facebooklogocolour

materialisme historisJika kita saksikan sejarah, kelihatannya seperti sekumpulan kontradiksi. Peristiwa-peristiwa tampak tersesat dalam labirin revolusi, perang, masa-masa kemajuan dan kemunduran. Konflik-konflik antar kelas dan antar negara tercampur aduk dalam kekacauan perkembangan sosial. Bagaimana mungkin kita bisa memahami dan menjelaskan peristiwa-peristiwa ini ketika mereka kelihatannya tidak punya dasar yang rasional?

Sejak awal manusia terus berusaha menemukan hukum-hukum yang mengatur keberadaan mereka. Berbagai macam teori, dari teori bimbingan supernatural hingga kepemimpinan “Orang-orang Besar”, telah mencoba dengan berbagai cara dan dalam berbagai kesempatan untuk menyediakan suatu penjelasan. Sejumlah orang percaya bahwa karena manusia bertindak secara mandiri dari satu sama lain maka teori-teori perkembangan manusia itu sampah.

Selama hampir 2,000 tahun gagasan-gagasan yang terkandung dalam kitab Kejadian mendominasi cara pandang Eropa Barat. Mereka yang berusaha menentang konsep ini dicap sebagai antek setan. Hanya baru-baru ini pandangan yang “kafir” mengenai sejarah dan evolusi telah diterima secara umum, walaupun pandangan ini berat sebelah.

Bagi kelas kapitalis dan para cecunguk mereka di universitas-universitas, sekolah-sekolah dan tempat belajar lainnya, sejarah harus diajarkan secara akademik dan bias tanpa relevansi sama sekali dengan keadaan hari ini. Mereka terus menjual mitos bahwa kelas dan kepemilikan pribadi adalah sesuatu yang telah eksis sejak awal guna membenarkan karakter “abadi” eksploitasi kapitalis dan anarki ekonomi yang mendarah daging dalamnya. Volume demi volume buku telah ditulis oleh para akademisi dan profesor terkemuka untuk membantah tulisan-tulisan Marxis, terutama tulisan mengenai Konsepsi Sejarah yang Materialis.

Kaum Marxis menekankan pentingnya mempelajari sejarah, bukan demi sejarah itu sendiri namun untuk mempelajari pelajaran-pelajaran besar yang terkandung dalamnya. Tanpa memahami bagaimana peristiwa-peristiwa berkembang, tidak mungkin kita bisa melihat perspektif masa depan. Lenin, misalnya, mempersiapkan Partai Bolshevik untuk Revolusi 1917 Oktober dengan analisis detail mengenai pengalaman Komune Paris dan peristiwa-peristiwa di Rusia pada 1905 dan Februari 1917.

Dengan cara inilah kita belajar dari sejarah. Marxisme adalah ilmu perspektif yang menggunakan metode Materialisme Dialektis untuk mengurai proses-proses perkembangan sejarah yang kompleks.

Filsafat Marxis mengamati hal ihwal bukan sebagai sesuatu yang diam namun sebagai sesuatu yang berkembang, bergerak dan hidup. Peristiwa-peristiwa historis dilihat sebagai proses. Namun evolusi tidaklah sesederhana pergerakan dari yang rendah menuju yang tinggi. Kehidupan dan masyarakat berkembang dengan cara yang kontradiktif, melalui “spiral dan bukan garis lurus; sebuah perkembangan melalui lompatan, bencana, dan revolusi; jeda dalam kontinuitas, transformasi kuantitas menuju kualitas; impuls-impuls internal menuju perkembangan, yang didorong oleh kontradiksi dan konflik dari berbagai kekuatan dan kecenderungan.” (Lenin.)

Engels mengekspresikan dialektika sebagai “pemikiran dasar yang hebat bahwa dunia tidak bisa dipahami sebagai suatu kumpulan hal-hal yang sudah ada, namun sebagai kumpulan proses-proses, di mana hal-hal yang tampaknya stabil, yang sebenarnya hanyalah bayang-bayang dalam pikiran kita, dalam konsep kita, melalui perubahan yang tak terinterupsi untuk menjadi ada dan tidak ada.” (Engels, Ludwig Feuerbach dan Akhir Filsafat Klasik Jerman).

Metode ini juga materialis dalam pandangannya. Gagasan-gagasan, teori-teori, program-program partai, dll. tidak jatuh dari langit melainkan selalu merefleksikan dunia dan kepentingan material. Seperti yang dijelaskan oleh Marx, “modus produksi dari kehidupan material mengkondisikan proses-proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual secara umum. Bukanlah kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, namun sebaliknya keberadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka”. (Marx, Sebuah Kontribusi untuk Kritik Ekonomi Politik)

Menggunakan metode ini, Marx mampu memaparkan:

“jalan menuju pembelajaran yang melingkupi semua hal dan komprehensif mengenai proses bangkitnya, berkembangnya, dan runtuhnya sistem-sistem sosio-ekonomis. Manusia menciptakan sejarah mereka sendiri namun apa yang menentukan motivasi orang-orang, atau massa -- dalam kata lain, apa jumlah total dari semua pertentangan ini dalam massa masyarakat manusia? Apa kondisi-kondisi obyektif dari produksi kehidupan material yang mendasari semua aktivitas sejarah manusia? Apa hukum perkembangan dari kondisi-kondisi ini? Marx menggeluti semua pertanyaan ini dan menunjukkan jalan menuju pembelajaran sejarah yang ilmiah sebagai satu proses tunggal yang, dengan segala keberagaman dan kontradiksinya, diatur oleh hukum-hukum yang pasti.” (Lenin, Karl Marx)

Komunisme primitif

Manusia purba berevolusi sekitar tiga juta tahun yang lalu dari sebuah spesies primata yang maju. Perlahan “manusia” primitif menjauh dari hutan dan bergerak menuju padang rumput; suatu perubahan yang ditemani oleh kemajuan dalam kelenturan dan kelincahan tangan. Postur tubuh menjadi semakin tegak. Ketika hewan-hewan lain memiliki organ-organ yang berbeda-beda untuk pertahanan diri (memotong, menggali, mencangkul, serta bulu tebal untuk kehangatan), manusia tidak memiliki ini semua. Untuk bertahan hidup mereka perlu mengembangkan satu-satunya kelebihan mereka, yaitu tangan dan otak. Melalui proses percobaan dan kegagalan, manusia mempelajari beragam keterampilan, yang kemudian diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Komunikasi melalui bahasa menjadi keharusan. Seperti dijelaskan oleh Engels, “penguasaan atas alam diawali dengan perkembangan tangan, dengan kerja, dan memperluas cakrawala manusia dengan setiap kemajuan”. Manusia merupakan makhluk sosial yang terpaksa berkelompok dan bergotong-royong demi keberlangsungan hidup. Tidak seperti binatang lain, mereka mengembangkan kemampuan untuk menggeneralisir dan berpikir abstrak. Kerja diawali dengan penciptaan perkakas. Dengan perkakas-perkakas ini, manusia mengubah lingkungan mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. “Binatang hanya menggunakan lingkungannya”, ujar Engels, “dan menyebabkan perubahan hanya dengan kehadirannya; Manusia dengan perubahannya membuat lingkungan melayaninya, dan menguasainya. Ini adalah perbedaan yang esensial dan final antara Manusia dan hewan-hewan lain, dan sekali lagi adalah kerja yang menciptakan perbedaan ini.” (Engels, Peran Kerja dalam Transisi dari Kera ke Manusia)

Bentuk-bentuk ekonomi manusia primitif sangatlah sederhana. Manusia merupakan hewan langka, dan mereka menjelajah dalam kelompok untuk mencari makanan. Kehidupan nomaden ini sepenuhnya menggunakan sistem mengumpulkan makanan atau meramu. Arkeolog menamai periode ini zaman batu tua. Henry Morgan, seorang antropolog awal, menamai periode ini periode tidak beradab. Pada masa itu dan selama beribu-ribu tahun sesudahnya, tidak ada kepemilikan pribadi. Semua hal yang dibuat, dikumpulkan, atau diciptakan, dianggap properti bersama.

