Kekesalan Parlan tiba-tiba memuncak kepada isterinya, Cempluk. Hari-hari ini permintaan Cempluk semakin berlebihan saja. Bagi Parlan, yang berprofesi sebagai buruh dengan UMK Jakarta, dunia salon kecantikan tak pernah ada dalam kamusnya. Itu gaya hidup yang mahal, pikirnya. Gaya hidup orang-orang kota, orang-orang kelas menengah ke atas.

“Aku juga pingin tampil cantik, Mas ... seperti Bu Ratna, tetangga kita!” ucap Cempluk merengek.

“Dasar, materialistis!!!” jawab Parlan jengkel.

“Apa karena gajimu kecil sehingga aku tidak pantas mengunjungi salon? Dan, apa bedanya antara kata ‘materialistis’ dengan kata ‘materialis’ yang sering kamu katakan padaku, Mas?”

Parlan segera bergulat dengan istilah “materialistis” yang baru saja diucapkannya. Kata itu dia ucapkan hanya untuk menghukum sikap moral istrinya yang mulai hedonis. Tapi pertanyaan Cempluk membuatnya terkurung dalam problem “pengistilahan” yang lumayan rumit. “Kenapa orang-orang sering menggunakan istilah ‘materialistis’ ketika menunjuk pada sikap yang rakus akan benda-benda dan tingkah-polah yang hedon,” pikir Parlan. “Bukankah kata ‘materialistis’ sinonim dengan kata ‘materialis’ dalam filsafat Marxis?”

Ya, kata “materialistis” yang terucap dari mulut Parlan adalah sebuah terminologi yang sudah dikenal oleh masyarakat umum untuk menunjuk pada suatu sikap yang rakus akan materi dan kebanggan akan prestise-prestise modernitas. Tetapi istilah itu, tentu, berbeda jauh pengertiannya dengan “materialis” dalam ranah filsafat. Pengertian pada kata yang pertama sudah diplintir, nampaknya sebagai upaya untuk mengubah makna falsafinya dan memberikan stigma buruk pada terminologi materialisme. “Materialis” atau “materialisme” dalam filsafat Marxis diartikan sebagai “pemahaman akan realitas yang didasarkan pada aktifitas manusia di dalam realitas obyektifnya”. Sesuatu dipahami sebagai realitas “yang materialis” ketika sesuatu itu tidak terlepas dari sifat fisik manusia dan dari kondisi alam di mana manusia tersebut menemukan dirinya.

Ucapan Parlan di atas, yang kita pahami sebagai ekspresi kejengkelan atas sifat ‘rakus’ istrinya akan benda-benda dan prestise-prestise, merupakan istilah yang stigmatik. Istilah yang telah diumumkan oleh kapitalisme kepada publik untuk menutupi watak akumulatif-eksploitatif-ekspansifnya. Dengan cara yang kasar dan vulgar, dengan bersembunyi tangan, kapitalisme telah melemparkan istilah “materialistis” sebagai istilah yang negatif untuk menghukum filsafat materialis Marxis.

Lalu, apakah cara pandang Cempluk adalah cara pandang yang juga materialis? Apakah Cempluk, sebagai isteri dari laki-laki yang bekerja sebagai buruh, tidak boleh—atau tidak pantas—ketika mengunjungi salon kecantikan untuk berdandan?

Premis-premis materialisme tidak didasarkan atas dogma-dogma. Premis materialisme bukan abstraksi dari yang imajinatif. Pijakan materialisme adalah manusia, baik sebagai individu-individu maupun komunitas, sebagai subyek-subyek yang mengekspresikan dirinya dalam praksis kongkrit dan menyusun realitas obyektif. Tidak ada yang berjalan secara alami di dalam realitas. Realitas obyektif terbentuk karena keterhubungannya yang resiprokal dengan subyek-subyek. Keterhubungan yang timbal-balik antara subyek-obyek inilah yang kemudian menghasilkan sebuah sistem “cara bertahan hidup”, yang selanjutnya berkembang menjadi “cara berproduksi” (mode of production). Dan corak produksi ini merupakan landasan fundamental bagi keterbangunan sifat-sifat manusia—baik sifat di dalam individu-individu maupun masyarakatnya.

