarakat. Kaum proletariat tidaklah imun dari tekanan kelas-kelas asing yang ditularkan lewat borjuasi kecil. Pengaruh seperti ini memainkan peran yang buruk terutama selama periode reaksi. Kecewa terhadap revolusi dan kelas buruh, selapisan intelektual mundur dari gerakan dan berlindung ke dalam diri mereka sendiri dimana mereka merasa aman dari badai yang mengamuk di luar. Mood reaksioner kaum inteligensia mengekspresikan dirinya dalam berbagai cara – subjektivisme, hedonisme, mistisisme, metafisik, pornografi. Ia menemukan refleksinya dalam sastra, dalam seni Simbolisme, dalam filsafat yang menolak dialektika revolusioner dan sebagai gantinya Kantianisme, dengan elemen subjektifnya yang kuat. Semua ini semata ekspresi dari demoralisasi kaum intelektual, yang mencoba memisahkan diri mereka dari dunia luar dan mencari perlindungan dalam “kehidupan interior”, yang di bawah segala macam label yang norak dan tak bermakna (“Seni untuk Seni”, dan sebagainya) menyediakan dalih nyaman untuk menatap pusar mereka sendiri. Satu sumber menggambarkan situasi yang ada: “Pemuda radikal, anak laki-laki pedagang kelontong, tunduk pada nasibnya dan mengambil posisi di belakang meja bisnis bapaknya. Satu dua mahasiswa sosialis lainnya mengubur dirinya dengan pengetahuan seperti di dalam biara.”

Fenomena ini bukanlah sesuatu yang baru, yang biasa terjadi di setiap periode reaksi ketika harapan kaum inteligensia terhadap revolusi pupus. Setelah jatuhnya Robespierre[5] [Revolusi Prancis 1789], kita saksikan kebangkitan “kaum muda necis”[6], dan kecenderungan ke hedonisme dan egoisme.Fenomena serupa kita saksikan di Inggris setelah restorasi Raja Charles II. Kekalahan revolusi 1848[7] di Prancis mendorong kaum seniman dan penyair yang sebelumnya memiliki tendensi revolusioner ke mistisisme dan  introversi. Manifestasi sastra ini bisa dilihat di Simbolismenya Baudelaire. Bukanlah kebetulan kalau tendensi puisi Rusia yang dominan selama tahun-tahun reaksi Stolypin adalah Simbolisme. Seorang mahasiswa saat itu mengatakan ini: “Sekarang sudah bukan lagi Marx dan Engels, tetapi Nietzsche dan Baudelaire dan Wagner dan Leonardo da Vinci yang kita diskusikan dengan antusias. Kita tidak lagi menyanyikan lagu-lagu revolusioner tetapi panjatkan ke satu sama lain puisi-puisi simbolis kontemporer dan imitasi kami sendiri. Sebuah epos yang baru telah dimulai.”[8] Ciri-ciri utama puisi ini adalah mereka melihat ke dalam diri sendiri. Individu terisolasi memalingkan punggungnya ke dunia luar dan mencari perlindungan dalam kegelapan jiwa. Seperti yang diekspresikan oleh seorang Simbolis Rusia:

“Kita semua sendiri,

Selalu sendiri.

Saya dilahirkan sendiri.

Dan akan mati sendiri.”

Seluruh gerakan dirasuki dengan gagasan religius dan mistik. Sastrawan Fodor Sollogub menulis: “Saya adalah tuhan dari sebuah dunia yang misterius, semua dunia ada dalam mimpi saya sendiri.” Dan V.V. Rozanov: “Semua agama akan hilang, tetapi yang ini sendiri akan tetap ada, duduk saja di atas kursi dan menatap dari kejauhan.”[9] Dan seterusnya dan seterusnya. Fenomena ini tidak terbatas pada sastra saja. Kawan petualang intelektual Kadet menerbitkan sebuah jurnal dengan judul Vekhi (Landmarks) yang berusaha memberikan basis filsafat untuk mood keputusasaan dan pesimisme di antara kaum borjuasi kecil. “Kaum inteligensia harus berhenti memimpikan pembebasan rakyat –kita harus takut pada rakyat lebih dari semua eksekusi yang dilakukan oleh pemerintah, dan kita harus mendukung pemerintahan ini, satu-satunya yang dengan bayonet dan penjaranya masih melindungi kita dari kemarahan rakyat,”  tulis M.O. Gershenzon di halaman Vekhi.[10]

Ada semacam pembagian kerja yang reaksioner. Sementara jurnal-jurnal sayap kanan seperti Vekhidan Russkaya Mysl’ secara terbuka menyoraki dan membenarkan reaksi, di bar-bar Moskow dan St. Petersburg, mantan intelektual Kiri, yang mencari-cari justifikasi pintar untuk pengkhianatan mereka terhadap perjuangan revolusioner, meluncurkan serangan yang lebih halus dan tersembunyi terhadap ideologi Marxisme yang telah begitu mengecewakan mereka. Mood anti-revolusioner yang tidak sadar atau semi-sadar ini, yang marak di antara kaum intelektual, diberikan bentuk sempurnanya oleh para pengkhianat yang sebelumnya adalah basis tendensi Marxisme Legal, seperti Struve, filsuf Bardyayev, A.S. Izgoev, dan D.S. Merezhkovsky. Para ahli “Marxisme” universitas setengah-mentah dan lembek ini, yang bisa kita temui di lingkaran akademis di setiap masa, membayangkan diri mereka sebagai Marxis tanpa memiliki koneksi apapun dengan dunia perjuangan kelas yang nyata. Segera setelah menemui kesulitan, para “kawan petualang” ini langsung kabur dan menjadi apologis reaksi.

Dari kedua musuh ini, sulit mengatakan mana yang lebih buruk. Kemunduran teori ini mengancam masa depan gerakan revolusioner, dengan menggerus fondasinya. Menjadi imperatif untuk memulai perjuangan ideologis yang keras kepala di semua front untuk menyelamatkan Partai dari kehancuran penuh. Bukan kebetulan kalau dialektika jadi sasaran utama dari para kritikus intelektual ini. Kendati tampilannya, dialektika bukanlah doktrin filsafat yang abstrak tanpa implikasi praktis. Dialektika adalah basis teoretis Marxisme, metodenya dan esensi revolusionernya. Menolak materialisme dialektik berarti menolak tidak hanya basis filsafat ilmiah Marxisme, tetapi terutama semua esensi revolusionernya.

Gagasan-gagasan asing ini segera memenetrasi partai buruh. Kantianisme diseludupkan lewat teori Ernst Mach[11] yang populer itu, seorang ahli fisika dan filsuf Austria yang teori-teorinya dipenuhi dengan spirit idealisme subjektif. Dengan kedok ini, pandangan anti-Marxis disebar oleh tendensi ultra-kiri dalam Bolshevisme, termasuk sosok-sosok kepemimpinan seperti Bogdanov, Lunacharsky dan V.S. Bazarov. Seperti biasa, revisionisme diusung di bawah panji mencari gagasan-gagasan baru. Seruan mencari sesuatu yang baru dan orisinil biasanya adalah pembukaan untuk kembali ke gagasan-gagasan lama yang dicomot dari sejarah lama gerakan buruh: anarkisme, Proudhonisme, Kantianisme. Seperti pepatah Prancis: “Plus ça change, plus c’est la meme chose!” (Semakin hal berubah, semakin mereka tetap sama!). Tendensi ini mencoba mengawinkan Marxisme dengan agama! Pendukung tendensi ini memberi diri mereka nama yang fantastis – “Pembangun Tuhan” dan “Pencari Tuhan” – yang mengungkapkan watak mereka yang sesungguhnya. Buku Lunarcharsky, “Religion and Socialism” berargumen kalau teori Marxisme yang “dingin dan impersonal”  tidak bisa dipahami oleh massa, dan mengusulkan penciptaan sebuah “agama baru”, yang bisa menjadi “agama tanpa tuhan”, sebuah “agamanya buruh”, dan seterusnya dan seterusnya. Sosialisme disebut sebagai sebuah “kekuatan religius yang baru dan kuat”.[12] Omong kosong mistis dengan kedok filsafat ini membuat murka Lenin.