Antara 10,000 dan 12,000 tahun yang lalu, muncul sebuah periode yang lebih tinggi, yaitu zaman batu baru atau Barbarisme. Manusia tidak lagi mengembara mencari makanan, karena telah terdapat kemajuan dalam bercocok tanam dan berternak. Manusia pun bebas untuk menetap di tempat-tempat tertentu dan karenanya perkakas-perkakas baru diciptakan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan yang baru, dan muncullah ekonomi produksi makanan. Suku-suku dan komunitas-komunitas yang stabil mulai ada pada masa ini. Bahkan hingga hari ini, karena berbagai sebab, banyak suku di Afrika, Pasifik Selatan dan Amerika Selatan yang masih ada di tingkat ini.

Walaupun tempat tinggal permanen sudah ada, rumah pribadi belumlah muncul; sebaliknya, rumah-rumah besar ditinggali bersama-sama. Dalam periode ini, tidak ada keluarga pribadi. Anak-anak diurus oleh seluruh suku.

Pada tingkat komunisme primitif (ketidakberadaban dan barbarisme, yaitu tahap yang lebih rendah dan lebih tinggi), tidak ada kepemilikan pribadi, kelas, kaum elite, polisi atau aparat koersif sosial (negara). Suku-suku terbagi menjadi unit-unit sosial yang disebut klan atau gente. Mereka adalah kelompok-kelompok keluarga yang sangat besar, yang menarik garis keturunan mereka dari galur perempuan. Inilah yang dinamakan masyarakat matriarkal. Mau bagaimana lagi jika mereka tidak bisa memastikan siapa bapak sang anak? Laki-laki dilarang tinggal bersama perempuan dari klan atau gen dia sendiri, maka suku terdiri dari koalisi klan-klan. Pada saat-saat tertentu, suatu bentuk pernikahan berkelompok eksis di antara klan-klan.

Bentuk masyarakat tanpa kelas ini sangatlah demokratis. Semua orang berpartisipasi dalam musyawarah umum untuk menentukan isu-isu penting yang muncul, dan ketua-ketua mereka dipilih untuk tujuan-tujuan tertentu. Seperti ditunjukkan Engels dalam bukunya, “Asal Muasal Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara:

“Betapa indahnya tatanan ini dalam kesederhanaannya yang alami! Tidak ada tentara, aparat dan polisi, tidak ada bangsawan, raja, penguasa, prefek atau hakim, tidak ada penjara, tidak ada tuntutan hukum, dan tetap saja seluruh kehidupan berlangsung dengan lancar. Semua pertengkaran dan percekcokan diselesaikan oleh seluruh komunitas yang terlibat di dalamnya, entah gen-gen atau suku atau berbagai Gente. Hanya dalam kasus-kasus langka balas dendam darah diberlakukan sebagai solusi ekstrem. Hukuman mati kita hanyalah bentuk yang lebih beradab dari balas dendam darah, yang dipenuhi oleh semua kelebihan dan kekurangan peradaban … rumah tangga komunistis dibagi dengan sejumlah keluarga, tanah dimiliki oleh suku, hanya taman yang diberikan kepada setiap rumah tangga untuk kurun waktu tertentu … Tidak ada orang yang miskin dan melarat -- rumah tangga komunistis dan Gente tahu tanggung jawab mereka terhadap kaum lansia, sakit, atau cacat. Semua orang bebas dan setara--termasuk kaum perempuan. Belum ada ruang untuk perbudakan, atau penundukan suku-suku asing”.

Bagi kaum filistin yang berpikiran sempit, yang melihat hak milik pribadi sebagai dewa yang suci, masyarakat-masyarakat macam ini dipandang dengan kebencian. Bagi masyarakat kesukuan, hak milik pribadi sama sekali tidak dikenal. “Suku-suku Indian,” ujar sejarawan Heckewelder, “percaya bahwa sang roh agung telah menciptakan bumi dan segala isinya, untuk kepentingan bersama manusia, ketika ia mengisi bumi dengan banyak hal dan memberi banyak hewan buruan, itu bukanlah untuk kepentingan segelintir orang, melainkan untuk semua orang. Semua hal diberikan untuk dipakai anak manusia bersama-sama. Apapun yang hidup di daratan, apapun yang tumbuh dari tanah, dan segala yang ada di dalam sungai dan perairan diberikan bersama-sama untuk semua, dan semua pantas mendapatkan porsinya.” (Heckewelder, Sejarah, tata krama, dan kebiasaan  bangsa-bangsa Indian yang pernah tinggal di Pennsylvania dan negara-negara bagian tetangga)

Hak milik umum suku mulai tertekan oleh perkembangan keluarga inti, dengan rumah-rumah pribadi yang mulai muncul di samping tempat tinggal komunal. Seiring berjalannya waktu, Tanah Bersama kemudian dibagi-bagi untuk membentuk hak milik kolektif masing-masing keluarga. Keluarga Matriarkis digantikan oleh bentuk Patriarkis (didominasi laki-laki), yang menjadi penting untuk kepengurusan hak milik kolektif.

“Keluarga” ini, bagaimanapun juga, tidak bisa dibandingkan dengan keluarga masa kini. Seperti dikatakan Paul Lafargue, “keluarga ini tidak direduksi menjadi ekspresinya yang paling sederhana dan mutakhir, seperti di masa kini, dimana ia terdiri dari tiga elemen yang tidak bisa ditanggalkan: ayah, ibu dan anak; pada zaman dahulu keluarga ini terdiri dari ayah, sebagai kepala keluarga yang diakui; istri yang sah, dan para selir, yang tinggal di bawah atap yang sama; anak-anaknya, adik-adik lelakinya dengan keluarga mereka masing-masing, dan saudara-saudara perempuannya yang belum menikah: keluarga macam ini terdiri dari banyak anggota”. (Lafargue, Evolusi Hak Milik).

Perkembangan hak milik pribadi dalam tahap akhir komunisme primitif dianggap oleh kaum Marxis sebagai elemen-elemen masyarakat yang baru dalam masyarakat lama. Pada akhirnya akumulasi kuantitatif dari elemen-elemen baru ini berujung ke perpecahan kualitatif masyarakat lama.

Dengan perkembangan alat-alat produksi baru, terutama dalam pertanian, muncullah pertanyaan siapa yang harus memilikinya? Kepemilikan perkakas, senjata, logam-logam baru, dan di atas segalanya sarana untuk menciptakannya, memungkinkan suatu keluarga untuk melampaui pergumulan hidup dan mati yang mengerikan melawan kuasa alam.

