facebooklogocolour

penjual koranKami menerbitkan artikel berseri mengenai pengalaman kamerad-kamerad kita yang datang dari berbagai latar belakang pemikiran menuju gagasan sosialisme revolusioner. Artikel ini mengupas pengalaman kamerad muda kami di kampus yang sebelumnya adalah seorang Nasionalis Marhaenis kemudian menjadi seorang Sosialis.

Empat tahun lalu saya merupakan mahasiswa semester empat.  Saat di bangku kuliah saya terlibat aktif dalam organisasi kampus. Ada banyak organisasi di kampus, namun saat itu saya memutuskan terlibat dalam organisasi Marhaenis GMNI, sebuah organisasi Nasionalis yang berdasarkan pemikiran Bung Karno.

Alasannya saya memilih Marhaenis adalah gagasan ini membela kepentingan kaum Marhaen yakni petani miskin yang memiliki sepetak lahan untuk di garap. Waktu itu saya tidak tertarik dengan gagasan perjuangan kelas ataupun sosialisme, karena saya menganggap gagasan Marhaenisme cukup menyediakan jawaban buat membebaskan penindasan ini.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mendalami gagasan Marhaen ini. Semakin saya menyelami pemikiran ini, semakin saya menanyakan bagaimana sejatinya membebaskan kaum Marhaen. Ada banyak lapisan kelas tertindas di masyarakat ini, tidak hanya petani tapi juga ada kaum miskin kota, dan kelas buruh. Kenapa Marhaenisme bertumpu pada kelas tani bukan kelas lain? Semua pertanyaan ini mengawang-ngawang di kepala saya cukup lama.

Biasanya senior-senior saya menjelaskan bahwa kaum Marhaenis akan menjadi pemimpin bagi kaum Marhaen. Tapi kenyataan berkebalikan. Banyak dari senior-senior ini lalu menjadi anggota parlemen dan bekerja di partai-partai yang sama sekali tidak mempunyai program membebaskan kaum Marhaen. Saya bingung melihat kenyataan ini.

Dari perjalanan ini saya mengenal beberapa orang yang menawarkan koran di kampus dan berbicara dengan panjang lebar mengenai perjuangan kelas dan sosialisme. Tapi karena saya masih berpegang kuat pada gagasan Marhaenisme, saya tidak menghiraukan orang-orang ini. Setiap koran yang mereka tawarkan selalu saya tolak dengan berbagai cara.

Saya bertanya dalam diri sendiri bagaimana mungkin kalian mengubah masyarakat dengan koran-koran kalian. Sosialisme bagi saya adalah utopis. Bagi saya Uni Soviet sudah hancur dan membuktikan kegagalan gagasan sosialis.

‘Penjual-penjual’ koran ini begitu kuat dan sabar. Mereka tidak pernah berhenti menghubungi saya untuk ikut diskusi mingguan mereka. Begitu sering mereka mengundang dan akhirnya saya datang untuk menghargai mereka. Tapi lagi-lagi saya tidak memahami gagasan yang mereka bawa dan bicarakan. Saya seorang Nasionalis! Seorang Marhaen! Itulah hati dan pikiran saya.

Setelah itu saya berhenti dari aktivitas gerakan selama hampir 2 tahun. Saya memutuskan hubungan dengan ‘penjual-penjual’ koran ini.

Saya kembali ke daerah saya dan memutuskan untuk membantu rakyat kecil lewat aktivitas langsung. Saya mengadvokasi sekolah-sekolah yang ditutup pemerintah di daerah saya. Inilah yang menurut saya langkah kongkret untuk mengubah keadaan.

Namun advokasi-advokasi seperti ini lebih seperti langkah tambal sulam.Terlalu banyak persoalan di masyarakat untuk diselesaikan lewat jalan advokasi. Langkah ini tidak akan mengubah masyarakat.

Dari dulu kita tidak kekurangan orang-orang yang bisa mengadvokasi tapi dunia berjalan seperti biasa. Saya memahami keterbatasan ‘aksi-aksi langsung’ ini.

Seperti sebuah keajaiban, lewat aktivitas advokasi ini saya bertemu dengan seorang yang berbicara mengenai perjuangan kelas dan sosialisme. Pembicaraan orang ini seperti para ‘penjual koran’ yang sebelumnya saya temui di kampus. Orang ini bukanlah anggota para ‘penjual koran’, tapi dia mengenal gagasan ‘penjual-penjual koran’ ini. Satu hal yang saya ingat dari orang ini, “kamu telah di jalan yang benar”, “kamu beruntung telah bertemu mereka”.

Dari peristiwa ini saya mulai memahami perjuangan kelas dan sosialisme. Saya mulai mempelajari gagasan-gagasan dasar Sosialisme ilmiah, mulai dari filsafat materialisme dialektik sampai sejarah perjuangan kelas. Ini benar-benar saya mulai dari nol dan Sosialisme telah membuka cakrawala berpikir saya.

Sosialisme telah menyelamatkan saya dari jurang ‘nasionalisme’. Sosialisme tidak hanya berbicara sebatas satu bangsa, tetapi lebih dari itu membangun Internasionalisme. Saya mulai mengenal tentang apa yang dimaksud dengan perjuangan kelas; mulai membedakan mana lawan mana kawannya rakyat pekerja. Sosialisme tidak hanya dipelajari di satu negeri tapi hampir seluruh negeri ada orang yang mempelajari ini. Selama ada kapitalisme, akan selalu ada selapisan orang yang mempelajari gagasan Sosialisme karena teori sosialisme merupakan hasil langsung maupun tidak langsung dari keinginan kelas buruh untuk mengubah dunia yang penuh penindasan.

Dari peristiwa ini saya memutuskan bergabung dengan organisasi revolusioner ini. Tidak ada tujuan lain dari hidup saya selain mengakhiri segala bentuk penindasan manusia atas manusia lain dan berjuang untuk revolusi sosialis.