facebooklogocolour

Menarik, tulisan Ragil Nugroho, PKS dan Lenin, yang memberi kesimpulan kasar atas pola pengorganisiran revolusioner yang dilakukan oleh Lenin di Rusia, dan menyejajarkannya dengan pola pengorganisiran suatu partai Islam borjuistik (baca: PKS), diapresiasi oleh Martin Suryajaya dengan penalaran filosofis yang berbelit-belit. Dalam tulisannya, Lenin, PKS dan Realisme,Martin terlihat sedang mencari pembenaran dari buku Lenin – Materialism and Empirio-Criticism – untuk memberi sentuhan filsafat pada tulisan Ragil yang kasar; untuk membangun opini pembaca bahwa kritik Ted Sprague atas Ragil adalah keliru; dan juga untuk mencari pengakuan bahwa Ragil adalah seorang realis, atau – meskipun bukan orang yang betul-betul memahami ide-ide Lenin – setidaknya, orang yang mampu mempraktekkan realisme Lenin di lereng Merapi.

Ragil benar-benar tidak memahami maksud Lenin, dan tepat sekali jika Ted Sprague memberinya cap sebagai sang pencolek ide yang kasar dan vulgar. Di dalam tulisannya yang dipublikasikan oleh sebuah jurnal online, Indoprogress, Ragil menulis:

“Bagi yang alergi kekuasaan, ada karya Lenin yang ditulis setelah revolusi Oktober 1917: Komunisme ‘Sayap Kiri’: Suatu Penyakit Kekanak-kanakan. Risah ini ditulis untuk mengatasi jalan buntu ketika situasi tak revolusioner. Saat gelombang revolusi menerjang, dengan mudah orang akan mengangkat tangan kiri. Bila situasi sebaliknya, satu persatu akan meninggalkan perjamuan. Tapi bukan berarti tak terpecahkan. Dalam situasi yang biasa-biasa saja, Lenin menekankan pentingnya partai komunis mengambil strategi bekerjasama dengan kekuatan lain. Dan, bila memungkinkan ikut ambil bagian dalam pemerintahan yang berbasis luas. Artinya, tinggalkan molotov dan batu, untuk kemudian ambil bagian dalam kekuasaan.”

Pada kalimat tengah, “... Dalam situasi yang biasa-biasa saja, Lenin menekankan pentingnya partai komunis mengambil strategi bekerjasama dengan kekuatan lain....”, telah menunjukkan ketidaktahuannya akan maksud Lenin.

Perjuangan parlementer adalah arena penting, di mana kelas-kelas yang saling berlawanan akan berbenturan untuk memperoleh kekuasaan politik. Hal ini dipraktekkan oleh Lenin di Rusia. Lenin dan kaum Bolshevik selalu memanfaatkan setiap kemungkinan untuk berpartisipasi di dalam pertarungan politik guna merebut posisi kursi di dewan pusat dan kota – bahkan dalam situasi yang paling buruk pun. Bagi Lenin, kerja politik ini bukan untuk eksis-eksisan, tetapi bertujuan jauh dan revolusioner, yakni untuk membangun partai revolusioner dan memperkuat basisnya di antara massa. Namun, dalam analisa terakhir, pertempuran yang sesungguhnya selalu terjadi di luar parlemen. Karena cepat atau lambat, masalah serius mengenai pembebasan rakyat tidak bisa diselesaikan di ruang dewan yang nyaman, tetapi di jalanan, di pabrik-pabrik, atau di tempat-tempat yang dihuni oleh mayoritas rakyat tertindas. Dan kaum Kiri yang menolak hal ini – secara langsung atau tidak langsung seperti Ragil, berarti tidak mengerti apa-apa tentang sejarah perubahan masyarakat dan sejarah revolusi-revolusi.