Kemudian dengan perkembangan tenaga produksi lebih lanjut (perdagangan awalnya berkembang antar komunitas), ketidaksetaraan mulai muncul dalam masyarakat. Ini memiliki efek yang mendalam terhadap Tatanan Lama. Untuk pertama kalinya, manusia mampu menciptakan surplus yang melebihi kebutuhannya sendiri, yang menghasilkan loncatan revolusioner ke depan bagi umat manusia.

Dahulu, ketika pecah perang di antara dua suku, menangkap tawanan perang sebagai budak tidaklah ekonomis. Tawanan hanya bisa memproduksi makanan yang cukup untuk dirinya sendiri. Tidak ada surplus yang dihasilkan. Satu-satunya kegunaan tawanan itu, dengan krisis bahan makanan yang ada, hanyalah sebagai sumber daging. Ini adalah basis ekonomi dari kanibalisme.

Namun ketika surplus bisa dihasilkan, maka memiliki budak yang dipaksa bekerja untuk majikannya menjadi hal yang ekonomis. Surplus yang didapatkan dari budak-budak yang jumlahnya semakin banyak kemudian diapropriasi oleh kelas baru, yakni kelas pemilik budak. Namun bagaimana cara mengontrol dan memaksa para budak untuk bekerja? Suku-suku lama tidak memiliki aparat polisi atau sarana-sarana koersi. Setiap individu itu bebas dan tahu bagaimana bertempur.

Produksi surplus menghancurkan bentuk-bentuk lama masyarakat, yang memungkinkan kelas-kelas untuk mengkristal. Keberadaan kelas-kelas ini membutuhkan aparat pemaksa untuk menundukkan satu kelas oleh kelas lainnya. Kaya dan miskin, pemilik tanah dan penghuni, kreditor dan pengutang, semua ini muncul dalam masyarakat. Klan-klan yang awalnya merupakan unit-unit sosial dengan hubungan darah mulai terurai. Kaum kaya dari klan-klan yang berbeda lebih memiliki kesamaan satu sama lain dibandingkan dengan kaum miskin dari klan mereka sendiri.

Masyarakat perbudakan

Walaupun penuh kekejaman dan kengerian, munculnya masyarakat kelas merupakan hal yang teramat progresif dalam memajukan masyarakat. Untuk pertama kalinya sejak manusia berevolusi dari kera, selapisan masyarakat terbebas dari kerja untuk mengisi perut mereka. Mereka yang terbebas dari kerja sekarang dapat mengabdikan waktunya demi sains, filsafat dan kebudayaan. Masyarakat kelas melahirkan imam-imam, juru tulis, pejabat pemerintahan dan pengrajin. Justifikasi historis dan fungsi historis kelas penguasa yang baru adalah untuk mengembangkan tenaga produksi dan membawa masyarakat lebih maju. Pada tahap inilah peradaban dimulai.

Institusi-institusi khusus sekarang diciptakan untuk menjaga kepentingan kelas penguasa. Badan-badan khusus bersenjata, dengan penjara-penjara, persidangan, algojo, dll., dan juga hukum-hukum yang baru diperlukan untuk menjaga hak milik pribadi si pemilik budak. Negara dengan berbagai institusinya pun muncul. Nilai-nilai kebebasan serta kesetaraan yang ada dalam tatanan masyarakat yang lama hancur berkeping-keping. Gagasan dan moralitas baru dikembangkan untuk menjustifikasi tatanan sosial dan ekonomi baru ini.

Pada abad ke-7 SM aristokrasi suku-suku di Yunani telah menjadi kelas penguasa, yakni tuan-tuan tanah yang kaya dan memiliki banyak budak. Menurut seorang filsuf Yunani Kuno, Aristoteles, mayoritas penduduk di Attica diperbudak pada masa itu.

Dengan berkembangnya negara-kota, divisi tenaga kerja semakin dipercepat. Tidak hanya antara kota dan desa, namun antara cabang-cabang usaha dan keuangan, pedagang dan kreditor. Kerajinan-kerajinan tangan baru muncul seiring berkembangnya para seniman guna memenuhi selera dan budaya kelas atas.

Kebutuhan negara-kota untuk meraup lebih banyak budak berujung pada peperangan tanpa henti. Dalam peperangan melawan Macedonia oleh kaum Romawi pada tahun 169 SM, 70 kota di Epirus dibumihanguskan dan 150,000 penghuninya dijual sebagai budak. Ekonomi budak sangat tidak efisien dan memerlukan suplai budak yang terus mengalir untuk mengganti mereka yang terluka atau mati. Reproduksi natural kaum budak sangatlah rendah karena kondisi kehidupan mereka yang keras, dan oleh karenanya satu-satunya cara untuk terus mempertahankan suplai budak adalah melalui penjajahan.

Walaupun produktivitas budak jauh lebih rendah dibandingkan petani bebas, ongkos untuk menjaga budak sangatlah rendah, sehingga membuat perbudakan jauh lebih menguntungkan. Penghancuran kaum tani bebas mendorong banyak orang untuk mengungsi ke kota, yang lalu membentuk lapisan lumpenproletariat dalam masyarakat perbudakan. Kaum ini bergantung pada amal dari kelas-kelas atas, yang memberi mereka sirkus sebagai hiburan untuk mereka.

Dalam periode inilah gerakan Kristen revolusioner muncul. Berawal dari sekelompok sekte-sekte Komunis primitif dengan kebencian mendalam kepada kekuasaan Romawi dan kaki-tangan mereka yang kaya, mereka mendapat banyak dukungan dari kaum miskin dan tertindas. Kaum Kristen revolusioner awal ini siap menggunakan kekerasan untuk menggulingkan kelas-kelas atas dan menciptakan “Surga di Bumi”. Oleh karenanya mereka dikejar-kejar oleh otoritas dan dieksekusi secara kejam dengan alasan pengkhianatan terhadap sang Kaisar. Beberapa abad kemudian, agama Kristen diangkat menjadi agama resmi negara setelah dibersihkan dari kebencian kelasnya. Kelas penguasa menggunakannya sebagai senjata untuk membohongi dan meninabobokan kelas-kelas bawah untuk menerima kehidupan mereka di bumi dan untuk menyebar ilusi akan kehidupan yang lebih baik di akhirat.

Semakin besar surplus yang didapatkan oleh para pemilik budak dari eksploitasi budak, semakin besar juga kemewahan, kesombongan, dan kemalasan mereka. Karena semakin banyak peperangan harus dikobarkan untuk meningkatkan populasi budak melalui penjajahan, Kekaisaran Romawi menjadi kewalahan. Perang tidak dapat dikobarkan tanpa prajurit dan prajurit terbaik adalah orang-orang desa. Kaum tani menghilang dengan cepat dan karena itu harus digantikan dengan prajurit upahan yang mahal dari wilayah asing. Era “budak murah” dengan cepat menuju ajalnya dan membawa kemunduran bagi Kekaisaran Romawi

Meskipun ada berbagai perlawanan dari kaum budak -- yang paling terkenal adalah yang dipimpin oleh Spartacus -- kaum budak ternyata bukanlah kelas revolusioner yang dapat membawa kemajuan bagi masyarakat. Seperti yang ditunjukkan oleh Marx, pertentangan kelas dapat berakhir “entah dalam rekonstruksi revolusioner masyarakat secara luas, atau dalam kehancuran bersama-sama kelas-kelas yang terlibat”. (Marx dan Engels, Manifesto Komunis) Karl Kautsky, seorang Marxis dari Jerman, menjelaskan bahwa “migrasi-migrasi besar, datangnya kaum barbarian Jerman yang berbondong-bondong bukan berarti kehancuran prematur dari sebuah kebudayaan tinggi yang berkembang, namun hanyalah akhir dari peradaban yang sedang sekarat dan terbentuknya basis bagi sebuah peradaban yang baru”. (Kautsky, Dasar-dasar Kekristenan)

Masyarakat perbudakan telah menciptakan lompatan jauh ke depan bagi umat manusia. Kita mengagumi hasil-hasil kebudayaan Mesir Kuno dan Babilonia. Kaum Yunani Kuno dan Romawi mengembangkan ilmu pengetahuan hingga tingkat tinggi. Hero sang filsuf telah menemukan prinsip-prinsip dasar mesin uap. Kontribusi Archimedes, Pythagoras dan Euclid memajukan matematika sampai suatu tahap yang sebenarnya sudah memadai untuk memulai ilmu teknik mesin. Walaupun demikian, masyarakat perbudakan telah mencapai limitnya, dan kebusukan-kebusukan internal dan faktor-faktor eksternal akhirnya membawanya pada kehancuran.

