facebooklogocolour

Dalam ranah kesadaran kelas kaum buruh, aksi buruh menolak kenaikan harga BBM pada bulan Maret kemarin merupakan satu peristiwa kenaikan revolusioner. Dalam filsafat Marxis, kenaikan revolusioner ini bisa disebut fase perubahan dari kuantitas menjadi kualitas: yaitu titik kritis di mana perubahan-perubahan kecil menghantar pada perubahan kualitas yang bersifat fundamental. Tentu, hal ini terjadi bukan tanpa penyebab. Di situ terdapat peristiwa-peristiwa politik yang mampu mengakselerasi loncatan kesadaran tersebut.

Isu rencana kenaikan harga BBM merupakan kebijakan pemerintah yang jauh dari harapan rakyat miskin. Di sinilah titik picunya. Tetapi bukan berarti kebijakan pemerintah mengenai BBM itu satu-satunya penyebab. Peristiwa-peristiwa politik pro kapitalis yang telah dimainkan oleh pemerintah sebelumnya – dan jauh sebelumnya – terakumulasi secara bertahap dan akhirnya menjadi ledakan.

Kebijakan yang tidak populer, yaitu keinginan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, telah mengungkapkan kontradiksi antara dua kutub dalam masyarakat Indonesia: di satu pihak kaum birokrat dan kaum borjuis, di lain pihak kaum buruh dan rakyat miskin. Kontradiksi ini kemudian mampu menggerakkan kesadaran buruh untuk berdiri di depan seluruh rakyat tertindas dan juga membuatnya mampu berkata langsung dalam makna politik: kaum buruh dan rakyat tertindas tidak lagi percaya pada ilusi-ilusi borjuasi, entah sebagai kelompok yang berada dalam partai-partai borjuis yang seakan-akan membela rakyat miskin, atau pada kelompok yang sedang mengendalikan kekuasaan yang secara terang-terangan berseberangan dengan rakyat miskin.

Pergulatan kepentingan di Senayan selanjutnya semakin memberi titik terang bagi kaum buruh: mana kawan dan mana lawan. Partai Keadilan Sejahtera PKS), yang berseberangan pendapat dengan Koalisi, juga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang berposisi sebagai partai oposisi, mulai terlihat jelas bahwa perjuangan mereka bukan untuk rakyat. Mereka tidak sepenuhnya menolak kenaikan harga BBM, tetapi hanya menundanya. Ini manuver politik menuju 2014. Sedangkan partai-partai yang lain seperti Golkar, Gerindra, Hanura, PPP, PKB memiliki sikap lebih parah: menyerahkan keputusan akhir kepada pemerintah.

Pergerakan dan kontradiksi tersebut bisa diformulasikan dengan jelas dalam formula filsafat Marxis: bahwa gerak masyarakat adalah gerak yang dialektis, yang tidak hanya bergerak dalam garis lurus tetapi juga dalam loncatan-loncatan; bahwa kesadaran sosial (yang bersifat umum) dapat berubah menjadi kesadaran kelas (yang bersifat khusus); bahwa yang pernah lahir pasti akan mati.

Tetapi di dalam memahami filsafat dialektika ini, terlebih ketika digunakan untuk menganalisa masyarakat, tidak bisa dengan menggunakan prasangka materialisme ‘ekonomi’ yang dangkal. Marx, dalam suratkabar Amerika, The Tribune, pernah menulis, “Perkembangan kondisi untuk keberadaan sebuah kelas proletar yang besar, kuat, terkonsentrasi, dan pintar adalah sejalan dengan perkembangan kondisi untuk keberadaan kelas menengah yang besar, kaya, terkonsentrasi, dan kuat.” Pernyataan Marx di atas terkonfirmasi hari ini dengan terang: persekutuan ekonomik-politis antara kelas borjuis dan birokrasi, yang bertujuan untuk merampok kekayaan negeri ini, telah melahirkan kesadaran kelas dan perjuangan kelas; melahirkan kontradiksi yang hebat yang bisa berakhir pada popular uprising dan revolusi. Namun, pertanyaannya, apakah ini secara mekanis akan bergerak ke arah tersebut?