Mengenai kritik Lenin terhadap kaum Komunis Jerman yang menganggap bahwa parlementerisme telah menjadi “usang menurut sejarah”, dipertegas oleh Lenin di dalam karyanya, Komunisme Sayap Kiri: Suatu Penyakit Kekanak-kanakan. Dalam bab VII, “Haruskah kita ambil bagian dalam parlemen-parlemen burjuis?”Lenin menulis:

“...Sebab masalahnya bukan apakah parlemen-parlemen burjuis sudah lama ada atau baru saja ada, tetapi sampai seberapa jauh massa luas dari rakyat pekerja telah siap (dalam ideologi, politik dan praktek) untuk menerima sistim soviet dan membubarkan parlemen burjuis-demokratis (atau mengijinkan parlemen tersebut untuk dibubarkan). Bahwa, berhubung dengan beberapa syarat khusus, kelas buruh urban dan prajurit-prajurit serta kaum tani di Rusia dalam bulan September-November 1917 secara luarbiasa telah siap sedia untuk menerima sistim soviet dan untuk membubarkan parlemen burjuis yang bersifat paling demokratis....”

Selain menganjurkan kaum Kiri untuk terlibat di arena parlemen pada momen-momen tertentu, dalam tulisan di atas, Lenin juga berbicara mengenai sense of self-proportion, atau mengukur kekuatan diri. Sense of self-proportion berarti berbicara mengenai kebergantungan pada realitas obyektif, pada tradisi nasional dan keseimbangan kekuatan-kekuatan kelas. Akan sangat mungkin bahwa kekuatan Kiri di parlemen bisa berperan penting dalam revolusi di Indonesia. Tetapi, lagi-lagi, kaum Kiri harus mengukur kekuatan dan kesadaran massanya. Jangan sampai di sana hanya menjadi tawanan dan tidak mampu berbuat apa-apa.

Pada saat Revolusi Oktober, Soviet Pekerja dan Deputi Tentara mewakili mayoritas rakyat Rusia. Kelas pekerja memilih Bolshevik melalui soviet-soviet. Pada saat yang sama, para tentara dan mayoritas kaum tani juga menjatuhkan pilihannya pada Bolshevik.

Inilah makna anjuran Lenin untuk terlibat di dalam parlemen: ketika keterlibatan itu mampu memainkan peran progresif dalam memobilisasi massa, terutama massa yang masih terasing dari partai revolusioner; dan juga, inilah makna dari kemampuan partai dalam memahami realitas obyektif: berapa besar kekuatan partai, mampu memainkan peran kepemimpinan di dalam parlemen atau tidak, stratak apa yang perlu dimainkan, dll.

“Keberhasilan” PKS yang telah dibanggakan oleh Ragil tentu berbeda jauh dengan keberhasilan Bolshevik. Menyamakan keberhasilan PKS dengan Bolshevik adalah guyonan yang samasekali tidak lucu. Guyonan yang hanya diminati oleh orang-orang dungu. Ragil telah terbukti bersikap kanak-kanak dalam memahami realitas obyektif. Ia salah dalam memahami realisme Lenin. Ia menyamakan dua hal yang berbeda hanya karena ada kemiripan gejala. Parah.

“Realisme Leninis inilah yang hilang dari kritik Ted,” begitu kata si pembela Ragil, Martin Suryajaya. Tulisan Martin yang tidak lebih baik dari Ragil ini cocoknya untuk mengeritisi pikiran Ragil dan dirinya sendiri. Martin senang berputar-putar di substansi yang sama sambil mengutip sana-sini. Tulisan Martin tidak berpotensi menjelaskan, tetapi sebaliknya, merumitkan. Ia menjabarkan tentang realisme dengan watak idealisme. Meskipun ia berbicara tentang realitas, metodologi berpikirnya tetap membawanya berjarak dengan realitas. Terminologi ‘realisme’ yang digunakan oleh Martin untuk menunjuk materialisme Lenin berada di garis batas antara materialisme dan idealisme. 'Realisme', tulis Lenin, adalah istilah yang dirampas oleh pemeluk positivis dan orang-orang dungu, yang terombang-ambing antara materialisme dan idealisme. Ini adalah sebuah ekspresi tidak valid dan salah; premis-premis idealis yang diam-diam diselundupkan ke dalam materialisme dengan pola Mach atau Avenarius.