Cara pandang Cempluk, akhirnya, tersimpulkan, bukanlah cara pandang yang materialis. Cara pandang yang materialis, dalam kasus Parlan-Cempluk, bisa diartikan sebagai “sikap yang obyektif-analitis-kritis” terhadap realitas. Ucapan Cempluk akan mengandungi nilai materialis ketika berbunyi “kenapa harus ke salon?”, bukan “kenapa tidak boleh ke salon?”. Lagi, untuk menempatkan sebuah terminologi pada porsinya, maka ucapan sarkastik Parlan kepada isterinya juga harus diubah; kalimat “Dasar, materialistis!!!” diubah menjadi “Dasar, kapitalistis!!!”.

Apakah Cempluk, sebagai isteri seorang buruh, juga tidak pantas untuk mengunjungi salon? Yach, ini bukan persoalan boleh-tidak boleh, pantas-tidak pantas, tetapi persoalan arus ide. Corak produksi masyarakat hari ini bercorak kapitalistik, sehingga dasar pijak ide-ide masyarakat pun sedang didominasi oleh ide-ide kapitalisme. Ide-ide yang sedang didominasi oleh kapitalisme tersebut meliputi ide-ide dalam filsafat, politik, budaya, spiritualitas dan, bahkan, hingga ke masalah cita-rasa. Corak produksi yang kapitalistik ini akan memproduksi ide-ide yang berfungsi untuk memapankan dan mengembangkan aktifitas produksi yang kapitalistik tersebut. Terhubung dengan keinginan Cempluk untuk pergi ke salon, untuk mempercantik diri agar seperti Bu Ratna, tetangganya, adalah konsepsi yang dibangun di dalam cita-rasa kapitalis. Karena konsepsi genuine dari “cantik” tidak mensyaratkan harus pergi ke salon, harus menggunakan produk kosmetika ini-itu, berambut lurus, atau tampil langsing-semampai berambut pirang dan bermata biru. Bahkan dalam kesejarahannya, konsepsi “cantik” pada masyarakat-masyarakat dahulu, sebelum manusia antar benua terhubung secara integral dan cepat, sebelum media iklan kapitalis berseliweran masuk dalam arus-arus pemikiran, masing-masing masyarakat memiliki konsepsi yang berbeda-beda mengenai “cantik”. Artinya, konsepsi mengenai “cantik” yang mendominasi persepsi masyarakat hari ini dan sekaligus arus cita-rasanya yang berupa tren “untuk selalu tampil cantik” adalah produk dari corak produksi kapitalis.

“Gimana, Mas ... apa aku boleh pergi ke salon?” Cempluk bertanya lagi kepada suaminya, Parlan.

“Cempluk sayang, selain gajiku tidak cukup untuk membeli kosmetik-kosmetik di salon itu, aku lebih suka kau tampil seperti apa adanya!” jawab Parlan, sambil nyengir.

“Nanti apa kata orang-orang, kalau istrimu tampak tua seperti Mak Lampir?”

Ahh, kata mereka mah tak penting, tapi menurutku lah yang penting.”

“Itu namanya melawan arus, Mas!”

“Perjuangan buruh seperti kita memang berat; tidak hanya melawan pengusaha di tempat kerja yang terang-terangan mengeksploitasi buruh-buruhnya, tetapi juga melawan ide-ide kapitalis yang ilusif yang tampak sebagai ‘kebenaran’. ”

Cempluk tertegun, diam, bersimpuh di kursi dekat jendela. Parlan masih tetap tidak beranjak dari duduknya, dari secangkir kopinya. Keduanya seperti sedang berpikir tentang sesuatu. Entah. Mungkin salah-satu dari mereka sedang berpikir perolehan gaji bulan ini setelah dipangkas oleh berbagai cicilan.

Sikap Parlan terhadap kecenderungan isterinya baru saja sangat jelas. Ini merupakan titik-balik dalam pemikirannya, hasil berprosesnya di serikat buruh. Pemahamannya yang materialis, pada akhirnya, mampu untuk menganalisis realitasnya dengan kritis. Terkait dengan kasus Cempluk, Parlan mampu bersikap tegas. Materialisme telah membentuk konsistensi ideologis dan kontinyuitas perjuangannya dalam melawan ide-ide kapitalis.