Para pengkritik liberal yang cerdas sering membuat kesimpulan keliru, yang diambil dari prasangka materialisme ‘ekonomi’ yang dangkal dengan mengatakan, “Jika Marxisme benar-benar bekerja sebagai teori ekonomi-politik, maka kesadaran kelas kaum buruh dan revolusi proletariat akan terjadi dengan sendirinya. Tidak perlu kita bersusah-payah melakukan konsolidasi dan membangun organisasi buruh.”  Benarkah demikian?

Tentu tidak. Kesadaran kelas obyektif, yang lahir dari kondisi obyektif – yakni adanya kontradiksi kelas; adanya jurang yang terlalu dalam di antara dua kelas (borjuis-proletar) – masih bersifat embrio dan masih acak. Jika dianalogikan dalam karya lukis, ini masih berupa sketsa. Namun sketsa tersebut dengan segara akan menjadi sebuah karya seni yang unik dan eksotik di tangan seorang maestro., yakni seorang individu sebagai faktor subyektif.

Lenin, dalam tulisannya yang berjudul Apa Yang Harus Dikerjakan? pernah menganalisis periode kenaikan revolusioner di Rusia pada tahun 1890-an. Aksi-aksi buruh yang terjadi sesudah perang industri di Petersburg pada tahun 1896 menurut Lenin masih bersifat spontan. Tetapi Lenin memberi penegasan pada karakter spontan ini, bahwa dibandingkan dengan “kerusuhan-kerusuhan” pada tahun-tahun sebelumnya maka aksi-aksi buruh pada tahun-tahun 1890-an sudah bisa disebut ‘sadar’; spontan yang sadar. Unsur spontan dalam aksi yang terjadi di tahun 1980-an, menurut Lenin, merupakan kesadaran dalam bentuk “embrio”.

Analisis Lenin pada aksi-aksi buruh yang terjadi pada tahun 1890-an di Rusia memberi penjelasan kepada kita bagaimana mengenali karakter aksi. Saya akan mencoba, berdasarkan tulisan Lenin, untuk membuat ilustrasi guna mengetahui karakter dari sebuah aksi. Untuk mengetahui apakah spontanitas aksi tersebut bersifat ‘sadar’ atau ‘tidak’ bisa dilihat dari semangat yang mendorong aksi dan format aksinya. Aksi-aksi spontan ‘tidak sadar’ hanyalah sebuah resistensi alamiah dalam format yang acak; seperti seekor ular, jika terinjak maka akan menggigit sekenanya; atau sekumpulan lebah, jika diganggu maka akan menyengat beramai-ramai tanpa pilih-pilih. Dalam kategorisasi Lenin ini bisa disebut sebagai “manifestasi rasa putus asa dan balas dendam daripada perjuangan”.

Sedangkan aksi spontan yang ‘sadar’ memiliki pemahaman yang lebih jelas dalam melakukan aksi, dan format aksinya sudah lebih konstruktif. Aksi spontan ‘yang sadar’ sudah memahami tuntutan-tuntutannya dengan sadar, ada organisasi yang merencanakan aksi tersebut, dengan pertimbangan waktu, tempat, strategi, taktik, dan lain sebagainya. Jika sebuah aksi masih berbentuk kerusuhan-kerusuhan, maka hal itu hanyalah, tidak lebih, sebagai pemberontakan (yang bersifat natural) dari kaum tertindas. Sedangkan aksi-aksi yang sistematis sudah merupakan embrio perjuangan kelas. “Tetapi hanya embrio saja,” tegas Lenin.

Gerakan buruh (juga juga tani dan kaum miskin kota) di Indonesia jelas sudah memasuki tahapan “spontan yang sadar” seperti yang dimaksud Lenin. Kekecewaan sektor-sektor tertindas tidak hanya bermuara pada kerusuhan, tetapi sudah dalam bentuk aksi yang sadar, dengan sistem tuntutan dan organisasi.  Tetapi kalau dilihat dari karakter aksinya, gerakan buruh secara umum masihlah bersifat serikat-buruhisme, belum merupakan perjuangan revolusioner-sosialis. Namun demikian, aksi-aksi ini sudah menandakan bangkitnya anatagonisme antara kaum buruh dengan kaum majikan, hanya, pada saat ini, kaum buruh belum sampai pada kesadaran sosialis. Apakah kaum buruh bisa mencapai kesadaran revolusioner-sosialis?