Sejak Lenin menulis Materialism and Empirio-Criticism, kaum Marxis-Leninis dituntut untuk mendefinisikannya dengan tajam mengenai perbedaan antara seorang realis-epistemologis dan seorang realis-materialis, serta mencurahkan seluruh energi untuk membela teori-teori Marxis.  Karena orang-orang yang menamakan diri sebagai seorang realis-epistemologis, seringkali menggunakan frase ‘epistemologi’ untuk menyerang  kaum Marxis-Leninis yang setia pada perjuangan kelas.

Kaum Marxis-Leninis sejati, kemudian, tetap berpegang teguh pada ajaran Marx: materialisme, dialektika dan historis. Tidak seperti para Marxolog (baca: inteletual Marxian) yang gemar sekali mencicipi atau memotong ujung segala macam pengetahuan, kaum materialis sejati konsen pada pendalaman teori-teori revolusioner Marxis dengan tujuan untuk membangun peradaban baru, tata sosial-politik baru, dan untuk membebaskan seluruh manusia dari penghisapan kapitalisme. Tuduhan buruk Martin atas Ted – dan pembenarannya atas Ragil – menemukan kesalahannya di sini. Martin dan Ragil tidak memahami bahwa realitas obyektif berada dalam serangkaian proses historis. Jika pemahaman atas realitas obyektif dalam politik kaum Kiri diindikasikan hanya dengan keterlibatan aktifnya di dalam kancah elektoral, maka pemahaman atas materialisme, dialektika dan historis benar-benar luruh – terjebur dalam selokan rasionalisme dan empirisisme.

Kaum materialis sejati menggunakan pendekatan antroposentis dalam memahami realitas: berpusat pada kesejarahan manusia. Mereka memehami realitas obyektif bukan ‘kini’ dan ‘hari ini’, tetapi ‘kini’, ‘hari ini’, yang berhubungan secara dialektis dengan ‘dulu’. Dalam praksis politik, sebelum bertindak, kaum materialis sejati akan menggunakan self-proportion-nya untuk mengukur kemungkinan-ketidakmungkinan – di atas dasar materialisme, dialektika dan historis; menganalisis ketepatan praktek di masa lalu dan kesalahan-kesalahannya sebelum diterapkan untuk masa kini.

Martin menendang anjurannya sendiri, “Pentingnya Epistemologi Kiri”. Obyektifitas, dalam makna Lenin, jelas, bergantung pada serangkaian kerja historis. Realitas obyektif-politis, dalam makna kaum Kiri Indonesia, dengan demikian, berhubungan dengan memori perjuangan-perjuangan kelas di masa lalu. Terlepas dari kesuksesan dan kegagalannya, Bolshevisme adalah memori kolektif yang besar bagi kaum Marxis di mana pun, tak terkecuali di Indonesia, dan Militan mengusung memori kolektif ini. Dari memori kolektif ini, yang benang merahnya secara organisasional dan politik terus disambung dari Marx, Engels, Lenin, Trotsky, Ted Grant, dan banyak pejuang lainnya di IMT selama 150 tahun terakhir, realitas objektif kami adalah realitas yang berada dalam serangkaian proses historis. Menggunakan metode dan tradisi Bolshevik untuk membangun kekuatan kelas tertindas di Indonesia merupakan pilihan yang tepat. Dan, tentu, Bolshevisme tidak hanya bicara keterlibatannya di dalam parlemen borjuis. Ini hanya wilayah taktik. Yang terpenting dari Bolshevisme adalah metode dan tradisinya dalam mengorganisir massa; memobilisasi massa untuk memenangkan revolusi proletariat.