Setelah Konferensi Partai yang sengit di Paris pada Desember 1909, dewan editorial yang baru untuk koran Sotsial Demokrat dipilih, yang terdiri dari Lenin, Zinoviev, Kamenev, Martov dan Marchiewski. Sembilan edisi diterbitkan dalam satu tahun ke depan, dan Krupskaya mengingat: “Martov adalah minoritas satu orang dalam dewan editorial yang baru, dan dia sering kali lupa akan Menshevismenya.” Dan dia tambahkan: “Saya ingat Ilyich pernah mengatakan dengan rasa puas bahwa dia senang bekerja dengan Martov, karena ia adalah seorang jurnalis yang sangatlah berbakat. Tetapi ini berubah ketika Dan tiba.”[13]

Banyak orang yang mengira kalau Lenin adalah seorang yang keras, yang mendapat kepuasan dari “menghancurkan” lawan-lawannya dalam polemik. Kesan ini – yang jauh dari kebenaran – didapat dari pengenalan satu-sisi dengan tulisan-tulisan Lenin. Bila kita hanya membaca artikel-artikel publiknya Lenin, dan kebanyakan berkarakter polemik, tentu tampaknya Lenin memperlakukan lawannya dengan kasar. Tetapi ini hanya satu sisi saja. Bila kita baca korespondensi Lenin, sebuah gambaran yang sepenuhnya berbeda muncul. Lenin selalu sangatlah sabar dan setia pada kamerad-kameradnya. Dengan segenap kekuatannya dia akan mencoba meyakinkan kamerad-kameradnya dan membawa mereka serta. Hanya pada analisa terakhir, ketika isunya sudah menjadi publik, terutama bilaini adalah masalah prinsipil, Lenin akan berjuang. Pada titik ini, diplomasi dikesampingkan dan perasaan tidak lagi dibawa-bawa. Bagi Lenin, semua pertimbangan lainnya menjadi sekunder bila ia harus mempertahankan prinsip-prinsip dasar Marxisme. Metode ini dapat dilihat jelas dalam kasus ini

Bukanlah sesuatu yang baru kalau Bogdanov tidak sepenuhnya yakin pada materialisme dialektik. Tetapi selama badai revolusi, hal ini tampak tidak terlalu penting. Selain itu, tidak ada waktu untuk berfilsafat pada saat itu. Tetapi di bawah kondisi reaksi, perbedaan filsafat muncul dalam kapasitas yang sepenuhnya berbeda. Bahayanya menjadi begitu jelas. Tetapi untuk pecah karena masalah ini, dan di bawah situasi yang begitu sulit – ini terlalu sukar untuk dibayangkan. Awalnya, Lenin berusaha memperhalus perbedaan ini, guna menghindari konflik yang merusak dalam kepemimpinan Bolshevik. Krupskaya mengingat: “Pada akhir Maret, Ilyich berpendapat bahwa perseteruan filsafat dapat dan harus dipisahkan dari pengelompokan politik dalam seksi Bolshevik. Dia percaya kalau perseteruan macam ini akan lebih baik daripada yang lainnya sehingga filsafat Bogdanov tidak dapat ditaruh di level yang sama seperti Bolshevisme.”Tetapi kemudian dia tambahkan: “Namun setiap hari semakin jelas kalau kelompok Bolshevik akan pecah.”[14]

Dalam memorinya yang dangkal dan penuh pretensi, N.V. Volsky (Valentinov) bercerita mengenai konflik-konflik filsafat tajam yang mengguncang organisasi Bolshevik pada saat itu.[15] Membaca ini kita akan menyadari kalau Lenin punya kesabaran seperti Ayub[16].Tetapi segala sesuatu ada batasnya. Kendati semua usaha Lenin untuk berdamai, perbedaannya terlalu serius untuk ditutupi. Bogdanov juga memperburuk situasi dengan menulis sebuah artikel yang memuji Mach-isme di korannya Kautsky Die Neue Zeit. Bagi Lenin, ini seperti mengibarkan kain merah ke banteng. Partai Jerman (SPD) adalah pemimpin Internasionale Kedua. Membuat publik debat ini dalam pers partai Jerman adalah provokasi terbuka. Lebih parah lagi, SPD punya posisi yang ambigu mengenai masalah filsafat, dimana teoretikus Sosial Demokratik Austria Friedrich Adler[17] menyanjung Mach-isme sebagai penemuan ilmiah besar. Dengan memberi polemik dalam Partai Rusia ini sebuah profil tinggi secara internasional, Bogdanov menaikkan taruhannya dan memperdalam perpecahan. Sejak itu sudah tidak ada lagi jalan kembali.

Sangat sulit bagi Lenin untuk pecah dengan orang-orang yang telah bekerja dekat sekali dengannya, seperti yang dijelaskan Krupskaya:

“Selama tiga tahun sebelum ini kita telah bekerja sama dengan Bogdanov dan kawan-kawannya, tidak hanya bekerja sama tetapi berjuang bahu membahu. Berjuang untuk tujuan yang sama mempererat orang lebih dari apapun. Ilyich, di satu sisi, sangat mampu menginspirasi orang dengan gagasan-gagasannya, menulari mereka dengan antusiasmenya, sementara pada saat yang sama mengembangkan yang terbaik dari mereka, mengambil dari mereka apa yang telah gagal dilakukan oleh orang lain. Setiap kamerad yang bekerja dengannya seperti memiliki sebagian Ilyich dalam diri mereka, dan inilah mengapa dia sangat dekat dengan mereka.”

“Konflik dalam kelompok Bolshevik adalah masalah yang menegangkan urat syaraf. Saya ingat Lenin satu hari pulang ke rumah setelah berdiskusi dengan kaum Otzovis. Dia tampak seperti orang sakit, dan bahkan lidahnya seperti berubah warna jadi abu-abu. Kami memutuskan agar dia pergi ke Nice selama seminggu untuk menjauhi percekcokan ini dan menikmati matahari. Dia lakukan itu, dan kembali segar bugar.”[18]

Lenin sekarang merasa dia tidak punya pilihan lagi dan harus meluncurkan pertempuran sampai mati melawan para pendukung Bogdanov. Tetapi yang melepas tembakan pertama adalah Plekhanov, bukan Lenin. Artikelnya “Materialism Militans” (Militan Materialism) ditulis sebagian sebagai surat terbuka untuk Bogdanov. Tetapi respons teoritis utama terhadap Bogdanov ditulis oleh Lenin, dalam maha karya filsafatnya “Materialism and Empirio-Criticism”, salah satu karya Marxis modern terutama. Buku ini memainkan peran kunci dalam mempersenjatai ulang secara ideologis kelas buruh Rusia dan memberikan arah pada gerakan, dengan memerangi gagasan-gagasan reaksioner. Lenin memotong kabut mistisisme ini seperti pisau panas yang memotong mentega. Sekarang ini masalah perang sampai akhir. Sikap Lenin yang semakin keras dapat dilihat dari surat-suratnya ke saudara perempuannya Anna, yang mengurus hubungan dengan penerbit“Materialism and Empirio-Criticism”. Yang belakanganini mencoba memperlunak bahasa yang digunakan Lenin. Tetapi Lenin bersikeras kalau tidak boleh ada konsesi sama sekali. Dalam teksnya dia menggunakan kata “popovshchina” (sebuah kata yang tidak bisa diterjemahkan, tetapi kira-kira berarti “kependetaan”) untuk menjelaskan cara pandang para pendukung Empirio-monisme [pendukung Bogdanov]. Ini secara keliru diterjemahkan sebagai “fideisme”, yang selain secara linguistik tidak tepat, jelas adalah usaha penerbit untuk melunakkan nada polemiknya Lenin. Ini direspons keras oleh Lenin, tidak hanya dalam satu surat tetapi dalam beberapa surat, misalnya di satu surat tertanggal 9 Maret 1909:

“Tolong jangan perlunak bagian-bagian yang menyerang Bogdanov dan popovshchina-nya Lunacharsky. Kita telah sepenuhnya pecah dengan mereka. Tidak ada alasan untuk memperlunak serangan kita. Ini sia-sia saja.”[19]

Dan lagi, hanya tiga hari kemudian:

Tolong jangan perlunak bagian manapun yang menyerang Bogdanov, Lucaharsky, dan kelompok mereka. Ini tidak boleh diperlunak. Kamu telah menghapus paragraf mengenai Chernov sebagai musuh yang ‘lebih jujur’ dibandingkan mereka, yang sungguh disayangkan. Pemaknaan yang kamu berikan bukanlah apa yang saya inginkan. Sekarang tidak ada konsistensi dalam serangan saya. Akar permasalahannya adalah ini, bahwa kaum Machis adalah musuh filsafat Marxisme yang tidak jujur, keji dan penakut.”[20]

Perpecahan Bolshevik

Kepemimpinan faksi Bolshevik sekarang secara terbuka pecah. Jurnal mereka, Proletary, memiliki dewan editorial yang “sempit”, yang terdiri dari Lenin, Zinoviev dan Kamenev, yang kolaborasinya dimulai pada tahun-tahun ini, bersama dengan Bogdanov dan anggota KP Goldenberg dan Dubrovinsky. Para editor ini bertemu dengan yang lainnya di Konferensi kecil di Paris, 8-17 Juni 1909. Di antara yang hadir adalah Rykov dan Tomsky, yang di hari depan jadi pemimpin serikat buruh Petersburg. Tujuan konferensi ini adalah mendiskusikan “Otzovisme” dan “Ultimatum-isme”. Dalam debat terbuka, Bogdanov mempertahankan posisinya, tetapi secara praktis terisolasi. Dengan pengecualian Shantser, yang mengambil posisi konsiliasionis, dan dua abstensi (Tomsky dan Goldenberg), delegasi lainnya memberi suara mereka untuk posisi Lenin. Konferensi juga mendiskusikan pandangan filsafat kelompok Bogdanov, yang dikecam. Akan tetapi, harus dicatat di sini bahwa ada yang mendukung dan juga ada yang menentang posisi Lenin. Tidak ada yang aneh dengan keputusan yang diambil lewat suara mayoritas. Gagasan bahwa setiap keputusan harus bulat adalah tradisinya Stalinisme, dengan kultus kepemimpinan yang tak pernah salah, sesuatu yang sepenuhnya asing dalam tradisi demokratik Bolshevisme. Tetapi dalam kasus ini, suara abstain cukup signifikan, dimana banyak aktivis Partai di Rusia yang melihat polemik filsafat ini sebagai kemewahan yang tak bisa mereka pahami di tengah kondisi sulit yang sedang dihadapi Partai sekarang. Bagi orang-orang semacam ini, jujur saja, diskusi teori selalu  “disayangkan”.

Contoh tipikal dari cara berpikir ini adalah Stalin, yang sama sekali gagal memahami apa yang sedang Lenin lakukan. Dalam sebuah surat dari Stalin ke T.G. Tskhkaya, dia mengatakan bahwa Empirio-criticism juga punya sisi baik dan tugas kaum Bolshevik adalah mengembangkan filsafat Marx dan Engels “dalam semangat J. Deitzgen[21], dengan menguasai sisi baik Mach-isme.” Kalimat serampangan seperti ini,seperti banyak lainnya yang mengekspos pemahaman Stalin yang sempit, bodoh dan kasar akan Marxisme, tentu saja dihapus dari Kumpulan Karyanya. Tetapi surat ini selamat di pojok gudang Arsip Partai, yang lalu diangkat oleh penulis Buku Sejarah Partai yang diterbitkan di bawah rejim Kruschev.[22] Kemungkinan besar Stalin tidak pernah membaca barang sebarispun karya Mach, dan, sebagai personifikasi perangkat Partai yang “praktis”, tidak menggubris masalah teori semacam ini yang dianggapnya sebagai sesuatu yang tidak relevan, mengganggu, dan mengalihkan kerja sehari-hari Partai. Kutipan di atas adalah usaha canggungnya untuk mencapai persatuan dengan mengabaikan prinsip.

Akan tetapi, Stalin bukanlah satu-satunya yang gagal memahami pentingnya berjuang demi prinsip-prinsip teori. Sebaliknya, sikap semacam ini cukup luas di antara anggota Bolshevik, termasuk di antara kolaborator terdekat Lenin. Pemimpin serikat buruh Soviet, Mikhail Tomsky, menentang semua filsafat dan menyatakan:”Saya tidak pernah merasa nostalgia mengenai filsafat. Mereka yang berfilsafat ingin lari dari realitas.”[23]

Pada 26 Mei 1908, Kamenev menulis surat ke Bogdanov: “Bila... saya dihadapkan dengan ultimatum untuk bekerja bersama secara politik, kalian harus menyetujui semua langkah yang kami ambil untuk melawan musuh-musuh filsafat kami ... tentu saja, dalam perseteruan melawan kelompok-kelompok ini, saya tidak punya pilihan lain selain mundur dari perseteruan ini.”[24] Kamenev ingin mencari jalan pintas yang paling mudah, dan dia mengusulkan agar organ sentral Partai, Sotsial Demokrat, tidak hanya menerbitkan artikel-artikel yang ditulis oleh para pendukung materialisme dialektik, tetapi juga mereka yang menentangnya. Ini diusulkannya ketika Lenin sudah mencapai kesimpulan bahwa Bolshevik harus pecah sepenuhnya dari Bogdanov. Pada musim panas 1908, Lenin menulis ke Vorovsky, yang telah bekerja dengannya di koran Vperyod dan pada 1905, dengan kata-kata yang jelas mengatakan bahwa perpecahan terbuka dengan kelompokBogdanov hanya masalah waktu saja. Lenin bahkan membayangkan bahwa kemungkinan dia akan menjadi minoritas, dan bila demikian, dia yang akan pecah:

“Kawan,

“Terima kasih atas suratnya. Dua “kecurigaan”mu keliru. Saya tidak menderita sakit saraf, tetapi posisi kita sulit. Perpecahan dengan Bogdanov sudah pasti akan terjadi. Penyebab sesungguhnya adalah dia tersinggung oleh kritik tajam terhadap pandangan filsafatnya di pertemuan-pertemuan (bukan sama sekali di pers). Sekarang Bogdanov memburu setiap perbedaan pendapat yang ada. Bersama dengan Alexinsky, yang membuat onar dan saya terpaksa memutus semua hubungan dengannya, dia telah menyeret masalah boikot.