Saya akan menjawabnya dengan penuh hati-hati, agar tidak menimbulkan salah persepsi. Sosialisme lahir sebagai teori filsafat, sejarah, ekonomi dan politik. Sosialisme merupakan konsep mengenai tatanan masyarakat tanpa kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, yang hanya bisa dicapai melalui medium politik yang revolusioner, konstruktif, ilmiah, dan metodologis. Sementara kesadaran serikat-buruhisme, pada tahap yang paling maksimal pun, hanya akan mencakup hal-hal dasar seperti: keyakinan akan pentingnya berserikat, perlunya melancarkan perjuangan melawan kaum majikan dan negara, dan perlunya berusaha keras menuntut pemerintah untuk mengeluarkan undang-undang yang menyejahterakan kaum buruh. Dalam aksi menolak kenaikan harga BBM kemarin, misalnya, ketergerakan kaum buruh untuk melakukan aksi-aksi perlawanan, meskipun atas nama rakyat banyak, tetap didasari pada gambaran mengenai dampak dari kenaikan harga BBM tersebut bagi mereka. Dalam gambaran kaum buruh, dengan gaji yang sudah terpatok UMK, dengan kenaikan harga barang-barang pokok akibat kenaikan harga BBM, akan menurunkan daya beli dan kesejahteraannya yang memang sudah sangat minim. Lalu, bagaimana memajukan kesadaran serikat-buruhisme kaum buruh menuju ke kesadaran revolusioner-sosialis?

Di sinilah faktor subyektif berperan.. Benar, perkembangan kekuatan produktif adalah kondisi obyektif yang akan menciptakan ‘kesadaran kelas’ bagi kaum buruh.  Tetapi faktor subyektiflah yang akan mensistematisasikan kesadaran tersebut menjadi perjuangan yang akan menghasilkan kemenangan. Dalam bahasa seni lukis bisa disebut sketsa. Sketsa yang masih berbentuk garis-garis ini bisa dibentuk apa saja oleh sang pelukis yang satu ataupun yang lainnya. Sama pula dengan kesadaran serikat-buruhisme kaum buruh. Kesadaran ini bisa diarahkan kemanapun oleh siapapun.

Lenin dan Trotsky berpikiran sama mengenai pentingnya faktor subyektif. Lenin menulis, “Spontanitas massa menuntut kesadaran besar-besaran dari kita kaum sosial-demokrat (sebutan untuk kaum Marxis pada jamannya Lenin). Semakin besar kebangkitan spontanitas dari massa, semakin meluaslah gerakan, maka semakin cepat lagi dengan tiada bandingnya bertambah besarnya tuntutan akan kesadaran yang besar-besaran dalam pekerjaan teori, politik dan organisasi dari sosial-demokrasi.”

Demikian halnya dengan Trotsky. Dalam Hasil dan Prospek, dengan tajam ia mengkritik pikiran kaum anarkis yang mengharapkan kebangkitan massa yang spontan, dengan berakhir pada ketidakjelasan. Menurut Trotsky, sosialisme berbicara mengenai penaklukan kekuasaan sebagai aksi sadar dari sebuah kelas yang revolusioner.

Lalu, apa itu kesadaran sosialis? Pembangunan partai revolusioner – sebagai instrumen kepemimpinan kaum buruh untuk pewujudan sosialisme – ditempatkan pada posisi penting dalam kesadaran ini. Dalam kesadaran sosialis, partai revolusioner dipahami sebagai instrumen penting untuk mewujudkan sosialisme. Partai revolusioner menjadi keharusan untuk merangkum seluruh pengalaman perjuangan buruh, memformulasi program sosialis, dan membawanya ke dalam kelas buruh dan kelas tertindas lainnya.

Analisa umum di atas sudah memberi gambaran yang jelas, bahwa aksi-aksi buruh di Indonesia masih bersifat serikat-buruhisme. Aksi-aksi tersebut sudah mengungkapkan kesadaran kelas. Setiap aksi massa, bahkan yang paling primitif pun, sudah menunjukkan kesadaran, namun belum tentu sampai pada kesadaran kelas. Ketika aksi massa tersebut hanya manifestasi dari rasa putus asa, atau hanya sekedar sikap resisten terhadap kebijakan yang tidak adil, maka aksi spontan tersebut masih berada pada level yang rendah, belum pada taraf berkesadaran kelas, seperti popular uprising yang terjadi di tahun ‘98.