Munculnya feodalisme

“Abad-abad terakhir kehancuran Kekaisaran Romawi dan penaklukannya oleh kaum barbar telah menghancurkan sejumlah modus produksi: pertanian mengalami penurunan, industri luluh-lantak karena ketiadaan pasar, perdagangan entah mati atau telah dihentikan dengan kekerasan, populasi desa dan kota telah berkurang.” (Karl Marx, Ideologi Jerman)

Selama berabad-abad, massa barbarian menduduki Eropa; di Timur, bangsa Goth, Jerman dan Hun; di Utara dan Barat, bangsa Skandinavia; di Selatan, bangsa Arab. Seiring menaklukkan Eropa, mereka merampok kota-kota dan menetap di desa-desa, dimana mereka hidup dengan modus pertanian primitif.

Dalam komunitas-komunitas ini, mereka memilih kepala desa mereka. Namun seiring berjalannya waktu, kepala-kepala desa hampir selalu dipilih dari keluarga yang sama. Kepala keluarga dari keluarga berprivilese ini, secara turun-temurun, menjadi kepala desa. Peperangan antar desa berlangsung terus menerus, yang berujung pada tanah-tanah rampasan dibagi-bagi dengan bagian paling besar jatuh ke tangan kepala desa. Ia kemudian menjadi orang paling berkuasa dan kaya dalam komunitasnya. Dalam masa-masa genting, ia memberi perlindungan kepada orang-orang di bawahnya dan sebagai gantinya mereka berhutang kewajiban militer padanya. Para petani ini nantinya bisa keluar dari wajib militer dengan memberi upeti.

Otoritas kepala desa ini meluas hingga desa-desa di sekitarnya. Tuan tanah “memberikan keadilan, bantuan, dan perlindungan bagi para vasalnya, dan mereka, sebagai gantinya, memberikan kesetiaan dan jasa bagi tuan mereka”. (Lafargue, Evolusi Properti) Peperangan dan penjajahan menguatkan hubungan feodal ini. Kaum bangsawan dan baron bersama dengan prajurit-prajurit mereka membentuk sebuah hierarki sosial yang baru, yang dilestarikan dengan tenaga kerja yang disediakan oleh vasal-vasal mereka. Seperti yang diekspresikan oleh Lafargue:

“Begitu otoritas kaum bangsawan feodal terbentuk, ia menjadi sumber masalah bagi tanah yang harus ia jaga. Kaum baron, untuk memperluas wilayah mereka dan dengan demikian kekuasaan mereka, terus mengobarkan peperangan di antara mereka, yang hanya berhenti sewaktu-waktu dengan gencatan senjata sesaat untuk bercocok tanam … Yang kalah, bila tidak langsung dibunuh atau dimelaratkan, menjadi vasalnya sang penakluk, yang merampas sebagian tanah mereka dan vasal-vasal mereka. Baron-baron kecil menghilang di bawah kuasa baron-baron besar, yang menjadi feodalisme yang kokoh, dan mendirikan istana kebangsawanan dimana para vasal wajib tunduk padanya.” (Ibid)   

Dengan semakin dewasanya relasi feodal, mayoritas tanah pertanian di Eropa terbagi menjadi area-area yang disebut manor. Setiap manor memiliki tuannya sendiri dan para pejabat yang tugasnya adalah mengatur tanah tersebut. Tanah yang dapat digarap dibagi dua. Sekitar sepertiganya menjadi milik tuan dari manor tersebut (tanahnya disebut Demesne), sedangkan sisanya dibagi-bagi di antara para vasal. Padang rumput dan hutan digunakan sebagai Tanah Bersama (Common Land) -- peninggalan dari zaman Komunisme Primitif. Pertanian mengalami kemajuan besar dengan pengenalan sistem tiga ladang. Tanah bagian para vasal masih dipecah-pecah lagi menjadi bagian-bagian terpisah yang tersebar di seantero ladang, yang menyebabkan penurunan masif dalam produktivitas.

Struktur sosial yang terbentuk di bawah Feodalisme memunculkan kelas-kelas dan kelompok-kelompok baru. Struktur sosial ini menyerupai piramida, yang dikepalai oleh seorang raja, bangsawan, petinggi-petinggi gereja dan para uskup. Di bawah mereka ada para baron, adipati, gubernur dan ksatria. Di bagian paling bawah tatanan sosial ini kita temui penduduk bebas, kaum hamba (Bordar, Cotter, Villein), dan para budak.

Tidak seperti sekarang, dimana mayoritas kekayaan diciptakan di pabrik-pabrik, tanah menghasilkan hampir semua kebutuhan sosial. Maka tanah menjadi kepemilikan yang paling penting dalam sistem Feodal. Semakin banyak tanah yang dimiliki seseorang, maka semakin berkuasa seseorang. Kelas penguasa berkuasa lewat monopoli mereka atas tanah, dan kaum hamba terikat pada tanah ini. Di atas kertas sang Raja adalah pemilik dari seluruh tanah, namun dalam kenyataannya tanah-tanah ini diberikan pada para adipati, yang kemudian memberikan hak guna pada para bangsawan, yang memiliki banyak vasal di bawahnya untuk diberikan hak guna tanah yang jauh lebih kecil. Semua harus menyediakan jasa pada atasannya dalam bentuk kesiapan berperang, membayar pajak dan upeti, dll.

Tidak seperti budak yang tidak memiliki apa-apa, seorang hamba menetap di tanah tuannya. Tidak seperti budak, seorang hamba punya kepentingan dalam tanahnya. Ia memiliki lebih banyak hak dibandingkan budak: ia tidak dapat dijual (keluarganya juga tidak bisa dijual) dan diberikan keamanan, walaupun tingkat perhambaan dan kewajiban dari satu hamba ke hamba yang lain berbeda-beda. Sebagai ganti untuk tanah dan “hak-hak” ini, seorang hamba dipaksa bekerja untuk tuan tanahnya selama beberapa hari dalam seminggu, tanpa bayaran. Pengabdian-pengabdian lain juga dituntut darinya selama masa panen, dan kapanpun tuan tanah perlu bantuan. Kepentingan-kepentingan tuannya harus jadi nomor satu. Seorang hamba tidak bisa meninggalkan tanahnya dan harus mendapatkan izin dari tuan tanah jika anak-anaknya ingin menikah dari luar demesnenya (wilayahnya). Pajak dikenakan pada harta warisan seorang hamba dan pewaris perempuan harus mendapat izin dari tuan tanah.