“Kelas yang berkuasa, yakni kelas kapitalis,” tutur Parlan kepada istrinya, “selain menguasai alat-alat produksi material, juga, pada saat yang sama, menguasai alat-alat produksi mental.”

Hemm, contoh untuk kalimat yang kedua seperti apa?”

“Yach, melalui karya-karya seni (sastra, advertising, sinetron, musik, dll.); melalui karya-karya spiritual; karya-karya intelektual; dll., kapitalisme telah berhasi menginjeksi pola-pikir masyarakat sekaligus mengontrolnya. Semua ini bertujuan untuk melancarkan proses modal kapitalis. Makanya jangan gampang percaya dengan informasi teve, iklan-iklan bombastis, cerita-cerita sinetron, ceramah-ceramah spiritual, dsb.!”

“Wah, perjuangan kita terlau berat, Mas. Apa kita mampu mengabaikan semua itu?”

“Dengan ide-ide yang revolusioner, kita akan tetap kuat untuk melawan!”

“Bukankah sudah banyak yang berguguran di jalan perjuangan ini, Mas?”

“Kita ini kaum Marxis, Dik ... bukan kaum Kiri. Kiri hanya mengajarkan tentang perlawanan, perlawanan dan perlawanan. Marxisme mengajarkan sesuatu yang lebih dari sekedar perlawanan. Marxisme mengajarkan bagaimana membangun gagasan, menyusun program, menggunakan metode dan mengkonsolidasi kekuatan. Lebih jauh, Marxisme juga mengajarkan bahwa tugas historis kita adalah merebut kekuasaan dari tangan kelas kapitalis!”

“Itu butuh waktu yang panjang, Mas!”

“Ya, seorang Marxis dituntut untuk berpikir tentang perjuangan jangka panjang. Karya perjuangan seorang Marxis berlaku untuk seumur hidup. Bahkan, dalam keadaan seorang diri, seorang Marxis harus tetap berkarya dalam perlawanan!”

“Lalu kapan kaum buruh seperti kita menikmati kesejahteraan, Mas?”

“Marxisme berjuang untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas, dan di situlah kesejahteraan buruh yang sesungguhnya terletak.”

“Emmm...!” Cempluk hanya bergumam, menandakan ingin mengakhiri dialog.

Keduanya lalu beranjak dari tempatnya masing-masing. Parlan merasa lega dengan sikap politiknya. Cempluk merasa suaminya begitu berarti hari ini. Cempluk merasa ada banyak hal yang tak terduga pada pribadi suaminya. Laki-laki kurus bermata cekung yang hanya tamat SMP itu telah mengalami lompatan pemikiran yang luarbiasa. Aktifitasnya di serikat buruh selama ini telah menjadikan Parlan pribadi yang revolusioner. Pendidikan politik Marxis yang intensif ia ikuti membuatnya mampu menganalisis dirinya, keluarga dan masyarakatnya secara kritis. Ia berhasil menolak segala macam tren kapitalistik, segala macam cita-rasa “mainstream”, dan segala macam kecenderungan-kecenderungan yang dikontrol oleh kapitalisme. Kelas-kelas di dalam masyarakat akan saling menciptakan sejarahnya sendiri!

“Tetapi lompatan pemikiran dan kesadaran saja tidak cukup untuk menciptakan sejarah,” renung Parlan. “Berakhirnya suatu sejarah, dan berangkatnya sejarah baru, bukan saja karena telah terbentuk “kesadaran-kesadaran” yang menjelma dalam gelora-gelora, tetapi harus diturunkan dalam bentuk perjuangan nyata: aksi di jalan, okupasi pabrik, pemberontakan-pemberontakan di tempat kerja, dll..”

“Prokkkk...!!!” Terdengar suara gelas pecah.

“Ayaaaaah ... tolong urusin si kecil ..., aku masih repot masak!” teriak Cempluk dari pojok dapur.

Si kecil, Anak Langit Muara Sakti, anak nomor dua, terlihat bermain gelas dan membanting-bantingnya.

Yach, hidup kan tidak hanya untuk mikir politik saja,” ucap Parlan dalam hati. “Urusan anak, cuci piring, urusan listrik hingga jemuran juga harus dipikir!”

Bogor, September 2012.