“Mereka mencoba melakukan perpecahan di atas basis empirio-monistik dan masalah boikot. Badai akan pecah dalam waktu dekat. Benturan di konferensi mendatang sudah tak terelakkan. Perpecahan kemungkinan besar akan terjadi. Saya akan meninggalkan faksi segera setelah kebijakan ‘Kiri’ dan ‘boikot-isme’ menang.”[25]

Selama periode ini, Lenin terisolasi.Walaupun dukungan kaum Sosial Demokrat Polandia dan Latvia memberi mayoritas untuk Bolshevik, tetapi di dalam faksi Bolshevik Lenin menemui dirinya sebagai minoritas. Kebanyakan kolaborator terdekatnya – Bogdanov, Lunacharsky, Lyadov – adalah Otzovis. Generasi pemimpin baru cenderung konsiliasionis. Lenin, Krupskaya dan orang-orang yang akan menjadi kawan terdekat mereka dalam tahun-tahun mendatang – Zinoviev dan Kamenev – terpaksa mengungsi ke Swiss. Sebagai seorang optimis yang kukuh, Lenin tidak biasanya mengalami depresi. Tetapi ketika kembali ke Jenewa pada Januari 1908, sudah ada tanda-tanda keletihan. Atmosfer suram dan depresi merasuki setiap baris memoarnya Krupskaya: “Jenewa tampak suram.Tidak ada salju sama sekali, dan angin dingin menghembus. Kartu pos dengan pemandangan air beku di pinggiran Danau Jenewa dijajakan. Kota tampak mati dan kosong. Di antara kamerad yang tinggal di sana saat itu adalah Mikha Tskhakaya, V. Karpinsky dan Olga Ravich. Mikha Tskhakaya menghuni sebuah kamar yang sempit dan kesulitan bangun ketika kami tiba. Perbincangan kami muram. Keluarga Karpinsky saat itu tinggal dalam perpustakaan Rusia (yang sebelumnya tempat tinggal Kuklin), dan Karpinsky adalah manajernya. Dia menderita sakit kepala yang parah ketika kami tiba dan terus bergerenyit. Semua jendela ditutup karena sinar matahari membuatnya sakit kepala. Ketika kami kembali ke rumah dari tempatnya Karpinsky, melewati jalan-jalan sepi Jenewa, yang sudah menjadi begitu tak bersahabat, Ilyich berujar: ‘Saya merasa seperti datang kemari untuk dikubur’.”[26]

Perasaan sangsi Lenin dapat dimaklumi. Situasi kaum eksil Rusia jauh lebih buruk daripada sebelumnya. Uang sudah habis, yang menciptakan kesulitan luar biasa bagi orang-orang yang sudah terhantam secara mental dan fisik. Kaum Bolshevik paling banyak ditangkap selama periode reaksi, karena kaum likuidator membatasi dirinya kebanyakan pada aktivitas-aktivitas legal. Organisasi Bolshevik punya dana lebih sedikit daripada Menshevik, yang selalu dapat mengandalkan donasi dari kaum intelektual yang berada. Terutama karena alasan ini, Lenin menolerir dilanjutkannya “ekspropriasi” [perampokan bank] lebih lama daripada yang bisa dibenarkan dari sudut pandang politik. Pada Januari 1908, Lenin menulis sebuah surat pada Theodore Rothstein, seorang sosialis Inggris, yang menggarisbawahi kesulitan keuangan organisasi yang parah: “Dihancurkannya organisasi Finlandia, tertangkapnya banyak kamerad, pembredelan koran, keperluan memindahkan mesin cetak dan mengirim banyak kamerad ke luar negeri – semua ini menuntut pengeluaran besar yang tak terduga. Kesulitan finans Partai semakinparah karena selama dua tahun terakhir semua orang sudah jadi tidak terbiasa melakukan kerja ilegal dan telah ‘dimanjakan’ oleh aktivitas legal atau semi-legal. Organisasi-organisasi bawah tanah harus diorganisir hampir dari nol kembali. Ini membutuhkan banyak uang. Dan semua kaum intelektual dan elemen-elemen filistin meninggalkan Partai. Eksodus kaum intelektual sangatlah besar. Yang tersisa adalah proletar murni yang tidak punya kesempatan untuk menggalang dana secara terbuka.”[27]

Kekurangan dana yang akut berarti tidak ada lagi uang untuk membayar sejumlah besar eksil yang mengasingkan diri ke luar negeri. Pada pertengahan Desember 1908, Lenin pindah ke Paris dengan ibu mertuanya dan Krupskaya. Kehidupan kaum eksil di Paris bahkan lebih parah daripada di Jenewa karena banyak sekali mereka di sana. Dana darurat digalang, tetapi jumlahnya sangat menyedihkan dan hanya dapat digunakan untuk kasus ekstrem. Lenin mengais nafkah dengan menulis artikel dan juga sejumlah kecil uang yang dapat dikirim oleh ibunya dari waktu ke waktu. Kemiskinan, depresi dan sakit-sakitan adalah penderitaan yang kerap menjangkiti kaum eksil. Beberapa dari mereka jadi gila dan berakhir di rumah sakit jiwa. Yang lain tergolek sendirian di ranjang-ranjang rumah sakit, atau di dasar sungai Seine. Ini adalah masa yang frustrasi dan sepi. Krupskaya mengingat kisah seorang laki-laki yang dulu berjuang di pemberontakan Moskow dan sekarang tinggal di wilayah suburban kelas buruh Paris, dan hidup menyendiri. Satu hari sarafnya putus dan dia mulai mengoceh tak jelas. Dia menjadi gila karena kelaparan dan ibunya Krupskaya memberinya makan: “Ilyich, pucat dengan kesedihan, duduk di samping laki-laki itu,” ingat Krupskaya. “Saya pergi mencari psikiater, yang adalah kenalan kami, dan psikiater ini datang dan berbincang dengan sang pasien, dan mengatakan bahwa ini adalah kasus gila yang serius karena kelaparan, yang belum mencapai tahapan terminal; ini akan berkembang menjadi mania, dan lalu pasien kemungkinan besar akan bunuh diri.”[28] Demikianlah nasib kaum eksil Rusia selama tahun-tahun gelap reaksi Stolypin.

Walaupun Kongres Kelima menandai satu langkah maju penting bagi kaum Bolshevik, ini tidak mengubah kenyataan kalau gerakan dalam Rusia sedang menghadapi masa-masa yang sangat sulit. Kaum Bolshevik sedang meraih telinga lapisan-lapisan buruh dan muda yang paling radikal, tetapi gambaran umum gerakan adalah muram. Kudeta 3 Juni membuka periode reaksi. Pada 1907, jumlah keanggotaan Partai adalah 100 ribu. Tetapi jumlah ini segera anjlok. Hanya di Kaukasus penurunannya tidak begitu parah, tetapi ini adalah basisnya Menshevisme. Jumlah anggota organisasi Bolshevik di Petersburg adalah 6778 pada awal 1907. Satu tahun kemudian, hanya setengahnya saja yang tersisa, 3000. Pada awal 1909, hanya 1000 anggota tersisa. Pada musim semi 1909, Okhrana melaporkan bahwa anggota Bolshevik di Petersburg hanya 506 anggota saja.[29] Penggerebekan polisi terus memporakporanda organisasi bawah tanah Partai. Selama tiga bulan pertama 1908, polisi menyerang lagi, kali ini menyasar para organisator Partai di sejumlah wilayah Moskow dan Petersburg. Seorang anggota komite Bolshevik Petersburg terpaksa mengakui bahwa setelah penangkapan pada musim semi, “kerja di distrik-distrik hampir terhenti.”[30]

Ini juga belum menceritakan semuanya. Konflik dan perpecahan internal berarti Lenin hampir terisolasi sepenuhnya dalam faksinya sendiri. Setelah dikeluarkannya kelompok Bogdanov, tendensi yang mendominasi kepemimpinan adalah faksi konsiliasionis, yang semakin tidak sudi mengikuti Lenin. Di kemudian hari, Trotsky menjelaskan situasi selama tahun-tahun muram tersebut dalam sebuah wawancara dengan C.L.R. James (“Johnson”):

“James: Ada berapa anggota Partai Bolshevik?”