Organisasi masyarakat berdasarkan kepemilikan tanah mendorong perkembangan modus produksi lebih jauh. Kali ini nilai lebih yang dihasilkan oleh kerja kaum hamba diapropriasi oleh kelas penguasa bangsawan maupun gereja.

Menurut sejarawan Meilly: “Adalah sebuah maksim ekonomi bahwa produktivitas meningkat seiring dengan semakin bebasnya masyarakat yang memastikan para pekerja mendapat bagian yang lebih besar dan lebih terjamin dari hasil kerja mereka. Dengan kata lain, bentuk sosial yang lebih bebas memiliki efek langsung dalam menstimulasi produksi.”

Seiring dengan terkristalisasinya kelas-kelas baru, bentuk-bentuk aparatus negara yang baru juga muncul untuk mempertahankan bentuk-bentuk kepemilikan feodal. Moralitas dan ideologi baru yang muncul dari bentuk-bentuk ini mengkokohkan relasi-relasi sosial. Gereja, yang menjadi semakin kuat, menyediakan fondasi spiritual untuk tatanan baru ini dan dengan itu Paus menjadi lebih berkuasa dibandingkan Raja atau Kaisar. Tanah milik Gereja meluas hingga antara sepertiga sampai setengah dari seluruh tanah di kerajaan-kerajaan Kristen. Upeti yang dikumpulkan mencapai 10 persen dari seluruh pajak penghasilan, pajak barang, dll.

Secara umum negara feodal tetaplah lemah hingga bangkitnya monarkisme absolut di abad ke-16. Sebagai akibatnya, peperangan terus menerus berkobar di antara para baron di daerah-daerah, dimana para baron perampok membangun kekuasaan dan prestise mereka, dan dengan demikian mengancam posisi monarki pusat. Usaha monarki pusat untuk menundukkan daerah adalah fitur yang karakteristik pada zaman itu. Kekalahan para baron provinsial ini, dengan peperangan dan konflik mereka yang terus-menerus, memungkinkan perdagangan berkembang ke tingkat yang lebih tinggi.

Perdagangan ada pada tingkat yang rendah. Tanah, pada kenyataannya, menghasilkan segalanya. Saat itu ekonomi merupakan ekonomi yang “alami” dan swasembada. Namun, dengan mulainya Perang Salib, ekspedisi-ekspedisi ke Tanah Suci, keperluan-keperluan baru pun muncul, dan para pedagang yang menyuplai kebutuhan-kebutuhan tersebut mulai menggelar pameran-pameran dagang besar di Perancis, Belgia, Inggris, Jerman dan Italia. Pameran-pameran dagang yang digelar secara periodik ini memainkan peran penting dalam pertumbuhan perdagangan Eropa, dan membantu mengukuhkan kelas pedagang kaya yang kuat. Relasi uang mulai mengikis kekangan masyarakat feodal.

Sejalan dengan perkembangan perdagangan, kota-kota pun tumbuh. Kelas pedagang yang muncul di kota-kota berbenturan dengan norma-norma tradisional dan batasan-batasan feodalisme.

Gereja, misalnya, menganggap praktik meminjam uang sebagai dosa, dan menggunakan ancaman ekskomunikasi terhadap mereka yang mempromosikannya.

Dalam bukunya yang sangat bagus, Man’s Worldy Goods, Leo Huberinan menjelaskan watak dari konflik ini:

“Seluruh atmosfer feodalisme adalah pengekangan, sementara seluruh atmosfer aktivitas pedagang di kota adalah kebebasan. Tanah kota dimiliki oleh tuan-tuan feodal, uskup, bangsawan, raja-raja. Tuan-tuan feodal ini awalnya memandang tanah kota mereka tidak berbeda dengan cara mereka memandang tanah-tanah yang lain … Seluruh relasi ini (kewajiban feodal, pajak, jasa) adalah feodal, yang didasarkan pada kepemilikan tanah. Dan seluruh relais ini telah berubah di kota-kota. Regulasi feodal dan hukum feodal ditetapkan oleh kebiasaan dan sulit diubah. Namun perdagangan pada dasarnya itu aktif, senantiasa berubah, dan tidak sabar dengan rintangan. Ia tidak bisa muat ke dalam bingkai feodal yang kaku.” (Huberinan, Barang-barang Duniawi Manusia)

Maka hubungan-hubungan lama harus ditantang dan diubah. Kota-kota mulai menuntut kebebasan dan kemandirian, dan undang-undang kota berangsur-angsur diterima, sebagian dengan persetujuan bersama, sebagian dengan paksaan.

Perdagangan itu sendiri memunculkan bentuk-bentuk kekayaan yang baru. Tanah tidak lagi menjadi sumber utama kekuasaan dan privilese, karena uang yang didapatkan dari perdagangan menjadi jauh lebih penting. Di kota-kota lahirlah oligarki pedagang kaya raya yang mengontrol dan meregulasi produksi individual skala kecil melalui sistem gilda. Dengan pembagian kerja lebih lanjut, Gilda Pengrajin pun dibentuk, yang terdiri dari Kepala Gilda, pekerja magang, dan pekerja ahli. Seiring bertambahnya kekayaan yang tercipta dari produksi, para kepala gilda (majikan para buruh) berbenturan dengan tajam dengan pekerja mereka. Pada abad ke-15, serikat pekerja ahli mulai terbentuk untuk menjaga kepentingan mereka.

Pengenalan ekonomi uang (yang masih sangat terbatas dalam masyarakat perbudakan) perlahan mencerabut dasar-dasar sistem feodal. Hukum-hukum dan kebiasaan feodal diubah untuk lebih mengikuti perkembangan baru ini. Kaum hamba bermigrasi ke kota-kota untuk mencari rezeki dan nilai uang mulai melampaui relasi-relasi lama: kewajiban kerja diganti dengan uang sewa tanah. Efek dari Wabah Hitam, sekitar pertengahan abad ke-14, sangat mempercepat proses ini. Sejarawan mengestimasi antara 30 dan 50 persen populasi Inggris, Jerman, Negara-negara Rendah dan Perancis binasa karena Wabah Hitam. Ini pada gilirannya menciptakan kekurangan buruh yang kronis, yang memaksa banyak tuan tanah untuk memperkenalkan kerja upahan untuk menanggulangi kesulitan mereka.

Bangkitnya monarki absolut

Negara-bangsa seperti yang kita kenal sekarang tidak selalu ada. Pada saat itu, orang-orang mengabdi tidak pada negara melainkan pada tuan-tuan feodal, kota-kota, lokalitas, atau gilda. Orang-orang tidak menganggap diri mereka orang Perancis, Inggris, dsb., melainkan penduduk suatu kota. Setiap kaum Nasrani merupakan anggota Gereja Katolik Roma, yang menguasai seluruh kerajaan Kristen, dan oleh karena itu merupakan kekuatan yang paling besar.

Dengan bertumbuhnya kekayaan di kota-kota, kelas kapitalis mulai muncul, yang menuntut kondisi yang cocok untuk perkembangan perdagangan tanpa halangan. Mereka menginginkan ketertiban dan keamanan. Perjuangan untuk merdeka dari tuan-tuan feodal mereka, peperangan terus-menerus antara para baron lokal, penjarahan yang mengikutinya, semuanya mengerucut pada kebutuhan akan sebuah otoritas sentral, sebuah negara-bangsa.