Pengkategorisasian sudah “berkesadaran kelas” atau “belum” ini tidak berdasar pada dampak yang ditimbulkan dari sebuah aksi, tetapi lebih pada format aksinya. Sebuah bom yang berdaya ledak tinggi bisa menghancurkan segala sesuatu yang berada di sekitarnya. Namun, jika ledakan bom tersebut akibat dari gesekan yang tidak disengaja, atau ledakan tersebut karena benda lain telah menabraknya, maka kehancuran yang ditimbulkan dari ledakan dahsyat tersebut merupakan kerusakan parah yang tidak berarti. Berbeda halnya jika ledakan tersebut disengaja, direncanakan, atau diformat, maka, selain titik-titik tertentu saja akan hancur, ledakan tersebut akan menandai pembangunan tatanan baru. Sebesar apapun ledakan sebuah bom, jika tidak direncanakan, maka hanya akan berbuah kerusakan. Dan sebaliknya, sekecil apapun ledakan sebuah bom, jika ledakan tersebut direncanakan, maka akan menjadi awal dari kehidupan yang baru.

Ilustrasi di atas mingkin tidak terlalu pas, namun, setidaknya, bisa memberikan gambaran atas analisis ini, bahwa sesuatu program yang terencana, sekecil apapun, akan menghasilkan dampak yang konstruktif dan berkelanjutan. Kita mungkin pernah melihat penghancuran gedung-gedung tua di negara-negara maju dengan teknologi modern; dengan format yang canggih. Gedung-gedung tua dihancurkan untuk diganti dengan bangunan gedung yang baru. Gedung-gedung tinggi tersebut bisa hancur tanpa menciderai gedung-gedung lain atau kehidupan di sekitarnya. Kita bisa bayangkan jika kehancuran gedung-gedung tinggi tersebut akibat yang tidak disengaja, terabrak pesawat atau karena konstruksi gedung yang salah atau rapuh, maka pastilah akan menimbulkan kerusakan yang tidak berarti. Kalaupun akan menandai tatanan baru, masih akan membutuhkan waktu panjang dengan fase-fase yang sangat melelahkan. Dan, tentu, dengan hasil yang belum jelas.

Mari kembali pada inti bahasan, dengan pertanyaan: “Aksi buruh menolak kenaikan harga BBM bulan Maret kemarin berada pada level mana dan kategori apa?”

Keterlibatan aktif kaum buruh dalam aksi menentang BBM kemarin merupakan sebuah loncatan di dalam tingkatan kesadaran gerakan buruh, yang sedang bergerak dari kesadaran serikat-buruhisme yang sempit ke kesadaran sosialis yang luas. Buruh mengambil kepemimpinan gerakan menentang kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat luas. Dari hanya memikirkan kepentingan normatif di tiap-tiap pabrik mereka, buruh pada bulan Maret kemarin mulai mengambil langkah tegas memikirkan – dan memperjuangkan secara konkrit, bukan hanya dalam slogan-slogan kosong – kepentingan rakyat tertindas luas.

Kesadaran serikat-buruhisme merupakan fase transisi menuju kesadaran sosialis. Jika kesadaran serikat-buruhisme masih dibatasi oleh kepentingan-kepentingan normatif-ekonomik, dan salah satu lompatan menuju ke kesadaran sosialis adalah rasa solidaritas terhadap kelas-kelas tertindas lain – yang ditunjukkan oleh keterlibatan aktif buruh dalam aksi menentang kenaikan BBM kemarin, maka lompatan terakhir ke kesadaran sosialis memahami perlunya sebuah partai revolusioner untuk mengusung tugas historis kaum buruh: penyitaan alat-alat produksi kaum kapitalis.Dalam hal ini, maka kita kembali pada tugas dari faktor subjektif – yakni kaum buruh yang lebih sadar dan maju. Kesadaran sosialis harus dibangun dengan sadar oleh bunga-bunga proletar, yang tergabung di dalam sebuah partai dengan ide, program, metode, dan tradisi yang mengambil Marxisme sebagai titik tolaknya.