“Trotsky: Pada 1910, di seluruh Rusia ada beberapa lusin orang. Beberapa ada di Siberia. Tetapi mereka tidak terorganisir. Orang-orang yang bisa dihubungi oleh Lenin lewat surat menyurat atau lewat agen paling banyak sekitar 30 atau 40 orang saja. Namun, tradisi dan gagasan di antara buruh-buruh yang lebih maju adalah kapital besar yang nantinya digunakan selama revolusi [1917], tetapi secara praktis pada saat itu kami benar-benar terisolasi.”[31]

Ini juga diakui oleh Zinoviev, yang menulis:

“Tahun-tahun kontra-revolusi Stolypin adalah masa paling kritis dan paling berbahaya dalam sejarah Partai. Melihat ke belakang sekarang, kita dapat mengatakan tanpa ragu-ragu kalau selama masa-masa yang sulit itu Partai sebagai organisasi tidaklah eksis: Partai telah terpecah-pecah menjadi lingkaran-lingkaran kecil yang tidak berbeda dengan lingkaran-lingkaran yang ada pada 1880an dan awal 1890an, dan satu-satunya perbedaan adalah atmosfer depresi hebat akibat kekalahan kejam yang dialami revolusi [1905].”[32]

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi Partai adalah tanpa preseden. “Dalam satu tahun sejak Kongres Kelima,” tulis Schapiro, “di banyak organisasi yang awalnya diperkirakan anggotanya ada dalam jumlah ratusan, sekarang telah menjadi puluhan saja.” Dan penulis yang sama memperkirakan bahwa “pada musim panas 1909 hanya lima atau enam komite Bolshevik dari semuanya yang berfungsi.”[33]Gambaran yang sama juga ditulis oleh banyak penulis lainnya. “Tidak lebih dari lima atau enam komite Bolshevik yang masih beroperasi di Rusia, dan organisasi Moskow hanya bisa mengklaim 150 anggota pada akhir 1909,” tulis Stephen Cohen.[34]

Krupskaya mengingat posisi mereka:

“Ini adalah masa-masa yang sulit. Di Rusia, organisasi-organisasi pecah berantakan. Polisi, dengan bantuan agen provokator, telah menangkapi para pemimpin partai. Pertemuan dan konferensi besar menjadi mustahil digelar. Tidak mudah bagi orang-orang yang baru saja tampil di publik sekarang harus ke bawah tanah. Pada musim semi (April-Mei) Kamenev dan Warski (seorang Sosial Demokrat Polandia dan teman dekat Dzerzhinsky, Tyszka dan Rosa Luxemburg) ditangkap di jalan. Beberapa hari kemudian Zinoviev, dan lalu N.A. Rozhkov (seorang anggota KP Bolshevik) ditangkap juga di jalan. Massa mundur. Mereka ingin mengkaji ulang banyak hal, mencoba memahami apa yang sedang terjadi; agitasi dalam bentuk umum sudah tidak lagi menarik dan memuaskan siapapun. Orang-orang kembali bergabung ke lingkaran-lingkaran studi, tetapi tidak ada yang memimpin mereka. Mood ini menjadi lahan subur untuk otzovisme.”[35]

Dengan susah payah, kantor pusat Bolshevik mempertahankan kontak mereka dengan kelompok-kelompok lokal di bawah tanah Rusia. Osip Piatnisky sekali lagi menemui dirinya bertanggung jawab mengirim literatur ilegal ke Rusia, terutama jurnal-jurnal Bolshevik, Proletarii dan  Sotsial Demokrat – seperti dulu kala sebelum 1905. Pusat di luar negeri ada di Leipzig, Jerman, dan pusat dalam negeri di Minsk. Dan seperti sebelumnya, kerjanya diawasi oleh polisi rahasia Okhrana, dan seorang intel bernama Zhitomirsky berhasil menyusupi posisi kunci dalam organisasi Bolshevik di luar negeri. Kongres Kelima telah menyepakati metode baru untuk memilih kepemimpinan Partai di semua tingkatan. Mengingat masalah keamanan yang akut ini, ini harus mengikutsertakan metode penunjukan atau kooptasi. Dengan ditangkapnya para pimpinan, yang secara efisien dipandu oleh intel-intel seperti Zhitomirsky, orang-orang baru harus dikooptasi untuk menggantikan mereka.

Sepucuk surat dari Ural memberi gambaran mengenai situasi ini: “Kekuatan ideologis kita meleleh seperti salju. Elemen-elemen yang menjauhi organisasi-organisasi ilegal ... dan yang bergabung ke Partai hanya pada masa pasang naik dan masa yang lebih bebas pada saat itu, telah meninggalkan Partai kita.”[36] Sebuah artikel di koran sentral meringkas kondisi gerakan seperti ini: “Kaum intelektual, seperti yang kita ketahui, dalam beberapa bulan terakhir telah meninggalkan massa.” Mengomentari kondisi ini, Lenin menulis: “Tetapi pembersihan Partai dari elemen-elemen intelektual semi-proletar dan semi-borjuis-kecil ini mulai membangkitkan kehidupan baru bagi elemen yang sungguh-sungguh proletar, yang berhimpun selama masa perjuangan heroik massa proletar. Organisasi Kulebaki, yang seperti dikutip dari laporan sebelumnya ada dalam kondisi muram, dan bahkan hampir ‘mati’, ternyata telah bangkit kembali. ‘Ranting-ranting partai di antara buruh [seperti yang kita baca dalam laporan ini], yang tersebar dalam jumlah besar di wilayah ini, yang kebanyakan tanpa kaum intelektual, tanpa literatur, bahkan tanpa koneksi dengan Pusat Partai, menolak mati. ... Jumlah anggota terorganisir bukannya berkurang tetapi bertambah. ... Tidak ada kaum intelektual, dan kaum buruh sendiri, yang paling sadar kelas di antara mereka, harus melakukan kerja propaganda.’ Dan kesimpulan umum yang diraih adalah ‘di banyak tempat, kerja-kerja penting diambil alih oleh buruh-buruh maju karena para intelektual telah kabur.”[37]

Namun ini ada kekurangannya. Partai telah kehilangan banyak anggotanya yang paling berpengalaman, dengan satu cara atau lainnya. Orang-orang baru kebanyakan masih mentah dan tidak berpengalaman dalam kerja bawah tanah, yang membuat mereka sasaran empuk polisi. Di lain sisi, lebih mudah sekarang bagi polisi untuk menyusup masuk ke komite-komite bawah tanah, yang dalam waktu pendek penuh dengan mata-mata dan provokator. Untuk memperketat keamanan, metode pemilihan diubah sesuai dengan kondisi baru ini. Organisasi-organisasi daerah punya cara-cara yang berbeda untuk memilih komite mereka, yang mencerminkan tuntutan kerja ilegal. Di Moskow, alih-alih memilih komite di pertemuan seluruh-kota, mereka sekarang dipilih oleh pertemuan-pertemuan lokal yang lebih kecil. Awalnya ada ranting partai, komite dan grup partai di semua pabrik-pabrik besar, tetapi seiring waktu polisi meningkatkan pemburuan mereka. Komite-komite partai semakin terganggu kerjanya dan keanggotaan aktif menurun. Sesuai aturan komite distrik seharusnya bertemu setiap minggu, sementara eksekutif komite distrik bertemu setiap minggu. Tetapi amat diragukan kalau aturan ini bisa dipenuhi di semua wilayah. Secara umum hanya segelintir anggota yang terlibat dan kelompok-kelompok yang masih aktif cenderung berfungsi secara terpisah.