Konflik antara kaum monarki pusat dan para baron besar (konflik antara dua lapisan kelas penguasa) berakhir dengan kemenangan bagi sang raja. Ia didukung oleh para pedagang dan kelas menengah, yang menyediakan uang untuk memobilisasi pasukan-pasukan bersenjata yang ia perlukan. Kemunculan negara-bangsa bersama dengan monarki yang tersentralisir membawa kemajuan ekonomi yang besar. Sebagai imbal atas dukungannya, monarki memberikan monopoli dan privilese tertentu kepada sebagian kelas menengah, yang pada gilirannya berujung pada konflik antara monarki nasional dan kepentingan Gereja.

Akhir abad ke-15 merupakan awal dari ekspedisi-ekspedisi laut. Orang-orang seperti Columbus dan Vasco Da Gama dibiayai oleh para pedagang kaya untuk menemukan wilayah-wilayah baru untuk dieksploitasi dan “menyebarkan Firman Tuhan”. Perusahaan-perusahaan saham gabungan pun didirikan untuk membiayai eksploitasi yang lebih luas, demi hasil jarahan dan laba.

Dengan banyaknya laba dari pelayaran-pelayaran ini, banyak pedagang dan pemodal yang menjadi pusat kekuasaan dan kekayaan yang sebenarnya. Kaum bangsawan, aristokrat dan monarkis menjadi pengutang kepada pedagang-pedagang kaya. Sebuah keluarga bankir, yakni keluarga Fugger, bahkan dapat menentukan siapa yang akan jadi Kaisar dari Kekaisaran Romawi Suci!

Perkembangan-perkembangan ekonomi yang baru ini mendorong pertumbuhan kapitalisme. Basis ekonomi feodal mulai terkikis dengan tumbuhnya kekuasaan dan kekayaan kaum borjuasi yang mulai bangkit. Nilai-nilai, gagasan, filsafat, dan moralitas baru berevolusi dari relasi-relasi baru ini. Kelas penguasa lama dengan keras kepala melawan perubahan-perubahan ini.

Seperti dijabarkan oleh Marx:

“Pada tahap perkembangan tertentu, kekuatan produksi material dalam masyarakat berbenturan dengan relasi produksi yang ada atau--ini hanya mengekspresikan hal yang sama dengan bahasa hukum--dengan relasi properti dalam kerangka dimana mereka beroperasi. Dari bentuk-bentuk perkembangan kekuatan produksi relasi-relasi ini berubah menjadi penghalang mereka. Maka mulailah sebuah era revolusi sosial”.

Marx menambahkan: “Tidak ada tatanan sosial yang pernah dihancurkan sebelum seluruh kekuatan produksi yang cukup baginya telah dikembangkan, dan relasi-relasi produksi baru yang lebih superior tidak pernah menggantikan yang lama sebelum kondisi material untuk keberadaan mereka telah didewasakan di dalam kerangka masyarakat yang lama.” (Marx, Kontribusi untuk Kritik Ekonomi Politik)

Masyarakat yang lama telah dilemahkan dalam periode sebelumnya. Mungkin salah satu tantangan terbesar bagi tatanan lama adalah serangan terhadap agama Katolik. Dalam periode ini, Gereja bukan hanya sebuah institusi agama namun juga benteng utama ketertiban sosial. Selain merupakan tuan tanah yang berkuasa, Gereja mengumpulkan upeti dari semua pihak, memiliki singgasananya sendiri dan privilese-privilese spesial, mengontrol pendidikan dan membentuk pandangan politik dan moral orang-orang. Seperti dikatakan Charles I: “Orang lebih diperintah oleh mimbar Gereja dibandingkan pedang selama masa-masa damai.” Gereja menyensor buku-buku, dan menggunakan ancaman ekskomunikasi kepada para pembelot. Para sejarawan menyatakan bahwa ini adalah jaman yang sangat religius, namun ini sangat dilebih-lebihkan. Bukannya orang-orang benar-benar hidup mengikuti himbauan Alkitab, tetapi agama yang malah dipakai sebagai justifikasi untuk Tatanan Lama. Semua hal, termasuk pemikiran politik, diekspresikan dalam terma-terma religius. Mereka-mereka yang ingin menggulingkan sistem ini harus pertama-tama melawan monopoli Gereja Katolik.

Di awal abad ke-16, monarki-monarki absolut berbenturan dengan Gereja Katolik. Reformasi Protestan yang dimulai oleh Luther menyediakan senjata untuk melawan kuasa Kepausan. Di Inggris, Henry VIII pecah dari Gereja Katolik dan menjarah kekayaan biara-biara, yang dihabiskan dalam perang-perang di Eropa dan Irlandia yang mahal.

Revolusi kapitalis

Puritanisme Calvinis cocok dengan cara pandang dan moralitas kelas menengah kota dan desa yang sedang naik daun, dengan fokusnya pada kemandirian dan keberhasilan pribadi. Kelas menengah bangkit dengan cepat setelah beradaptasi pada inflasi yang merajalela antara 1540-1640, ketika harga-harga meningkat lebih dari empat kali lipat dan berbenturan dengan kelas penguasa lama.

Di Inggris, benturan antara borjuasi baru dan tatanan lama mengambil bentuk perang sipil. Angkatan Bersenjata Model Baru Oliver Cromwell memimpin kelas menengah dalam perjuangan bersenjata melawan sang Raja dan Tatanan Lama. Pada 1649, Raja Inggris dipenggal dan sebuah republik kapitalis dideklarasikan. Cromwell, yang bergantung pada dukungan militer, menetapkan dirinya sebagai kepala kediktatoran militer Bonapartis. Unsur-unsur demokrasi sayap kiri dan pendukung-pendukungnya (para leveller dan digger), yang mengancam hak-hak kepemilikan kapitalis, harus dibinasakan tanpa ampun. Sejak saat itu rezim bersandar pada basis sosial yang sempit: angkatan bersenjata. Rezim kapitalis di bawah kondisi krisis yang kritis ini mereduksi dirinya menjadi kediktatoran satu-orang secara Bonapartis.

Struktur feodal dilucuti bersama-sama dengan Dewan Bangsawan (House of Lords) dan monarki. Kelas penguasa lama telah dikalahkan, dan kelas-kelas bawah telah ditertibkan. Perlawanan kaum Parlementer dalam melawan sang Raja dilihat oleh para sejarawan dan bahkan beberapa orang pada zaman itu sebagai perlawanan melawan tirani dan demi kebebasan beragama. Namun seperti dikomentari oleh Marx:

“Sebagaimana kita tidak menghakimi seorang individu dari apa yang dia pikirkan tentang dirinya sendiri, kita juga tidak bisa menghakimi periode transformasi seperti ini dari kesadarannya, namun sebaliknya, kesadaran ini harus dijelaskan dari kontradiksi dalam kehidupan material, dari konflik yang ada antara kekuatan produksi sosial dan relasi produksi”. (Marx, Kontribusi untuk Kritik Ekonomi Politik)

Leon Trotsky, salah satu pemimpin Revolusi Rusia, pernah mengatakan: “Dalam sejarah revolusi selalu disusul dengan kontra-revolusi. Kontra-revolusi selalu melempar masyarakat ke belakang, namun tidak pernah hingga sejauh titik awal revolusi”. (Trotsky, Tesis Mengenai Revolusi dan Kontra-Revolusi) Demikianlah pada 1660 dan 1689 kaum borjuasi besar dengan tergesa-gesa membuat kompromi dengan elemen-elemen “borjuasi” aristokrat. Kaum monarkis dan Dewan Bangsawan dikembalikan, walaupun sejak saat itu mereka tidak pernah bisa memainkan peran yang sama seperti generasi-generasi sebelumnya, dan sebaliknya, mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari negara kapitalis. Kaum borjuasi menyibukkan diri mereka dengan urusan masa depan, dan memasung kelas-kelas di bawahnya dengan menahan kekuatan mereka.

