karl marx statueBerikut adalah pengantar dari kelas "Nalar yang Memberontak dan Perjuangan Kelas" yang disampaikan oleh Jesus SA dalam Sekolah Politik Revolusioner Militan.

Buku Nalar yang Memberontak adalah buku yang sangat penting untuk dibaca dan didiskusikan oleh kaum revolusioner. Banyak sekali di antara kita yang mengalami kegelisahan teoretikal, yang tidak puas dengan penjelasan teoritik yang disediakan oleh teori-teori borjuis karena teori-teori tersebut mengalami kesulitan ketika menjelaskan mengenai dunia yang sedang kita diami ini, dan ujung-ujungnya menyeret kita ke kegelapan mistikal. Dengan membaca buku Nalar yang Memberontak, dapat dipastikan, kita akan mendapatkan jawaban yang jelas dan gamblang, sebab di dalam buku ini tersedia penjelasan Marxis yang komprehensif mengenai kesatuan hukum yang menggerakkan jagad raya dan masyarakat manusia: mulai dari evolusi hingga teori chaos; dari fisika nuklir hingga perkembangan masyarakat dan perjuangan kelas.  

Sebagian besar kalangan yang concern terhadap Marxisme hanya memiliki pengetahuan dari tangan kedua, dari apa yang didengar atau dibaca dari orang lain, bukan dari apa yang dipelajarinya sendiri atas teks-teks Marxis. Hal ini sangat disayangkan, karena satu-satunya cara untuk memahami Marxisme adalah dengan membaca sendiri karya-karya Marx, Engels, Lenin dan Trotsky. Kebanyakan tulisan yang mencoba menerangkan "apa yang dimaksudkan oleh Marx" terdapat pelintiran-pelintiran di sana sini, dan tentu, tulisan-tulisan tersebut tidak layak dijadikan sebagai referensi untuk memahami Marxisme. Buku Nalar yang Memberontak berhasil menyuguhkan esensi yang sebenarnya dari Marxisme, yakni metode-metode materialisme dialektik.

Buku ini menunjukkan bahwa cakupan Marxisme jauh melampaui ruang lingkup politik dan ekonomi. Di jantung Marxisme terdapat satu filsafat yang keluasan dan ketelitiannya tidak perlu dipertanyakan lagi, yakni materialisme dialektika. Engels, kawan sejati Marx, seorang yang secara gigih menjelaskan pemikiran Marx, mendefinisikan dialektika sebagai hukum gerak paling umum dari alam, masyarakat dan pemikiran manusia. Dalam The Dialectics of Nature Engels melakukan satu telaah yang teliti mengenai pengetahuan ilmiah yang termaju di jamannya, untuk menunjukkan bahwa seluruh mekanisme kerja alam adalah dialektika.  

Melalui metode materialisme dialektik ini kita memiliki suatu cara untuk menilai perkembangan dan tren-tren ke depan. Tapi Marxisme, tentu, bukan suatu dogma, yang menganggap bahwa garis perkembangan masyarakat dapat dipratahbiskan atau ditentukan lebih dahulu. Hal seperti ini adalah sebuah distorsi besar-besaran. Metode Marxis akan menjauhkan diri dari cara kerja seperti ini—distorsif. Nilai kualitatif dari Marxisme terletak pada bahwa metodenya merupakan panduan untuk bertindak, bukan sebagai kredo atau syahadat-iman.

Marxisme disusun oleh tiga unsur penting: filsafat Marxis (materialisme dialektika), teori Marxis tentang sejarah dan masyarakat (materialisme historis), dan teori ekonomi Marxis (teori nilai kerja). Materialisme dialektika ditempatkan sebagai yang paling pokok, atau sebagai fundamen dari yang lain; sedangkan materialisme historis adalah penerapan dari metode ini terhadap telaah atas perkembangan peradaban manusia; teori nilai kerja adalah hasil dari penerapan metode yang sama terhadap bidang ekonomi. Satu pemahaman atas Marxisme tidak akan dapat dicapai tanpa pemahaman yang utuh atas materialisme dialektika.

Proposisi dasar dialektika adalah bahwa segala hal berada dalam proses perubahan, pergerakan dan perkembangan yang terus-menerus. Engels mendefinisikan dialektika sebagai "ilmu tentang hukum-hukum umum tentang gerak dan perkembangan alam, masyarakat manusia dan pemikiran." Dalam Anti-Dühring dan The Dialectics of Nature, Engels memberikan satu ringkasan tentang hukum-hukum dialektika, yang dimulai dengan tiga yang paling dasar: hukum peralihan dari kuantitas menjadi kualitas dan sebaliknya, hukum tentang kutub berlawanan yang saling merasuki, dan hukum tentang negasi dari negasi.

Contoh-contoh detail mengenai pergerakan dialektik dari makro dan mikrokosmik—hingga pergerakan ke tingkat sub-atomik—disuguhkan dengan sangat cerdas oleh Kamerad Alan Woods dan Ted Grant. Pergerakan pada wilayah kosmis ini juga sering terjadi pada ranah masyarakat, misalnya, pada pergerakan kesadaran. Kesadaran tumbuh dalam lompatan-lompatan mendadak. Kamerad Alan dan Ted memberikan contoh mengenai pemogokan. Selama bertahun-tahun, bisa saja, buruh dalam satu pabrik terlihat tenang. Para pekerja tidak melakukan reaksi apa-apa, bahkan ketika upah dan kondisi kerja mereka sangat buruk. Ketidakpedulian buruh semacam ini sering membingungkan para aktivis dan membuatnya demoralisasi. Mereka menarik kesimpulan yang keliru, bahwa kaum buruh "terbelakang", dan tidak akan melakukan apa-apa. Tapi, kenyataannya, di bawah permukaan yang nampak tenang itu, perubahan tetaplah terjadi. Ribuan insiden kecil, komentar-komentar yang menyakitkan, ketidakadilan, kecelakaan, secara bertahap akan meninggalkan bekas pada kesadaran kaum buruh.

Dalam bidang sosial, ekonomi dan politik Kamerad Alan dan Ted Grant mengulas konten penting dari Das Kapital. Ketiga jilid Das Kapital, menurut mereka, telah menyediakan satu contoh gemilang bagaimana metode dialektik dapat digunakan untuk menganalisa proses yang paling mendasar dalam masyarakat. Das Kapital  Marx merupakan satu terobosan besar, bukan hanya dalam bidang ekonomi, tapi bagi ilmu sosial secara umum. Marx memulai karyanya dengan satu telaah tentang unit dasar dari perekonomian kapitalis, yaitu komoditas. Dari sini Marx melanjutkan dengan menjelaskan bagaimana semua kontradiksi dalam masyarakat kapitalis muncul. Dan yang paling penting adalah ditemukannya pengambilan nilai-lebih—hasil kerja kelas buruh yang tidak dibayarkan—oleh kapitalis, sebagai wujud nyata dari penindasan. Nilai lebih, akhirnya, dalam analisis yang materialis-dialektis ini, merupakan sumber dari akumulasi kapital dan akar dari munculnya perjuangan kelas.

Pendek kata, buku Nalar Memberontak menjabarkan dengan gemilang hukum-hukum dialektika yang mengatur alam, dimana hukum-hukum yang sama juga mengatur masyarakat dan proses perjuangan kelas yang ada di dalamnya. Setiap kaum revolusioner yang ingin mengubah dunia harus memahami terlebih dahulu proses-proses yang mengatur dunia, dan Marxisme memberikan kita alat untuk melakukan itu.