Perubahan-perubahan ini tidak melindungi Partai dari jaring-jaring mata-mata dan provokator yang semakin melebar, yang dalam iklim demoralisasi yang ada berhasil menginfiltrasi bahkan komite-komite dan posisi-posisi yang paling bertanggung jawab. “Polisi membaca surat-surat rahasia yang ditulis dengan tinta kasatmata dan meningkatkan populasi penjara. Berkurangnya anggota revolusioner secara tak terelakkan menurunkan standar Komite. Karena tidak ada pilihan anggota lain, ini memudahkan intel menyusup masuk ke posisi-posisi penting dalam kerja bawah tanah. Dengan jentik jarinya agen rahasia ini menjebloskan ke dalam penjara siapa saja yang menghalanginya. Usaha untuk membersihkan organisasi dari elemen-elemen yang mencurigakan segera berakhir dengan pencidukan massa oleh polisi. Atmosfer saling curiga dan tidak percaya mematikan semua inisiatif. Setelah sejumlah penangkapan yang terencana, provokator Kukushkin berhasil menjadi kepala organisasi distrik Moskow pada 1910. ‘Mimpi Okhrana terwujud,’ tulisan seorang aktivis, ‘Agen-agen rahasia sekarang menjadi kepala dari semua organisasi Moskow.’ Situasi di Petersburg tidak lebih baik. ‘Kepemimpinan tampaknya sudah remuk, tidak ada cara untuk memulihkannya, provokasi menggerogoti organ-organ vital kita, organisasi luluh lantak...’ Pada 1909 Rusia masih punya lima atau enam organisasi aktif; tetapi bahkan mereka tak lama kemudian menghilang. Keanggotaan organisasi distrik Moskow, yang pada 1908 mencapai 500, anjlok ke 250 pada pertengahan tahun selanjutnya, dan setengah tahun kemudian hanya tersisa 150; pada 1910 organisasi sudah tidak ada lagi.” Pada awal 1909 Krupskaya menulis dengan muram: “Kita tidak punya orang lagi. Semua tersebar di penjara-penjara dan tempat-tempat pengasingan.”[38] Pada akhir Maret 1910, Lenin mengeluh: “Ada beberapa kekuatan di Rusia. Ah, bila saja kita bisa mengirim dari sini seorang pekerja Partai yang baik ke Komite Pusat atau untuk menggelar konferensi! Tetapi di sini semua orang adalah ‘orang lama yang sudah usang’.”[39]

Menshevik Pro-Partai

Sementara, kaum Menshevik punya masalah mereka sendiri. Bahaya likuidasionisme menjadi semakin terang benderang, tidak hanya bagi Bolshevik, tetapi juga di antara anggota akar rumput Menshevik. Oportunisme fraksi Duma membuat geram buruh-buruh Menshevik. Pada akhir 1908, sebuah proses perpecahan internal berlangsung di barisan mereka. Banyak buruh Menshevik yang pecah dari kaum likuidator yang semakin terisolasi secara politik. “Menshevik Pro-Partai”, yang dipimpin oleh Plekhanov, membela mempertahankan keberadaan organisasi partai bawah tanah, dan secara alami bergravitasi ke Bolshevik. Segera setelah Kongres Kelima, Plekhanov meninggalkan dewan editorial Golos Sotsial Demokrat (Suara Sosial Demokrat) dan meluncurkan korannya sendiri, Dnevnik (Catatan Harian), dan dengan koran ini dia meluncurkan serangan tajam terhadap “para pengkhianat legalistik”.  Kelompok-kelompok lokal independen yang mendukung posisi Plekhanov bermunculan, terutama di antara eksil di Paris, Jenewa, Nice dan Sanremo.

Perkembangan tak-terduga ini membuat Lenin lega. Tidak hanya tampaknya ada harapan untuk menyatukan kembali sayap revolusioner Partai di atas basis yang prinsipil, tetapi ini dapat secara fundamental mengubah perimbangan kekuatan di antara faksi-faksi yang bermusuhan. Kendati semua konflik dan kata-kata kasar di masa lalu, Lenin menunjukkan antusiasme besar akan kembalinya mentor lamanya ke kamp revolusioner. Lenin mungkin berharap bahwa unifikasi dengan Plekhanov dapat membantu dia melawan tendensi ultra-kiri dalam faksinya sendiri. Dalam negosiasi sensitif dengan kaum Menshevik Pro-Partai, Lenin menunjukkan talenta dan sensitivitasnya. Walaupun Bolshevik anggotanya jauh lebih besar dibandingkan dengan Menshevik Pro-Partai, Lenin sangat hati-hati untuk tidak melebih-lebihkan perbedaan ini, tetapi melihatnya sebagai dua kelompok yang setara. Dia harus mempertimbangkan sensitivitas Plekhanov yang mudah tersinggung, yang menulis: “Yang saya maksud adalah merapatnya dua faksi, dan bukan Menshevik yang beralih ke cara pandang Bolshevik.”[40] Lenin menunjukkan dirinya sangat bijak dalam hal ini: “Saya berbicara mengenai sebuah kesepakatan bersama, dan bukan Menshevik beralih ke cara pandang Bolshevik,” tulisnya.[41]

Inilah Lenin yang sesungguhnya, 1000 tahun cahaya jauh dari apa yang secara sistematis coba digambarkan oleh para kritikus keji dan culas: karikatur Lenin sebagai seorang sektarian dan fanatik yang kaku dan tak berbelas kasihan. Di lain pihak, bagi Lenin pertimbangan diplomasi tidak pernah lebih penting dari kejelasan politik. Apa yang diperlukan adalah “sebuah kesepakatan di atas basis perjuangan demi Partai dan prinsip Partai melawan likuidasionisme, tanpa kompromi ideologis apapun, tanpa mengabaikan perbedaan-perbedaan taktikal dan opini lainnya dalam batasan garis Partai.”[42]

Dengan membentuk satu blok dengan Lenin untuk memerangi baik oportunisme maupun ultra-kiri-isme, bapak Marxisme Rusia memberi layanannya yang terakhir untuk perjuangan revolusioner kelas buruh dan partainya. Plekhanov hampir pecah dengan Menshevisme. Dia mendukung Lenin melawan kaum likuidator dan kaum Otzovis. Tetapi pada akhirnya ternyata dia tidak mampu menyebrang sepenuhnya. Dia menentang persatuan dengan Bolshevik, dan ini menjadi halangan yang tak terlampaui, yang mencegah kaum Menshevik Pro-Partai untuk menyebrang ke kamp revolusionisme konsisten. Skenario semacam ini telah terjadi berulang kali dalam sejarah gerakan buruh internasional. Di bawah kondisi-kondisi tertentu, kaum reformis atau kaum sentris yang jujur dapat bertransisi ke kamp Marxisme revolusioner. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa skenario seperti ini adalah pengecualian. Lebih sering, kebiasaan lama dan inersia dari periode stagnasi yang panjang, dan kebimbangan serta keambiguan yang mengalir dari kebingungan dan keengganan untuk mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, menjadi rem kuat yang mencegah proses transisi ini mencapai kesimpulan akhirnya. Individu-individu ini, bahkan yang terbaik dari antara mereka, seperti Plekhanov dan Martov, cenderung mundur pada momen kebenaran dan tenggelam ke dalam rawa politik oportunisme.

Untuk sementara waktu, front persatuan dengan kelompok Plekhanov memberi semangat baru bagi para pendukung Lenin. Ordzhonikidze menulis ke Lenin: “Saya menyambut pergantian sisi Plekhanov dengan seluruh jiwa saya... Bila dia sekarang sungguh-sungguh mengambil posisi tegas, tak diragukan ini akan menjadi nilai plus bagi Partai.”[43] Sayang, ini tak ditakdirkan. Kesepakatan Plekhanov dengan Bolshevisme hampir sepenuhnya terbatas pada masalah organisasional. Secara politik, dia masih berada di orbit Menshevisme, dan enggan untuk sepenuhnya memutuskan tali pusar yang mengikatnya ke kawan-kawan lamanya. Niscaya, dia bergeser ke kanan sekali lagi, dan kali ini untuk selamanya. Selama Perang Dunia Pertama, dia menemui dirinya dalam kamp patriotisme reaksioner. Dari sudut pandang revolusi, tokoh besar ini telah mati. Tetapi untuk sementara waktu, kolaborasi antara kaum Leninis dan “Plekhanovite” memberi dampak positif. Banyak buruh “Menshevik Pro-Partai” di kemudian hari menjadi Bolshevik.