Seratus tahun kemudian, revolusi Kapitalis Perancis diluncurkan hingga tuntas tanpa ada kompromi apapun. Revolusi Perancis, seperti halnya Revolusi Inggris, dimulai dengan perpecahan dalam kelas penguasa. Sang Raja dan menteri-menterinya berbenturan dengan Parlemen (yang merepresentasikan kaum bangsawan, kaum klerus, dan klik-klik istana, dll.) mengenai bagaimana caranya menghindari kebangkrutan negara. Penolakan kelompok Parlemen ini terhadap tirani pemerintahan berujung pada hal yang tidak terduga dan kerusuhan pecah di jalanan kota-kota. Ini membawa seluruh keresahan kelas menengah dan kelas bawah terhadap rezim ke titik didih. “Revolusi kaum bangsawan kemungkinan merupakan,” ujar George Rude, “babak pembuka dan bukan suatu revolusi yang, dengan menyatukan kelas menengah dan kelas bawah dalam aksi bersama melawan Raja dan aristokrasi, adalah hal yang unik di Eropa pada zamannya.” (Rude, Revolusi Perancis) Walaupun ada usaha-usaha reformasi dari atas, ini tidak cukup untuk mencegah revolusi dari bawah.

Seperti halnya semua revolusi rakyat, massa menyeruak ke dalam panggung sejarah. Yang paling rela berkorban maju ke garis depan, dan mendorong revolusi jauh ke kiri. Antara 1789 hingga 1793 rezim feodal lama dan aristokrat telah dihapus dengan tuntas. Rezim sekarang dikepalai oleh kelas menengah revolusioner, kaum Jacobin, yang didukung dan didorong oleh massa plebeian yang terdiri dari buruh upahan dan pengrajin kecil. Pergeseran ke kanan terjadi pada 1794 dengan terbentuknya pemerintah Direktorat. Pada gilirannya ini membuka jalan bagi kontra-revolusi politik yang baru, yang membawa ke tampuk kekuasaan rejim Napoleon Bonaparte. Kendati demikian tatanan yang lama telah dipatahkan, dan hak-hak kepemilikan borjuis tetap utuh. Pergeseran dalam kekuasaan politik ini tidak disertai dengan perubahan sosial ke belakang, dalam kata lain, ia tidak mengembalikan tatanan feodal, namun merupakan perubahan politik yang terjadi karena percekcokan antara berbagai seksi kelas kapitalis itu sendiri.

Kemenangan kapitalisme

Revolusi-revolusi besar borjuis membuka jalan untuk Kapitalisme. Perubahan-perubahan agraria memantapkan pertumbuhan agrikultur kapitalis, di mana tanah-tanah feodal lama dipecah-pecah dan dibagikan kepada warga desa. Di Inggris, sebelum revolusi sebagian aristokrat berubah menjadi kapitalis dan ini menyiapkan jalan untuk hancurnya kaum tani. Sekarang pemerintah, alih-alih mengerem perdagangan dan industri, malah mendukungnya.

Melalui perampasan, pembatasan dan penjarahan dan persaingan, modus-modus produksi terkonsentrasikan ke semakin sedikit orang. Penghancuran kaum tani menyediakan pasokan tenaga buruh untuk kota-kota. Struktur kelas menjadi lebih sederhana. Di satu sisi ada kaum kapitalis dan di sisi lain ada kaum proletariat yang tak memiliki properti. Yang dimiliki kaum buruh hanyalah kemampuan untuk bekerja. Satu-satunya cara mereka bisa hidup adalah dengan menjual kemampuan-bekerja mereka ke kaum kapitalis untuk ditukar dengan gaji. Dalam proses produksi ini, kaum proletariat memproduksi nilai yang lebih besar daripada upah yang mereka terima, dimana nilai lebih ini lalu diambil oleh kaum kapitalis. Dalam usahanya untuk meraup laba, di tengah persaingan dengan lawan-lawannya, kelas kapitalis terpaksa memperkenalkan metode-metode produksi yang baru, dan dengan cara inilah Kapitalisme telah, secara historis, memainkan peran progresif dengan terus-menerus memperbaharui kekuatan produksi.

Ekspor komoditas dan kemudian Kapital mendorong kelas kapitalis untuk menciptakan “sebuah dunia menurut gambar dan rupanya”. Kekuatan-kekuatan produksi, teknik dan sains secara bertahap berkembang melampaui negara-bangsa yang melindunginya.

Imperialisme

Sekitar 1870 sampai 1900, dunia mulai terbagi-bagi di antara negeri-negeri adidaya. Pada 1870 sepersepuluh dari Afrika telah terbagi-bagi; pada 1900 sekitar 9/10 bagian dari “Benua Gelap” tersebut ada di tangan Inggris, Perancis, atau salah satu kekuatan Eropa lainnya. Pada 1914 proses pembagian dunia ini telah tuntas, dan kapitalisme memasuki tahapannya yang tertinggi: Imperialisme. Perusahaan-perusahaan Trust dan monopoli raksasa telah berkembang dari periode-periode persaingan yang lebih awal. Negara semakin berfusi dengan monopoli dan institusi-institusi keuangan, dan lebih banyak melakukan hal-hal demi kepentingan sendiri. Produksi dalam epos ini disertai dengan ekspor modal.

Tahap imperialis membawa serta ancaman perang dunia, dalam perseteruan untuk pasar-pasar baru, dan sebagainya. Karena dunia sudah terbagi-bagi dan perkembangan produksi yang pesat, pasar sekarang hanya bisa didapatkan dari membagi-bagi kembali dunia yang secara niscaya mengarah ke konflik global. Perang dunia menunjukkan kontradiksi antara kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi di satu sisi dan negara-bangsa di sisi lainnya. Namun tidak seperti masyarakat-masyarakat sebelumnya Kapitalisme telah menyediakan syarat-syarat material untuk tatanan sosialis yang baru yang dapat menjanjikan kemakmuran untuk semua orang.

Kaum proletariat adalah satu-satunya kelas revolusioner yang konsisten dan mampu membawa Revolusi Sosialis hingga ke kesimpulannya. Ini berakar dari posisi mereka yang unik dalam produksi sosial. Kelas pekerja didisiplinkan dalam pabrik-pabrik dan dipaksa bekerja sama dalam proses produksi. Mereka mengorganisir diri di dalam serikat-serikat besar dan kemudian ke dalam partai mereka sendiri yang mandiri. Marxisme, tidak seperti teori-teori lainnya, menyediakan kepada kelas buruh sebuah ideologi dan tugas-tugas yang jelas dalam misinya untuk menumbangkan Kapitalisme. Partai Bolshevik, yang dipimpin oleh Lenin dan Trotsky, menyediakan sebuah model hidup bagi kaum buruh di seluruh dunia.