Ketegangan di Proletary

Prioritas pertama yang paling menuntut adalah menyelesaikan konflik yang mendidih dengan kaum Otzovis ultra-kiri. Pada Juni 1909, dewan editorial luar biasaProletary bertemu di Paris. Lenin berharap menggunakan pertemuan ini untuk memperkokoh kepemimpinan faksi Bolshevik. Pada kenyataannya, ini adalah pertemuan sentra faksional Bolshevik. Pada pertemuan ini, ada pertentangan mengenai satu masalah penting, yang secara penuh mengungkapkan perbedaan antara Leninisme dan ultra-kiri-isme. Bogdanov menyerukan digelarnya “sebuah kongres yang murni Bolshevik”, dalam kata lain dia ingin Bolshevik pecah dari Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia dan membentuk sebuah partai terpisah. Tuntutan “kongres yang murni Bolshevik” didukung oleh kaum Bolshevik ultra-kiri lainnya: Shantser, Lyadov dan Sokolov (Volsky). Tuntutan doktriner untuk “kemandirian” partai revolusioner, tidak peduli itu partai yang beranggotakan dua orang atau dua juta orang, adalah satu tuntutan yang terus-menerus diserukan oleh kaum ultra-kiri sepanjang sejarah. Ini tidak ada kesamaannya sama sekali dengan taktik Lenin yang fleksibel dan cerdik, yang selalu dipandu oleh kebutuhan untuk bersentuhan dengan massa. Tugas pertama adalah memenangkan lapisan kelas buruh yang paling maju, yang di Rusia diorganisir oleh PBSDR. Bangkitnya tendensi likuidasionis sayap-kanan dalam PBSDR bukanlah argumen untuk memecah sayap revolusioner darinya, tetapi justru kita harus melipatgandakan perjuangan melawan sayap kanan dalam partai dan memenangkan massa dari pengaruh mereka. Masa depan revolusi di Rusia tergantung pada hasil perjuangan ini.

Argumen Bogdanov untuk pecah dari PBSDR guna membangun “kemandirian” partai revolusioner salah total. Pada kenyataannya kaum Bolshevik selalu mandiri, dalam artian mereka tidak pernah menjual program, kebijakan dan teori revolusioner mereka. Tetapi ini saja tidak cukup. Kita harus mencari cara untuk membawa gagasan-gagasan revolusioner ini ke kelas buruh, dimulai dari lapisan yang paling maju dan terorganisir. Selama sebagian besar buruh terorganisir di Rusia masih ada di bawah pengaruh Menshevik, kita harus melanjutkan perjuangan dalam PBSDR, perjuangan untuk memenangkan mayoritas. Inilah garisnya Lenin. Tetapi untuk melakukan ini, kita harus mengorganisir sayap revolusioner secara terpisah, sebagai sebuah faksi dalam PBSDR. Kaum Bolshevik punya pusat mereka sendiri, koran mereka sendiri untuk membela posisi revolusioner mereka dan meluncurkan perjuangan yang konsisten melawan sayap kanan partai. Butuh “kemandirian” seperti apa lagi? Deklarasi resmi pembentukan sebuah partai terpisah? Ini hanya akan jadi langkah hampa, atau bahkan lebih parah, petualangan. Bila garis ultra-kiri ini diterima, kaum Bolshevik akan hancur menjadi sektarian yang impoten dan menyerahkan PBSDR ke kaum reformis. Posisi Bogdanov mengenai isu ini adalah manifestasi lanjut dari mood ultra-kiri yang lahir dari ketidaksabaran dan kefrustrasian.

Pertemuan dewan editorial ini menolak tuntutan “kongres yang murni Bolshevik”, dan juga menegaskan perlunya bersatu dengan Menshevik Pro-Partai. Menurut sejarawan Soviet, pertemuan ini “memecat” Bogdanov, tetapi ini tidak benar. Kendati sikap Bogdanov dan pengikutnya yang sangat provokatif, mereka tidak dikeluarkan dari Bolshevik di pertemuan Paris, yang hanya mengeluarkan pernyataan kalau faksi Bolshevik “tidak bertanggung jawab” atas aktivitas mereka. Disosiasi publik ini adalah prasyarat persatuan dengan Menshevik Pro-Partai. Tetapi bagaimanapun juga, perpecahan jelas tak terelakkan. Pertemuan ini juga memvoting sebuah resolusi yang memberi instruksi pada para perwakilan Proletary di organ sentral untuk “mengambil posisi tegas membela materialisme dialektika Marx dan Engels dalam masalah filsafat, bila dibutuhkan, di organ sentral.” Posisi ini tidak bulat. Tomsky menolaknya, dan Kamenev, seperti biasanya, abstain.

Setelah pertemuan dewan editorial luar biasa Proletary di Paris, situasi tidak membaik, tetapi justru dengan cepat memburuk menjadi konflik terbuka. Kelompok Bogdanov tidak punya niat untuk menerima keputusan mayoritas. Mereka meluncurkan ofensif dengan menerbitkan sebuah selebaran faksional, yang membela posisi minoritas dan menentang keputusan pertemuan. Sebagai akibat dari pembangkangan ini, Bogdanov dipecat dari faksi Bolshevik. “Kelompok Bolshevik terpecah belah,” tulis Krupskaya.[44] Lunacharsky mengeluh mengenai “ketidaksabaran” Lenin, sementara Bogdanov menerbitkan laporan yang tendensius mengenai diskusi yang berlangsung. Kaum Vperyodis membalas dengan meluncurkan konflik terbuka dan publik dengan faksi mayoritas Bolshevik. Mereka mengajukan sebuah resolusi di komite Petersburg, yakni menolak keterlibatan dalam kampanye pemilihan Duma. Pendukung Lenin membalas dengan menggelar pertemuan agregat dengan hadirin yang lebih banyak, dimana mereka berhasil mematahkan resolusi ini. Sverdlov, yang bebas dari penjara pada musim gugur 1909, memainkan peran penting dalam organisasi Moskow. Ini adalah bantuan yang besar. Tetapi posisi Lenin umumnya sangat rentan.

Setelah konferensi. kaum Otzovis berhimpun kembali dan membentuk sentra faksional mereka sendiri. Menyadari kalau mereka tidak akan bisa mengalahkan Lenin dengan mudah di debat terbuka, kelompok Bogdanov mengambil peluang dengan kekayaan pribadi dan koneksinya Gorky, yang bersimpati dengan pandangan filsafat mereka, untuk mengorganisir sebuah sekolah faksional di pulau Capri, Italia. Bogdanov dan Lunacharsky juga meluncurkan koran faksional mereka sendiri, Vperyod (Forward). Lenin mencoba membawa perseteruan ini ke dalam kamp Bogdanov, dengan mengirim orang ke sekolah Capri. Tetapi ini hanya memperdalam perpecahan. Buruh Rusia geram dengan tingkah laku kaum Vperyodis, tetapi umumnya mereka kehilangan kesabaran mereka dengan semua kaum eksil dan perseteruan filsafat mereka yang tampaknya jauh dari masalah-masalah riil di lapangan. Kendati semua ini, Lenin mencoba semampunya untuk menyelamatkan beberapa pendukung Bogdanov dari diri mereka sendiri. Berkebalikan dengan gambaran Lenin sebagai seorang faksionalis yang kejam, Krupskaya mengingat:

“Ilyich memukul balik ketika dia diserang, dan membela cara pandangnya, tetapi ketika masalah baru harus diselesaikan dan ada kemungkinan bekerja sama dengan musuhnya, Ilyich mampu mendekati musuhnya yangkemarin sebagai seorang kamerad. Dia tidak harus bersusah payah melakukan ini. Di sini kita temui kelebihan besar Lenin. Walaupun dia sangat ketat menjaga prinsipnya, dia adalah seorang yang optimis ketika berhubungan dengan orang lain. Kendati pertimbangan yang kadang-kadang keliru, optimisme ini umumnya sangat berguna bagi perjuangan. Tetapi ketika tidak ada kesepakatan dalam hal-hal prinsipil, tidak akan ada rekonsiliasi.”[45]

Pada Juni 1909 dia menulis di Proletary akan keyakinannya bahwa “kamerad Lyadov, yang telah bekerja selama bertahun-tahun dalam barisan Sosial Demokrasi revolusioner tidak akan bertahan lama dalam faksi ‘Otzovis” pembangun-Tuhan, tetapi akan kembali ke Partai.” Detil ini menunjukkan sekali lagi sisi Lenin yang coba dikubur oleh para pengkritik Bolshevisme, yakni sisi tolerannya, kesetiaan dan kesabarannya, kualitas yang jelas dibutuhkan oleh setiap pemimpin sejati. Gorky mengingat bagaimana Lenin mengatakan ini padanya: “Lunacharsky akan kembali ke partai. Dia tidak seindividualistik dibandingkan dua yang lainnya [Bogdanov dan Bazarov]. Dia sangat bertalenta. Saya menyukainya, kalau kau ingin tahu. Saya menyayanginya sebagai seorang kamerad yang luar biasa!”[46]

 _____________


[1] See Trotsky, Stalin, hal. 110.

[2] Quoted in Istoriya KPSS, vol. 2, hal. 251-2.

[3] LCW, Those who would liquidate us, vol. 17, hal. 71-2.

[4] Filsafat “membangun-Tuhan” adalah sebuah tendensi filsafat reaksioner yang muncul selama periode reaksi Stolypin. Para pendukungnya ingin menghubungkan gagasan Tuhan dengan perjuangan sosialisme, seperti yang misalnya ditulis oleh Gorky: “Tuhan adalah kompleksitas dari gagasan-gagasan itu, yang dikembangkan oleh suku, nasion, umat manusia, yang membangkitkan dan mengorganisir perasaan-perasaan sosial, dengan tujuan menghubungkan individu pada masyarakat, dan memangkas individualisme kebinatangan.” (Dikutip di Surat Lenin ke Maxim Gorky, LCW, Volume 35, hal 127-129). Lenin mengkritik gagasan ini sebagai reaksioner, idealis dan borjuis.

[5]Maximilien Robespierre (1758-1794) adalah tokoh ternama dalam Revolusi Prancis 1789. Dia mewakilkan sayap kiri radikal dari Revolusi Prancis (Jacobin) yang tidak berkompromi dengan kaum aristokrasi. Dia akhirnya dieksekusi oleh reaksi Thermidor

[6] Setelah jatuhnya Robespierre dan kaum Jacobin pada 1794, sekelompok kaum muda berpakaian necis mengorganisir diri mereka sebagai preman atau tukang pukul Reaksi Thermidor. Kaum muda ini terdiri dari anak-anak kelas menengah, pejabat rendah dan tukang kelontong kecil.

[7]Revolusi Prancis 1848 merobohkan kekuasaan monarki Raja Louis-Philippe dan membentuk Republik Kedua Prancis. Di bawah tekanan dari kaum proletar, pemerintahan ini memberikan sejumlah konsesi: hak untuk bekerja, upah minimum, jam kerja yang lebih pendek, pensiun untuk orang cacat, dll. Tetapi ini berakhir dengan pengkhianatan kaum borjuis terhadap kaum proletar, dimana pada 21 Juni, insureksi rakyat pekerja direpresi, 50 ribu pekerja mati dan 25 ribu lainnya di tangkap. Louis Napoleon Bonaparte naik ke tampuk kekuasaan sebagai presiden Republik, dan dia kemudian membubarkan parlemen dan memproklamirkan dirinya sendiri sebagai kaisar, yang lalu berkuasa hingga 1871.

[8] Dikutip di L. Kochan, Russia in Revolution, hal. 155 di kedua kutipan.

[9] Ibid., hal. 155.

[10] Dikutip di O. Figes, op. cit., hal. 209.

[11] Ernst Mach (1838-1916) adalah seorang ahli fisika dan filsuf dari Austria. Sebagai filsuf sains, dia memiliki pengaruh besar dalam filsafat positivisme logika, yang merupakan cabang dari idealisme subjektif. Lenin berpolemik melawan gagasan ini dalam karyanya Materialisme dan Empirio-kritisme.

[12] Lunacharsky, op. cit. hal. 35.

[13] Krupskaya, Reminiscences of Lenin, hal. 193.

[14] Ibid., hal. 181.

[15] See Valentinov, Encounters with Lenin, 1968.

[16] Ayub adalah figur utama dalam Alkitab, Al Quran dan buku suci Yahudi. Tuhan menguji kesetiaan Ayub dengan berbagai cobaan dan derita: kehilangan anaknya, kesehatannya dan kekayaannya. Namun dia tetap sabar dan setia, dan tidak menyalahkan Tuhan.

[17] Friedrich Adler (1879-1960) adalah politisi sosialis Austria, yang terkenal membunuh Presiden-Menteri Austria Count Karl von Sturgkh pada 1916 karena menentang Perang Dunia Pertama dan keterlibatan Austria dalamnya. Dia mendukung paham Mach-isme, yang ditentang keras oleh Lenin terutama dalam karyanya Materialisme dan Empirio-Kritisme.

[18] Krupskaya, Reminiscences of Lenin, hal. 193-4.

[19] LCW, To his sister Anna, March 9, 1909, vol. 37, hal. 414.

[20] LCW, To his sister Anna, March 12, 1909, hal. 416.

[21]Joseph Dietzgen (1828-1888) adalah seorang filsuf Jerman, dan seorang materialis dialektis. Marx mengakui karya filsafatnya, walau dalam komentarnya juga mengatakan bahwa karyanya dipenuhi dengan kebingungan: “Dulu sekali, dia [Dietzgen] mengirim saya fragmen manuskripnya, ‘fakultas pemikiran,’ yang kendati penuh dengan kebingungan dan terlalu banyak pengulangan, sebagai produk independen dari seorang pekerja, adalah karya yang mengagumkan.” (Surat Marx ke Kugelmann, 5 Desember 1868). Lenin dalam karyanya Materialisme dan Empirio-Kritisme mengupas tulisan Deitzgen, bagaimana banyak kaum Machis yang menggunakan sisi lemah dari Deitzgen, yakni kebingungannya, untuk membangun filsafat reaksioner mereka.

[22] See Istoriya KPSS, vol. 2, hal. 272 (penekanan saya).

[23]Protokoly soveshchaniya rasshirennoy redaksii Proletariya, hal. 12.

[24]Pod Znamenem Marksizma, No. 9-10, 1932, hal. 203 (penekanan saya).

[25] LCW, Letter to V.V. Vorovsky, July 1, 1908, vol. 34, p. 395.

[26]  Krupskaya, Reminiscences of Lenin, hal. 162.

[27] LCW, Letter to Theodore Rothstein, January 29, 1908, vol. 34, hal. 375.

[28] Dikutip di Stanley Payne, The Life and Death of Lenin, hal. 240.

[29] Lihat McKean, op. cit., hal. 53.

[30] P. Kudelli, Krasnaya letopis’, No. 14, dikutip di McKean, op. cit., hal. 53.

[31] Trotsky, Fighting Against the Stream, in Writings, 1938-39, hal. 257.

[32] Zinoviev, History of the Bolshevik Party, hal. 165.

[33] Schapiro, op. cit., hal. 101.

[34]Stephen F. Cohen, Bukharin and the Bolshevik Revolution, hal. 12.

[35]Krupskaya, Reminiscences of Lenin, hal. 183.

[36]See LCW, On to the Straight Road, vol. 15, hal. 18.

[37]Ibid., hal. 18

[38]Quoted in Trotsky, Stalin, hal. 95

[39]LCW, Letter to N.Y. Vilonov, March 27, 1910, vol. 34, hal. 415.

[40]G.V. Plekhanov, Works, in Russian, vol. 19, hal. 37.

[41]Lenin, Collected Works, Russian edition, vol., XIX, p. 23.

[42]LCW, Methods of the Liquidators and Party Tasks of the Bolsheviks, vol. 16, hal. 101.

[43]Dikutip di Istoriya KPSS, vol. 2, hal. 269.

[44]Krupskaya, Reminiscences of Lenin, hal. 198.

[45]Ibid., hal. 251.

[46] Dikutip di Istoriya KPSS, vol. 2, hal. 296.