Kaum tani dan kelas menengah tidak mampu memainkan peran kepemimpinan karena posisi sosial mereka. Kaum tani tersebar di desa-desa, dan tidak memiliki konsep yang jelas mengenai persatuan atau internasionalisme. Lapisan-lapisan tengah dalam masyarakat ini mengikuti entah kaum borjuasi atau kaum proletariat.

Kaum tani pada kenyataannya adalah alat klasik Bonapartisme -- suatu rezim yang didasarkan pada angkatan bersenjata, yang menjaga keseimbangan antar kelas. Dalam epos imperialisme dan membusuknya kapitalisme monopoli, jika kelas buruh gagal memenangkan lapisan-lapisan tengah ini ke panji Sosialis mereka, maka lapisan tengah ini akan terdorong ke rangkulan reaksi.

Hukum perkembangan tak berimbang dan tergabungkan

Dari awalnya suatu sistem sosial yang progresif, Kapitalisme telah menjadi rintangan bagi produksi dan perkembangan manusia yang lebih lanjut. Marx percaya bahwa kaum proletariat akan merebut kekuasaan terlebih dahulu di negeri-negeri kapitalis maju seperti Inggris, Jerman, dan Perancis. Namun, dengan lahirnya Imperialisme, kapitalisme justru runtuh di mata rantainya yang paling lemah, yakni di Rusia yang terbelakang.

Masyarakat tidak berkembang dalam satu garis lurus, namun menurut hukum-hukum perkembangan yang tak-berimbang dan tergabungkan. Pertumbuhan masyarakat yang tidak merata dalam skala global terus-menerus diinterupsi oleh pengenalan produk-produk dan gagasan-gagasan baru dari sistem-sistem sosial yang berbeda. Keterbelakangan Rusia yang setengah feodal disertai dengan teknik-teknik produksi yang paling modern di kota-kotanya, karena mengalirnya modal asing yang besar dari Perancis dan Inggris. Kaum proletariat industri yang baru lahir dan menerima gagasan kelas buruh yang paling maju, yaitu Marxisme.

Di banyak negeri yang kurang maju, borok-borok seperti perlunya reforma agraria, autokrasi, penindasan nasional, dan stagnasi ekonomi, telah berujung pada ketidakpuasan yang besar. Tugas-tugas revolusi borjuasi demokratis, yang akan menyiapkan landasan untuk perkembangan kapitalis, entah mandek di tengah jalan atau tidak terpenuhi sama sekali.

Dalam negeri-negeri seperti ini kelas Kapitalis lahir terlalu terlambat untuk dapat memainkan peran serupa seperti kaum kapitalis pada abad ke-17 dan ke-18. Seperti di Rusia sebelum 1917, mereka terlalu lemah dan terikat oleh ribuan benang--lewat pernikahan dan ikatan ekonomi--pada kaum tuan tanah dan imperialis. Kaum kapitalis sekarang memiliki kebencian yang sama terhadap kaum proletariat yang sedang bangkit. Kelas kapitalis nasional lebih memilih untuk mempertahankan tatanan yang lama daripada mendorong kelas-kelas bawah untuk menuntaskan revolusi anti-feodal.

Satu-satunya kelas yang mampu menuntaskan revolusi adalah proletariat dengan menyatukan lapisan kaum tani miskin di sekitar mereka. Segera setelah kelas buruh berkuasa seperti pada  Oktober 1917, mereka lalu akan mampu memberikan tanah kepada kaum tani, menendang para imperialis dan menyatukan bangsa. Namun, kaum proletariat tidak akan berhenti di kebijakan-kebijakan ini, dan akan terus bergerak ke tugas-tugas sosialis: nasionalisasi industri, tanah, dan institusi-institusi keuangan.

Revolusi Rusia adalah peristiwa paling besar dalam sejarah umat manusia. Untuk pertama kalinya kelas buruh merebut kekuasaan, menyingkirkan kaum Kapitalis, tuan tanah dan mengorganisir sebuah “negara buruh yang demokratis”. Ini merupakan awal dari revolusi sosialis internasional dan secara penuh mengonfirmasi teori Revolusi Permanen.

Sayangnya, pengkhianatan terhadap revolusi sosialis di Jerman, dan di negeri-negeri lainnya, berujung pada terisolasinya Revolusi Rusia dalam sebuah negeri yang terbelakang dan luluh lantak. Kehancuran karena Perang Dunia I, buta huruf massal, perang sipil, dan kehabisan sumber daya merupakan beban yang berat bagi  kelas buruh yang lemah, dan berkontribusi pada degenerasi revolusi Oktober. Kondisi-kondisi obyektif inilah yang mendorong tumbuhnya birokratisme dalam negara, serikat dan Partai. Stalin naik ke tampuk kekuasaan di atas punggung kasta birokrasi yang baru ini. Individu dalam sejarah merepresentasikan bukan dirinya sendiri, namun kepentingan suatu kelompok, kasta, atau kelas dalam masyarakat.

Stalinisme dan kediktatorannya yang mengerikan tumbuh bukan dari Partai Bolshevik atau revolusi sosialis, namun dari keterisolasian dan keterbelakangan material Rusia. Stalinisme menghancurkan demokrasi buruh demi menjaga privilese dan kekuasaan birokrasi.

Walaupun demikian rezim Stalinis bersandar pada bentuk-bentuk kepemilikan baru dimana industri ternasionalisasi dan ekonomi terencana. Soviet-soviet (Dewan-dewan Buruh) dan demokrasi buruh dihancurkan dalam kontra-revolusi politik Stalinis. Hanya dengan revolusi politik yang baru kelas buruh Rusia mampu mengembalikan demokrasi buruh yang ada pada masanya Lenin dan Trotsky. Ini bukan berarti kembali pada kapitalisme, namun sebuah akhir bagi elite birokrat yang berprivilese, dimana massa ikut serta dalam menjalankan masyarakat dan negara.

Transformasi sosialis

Transformasi sosialis membuka jalan bagi sebuah bentuk masyarakat yang baru dan lebih tinggi dengan menghancurkan hal-hal yang merintangi perkembangan kekuatan-kekuatan produksi. Rintangan kepemilikan pribadi dan negara-bangsa dihilangkan, yang memungkinkan kepemilikan sosial untuk direncanakan menurut kepentingan mayoritas.

Revolusi Sosialis tidak bisa dibatasi di satu negeri saja, namun menempatkan revolusi global dalam prioritasnya. Perekonomian global dan pembagian kerja global yang diciptakan kapitalisme menuntut suatu solusi internasional. Perserikatan Sosialis Eropa dapat mempersiapkan fondasi untuk Federasi Negara Sosialis Global, dan perencanaan produksi internasional. Ini pada gilirannya akan menyediakan dasar untuk produksi yang terencana dan harmonis bagi pemenuhan kebutuhan manusia.

Salah satu tugas pertama kelas buruh yang menang adalah penghancuran mesin negara yang lama. Dalam semua masyarakat kelas negara muncul sebagai “organ kekuasaan kelas, suatu organ untuk penindasan suatu kelas oleh kelas lainnya”. (Lenin, Negara dan Revolusi). Ini menimbulkan pertanyaan, apakah kelas buruh memerlukan negara? Para anarkis menjawab tidak. Namun mereka gagal untuk memahami bahwa kekerasan tertentu diperlukan untuk menekan tuan-tuan tanah, bankir dan kapitalis yang lama. Kaum proletariat harus membangun suatu tipe negara yang baru untuk mewakili kepentingan-kepentingan mereka. Dalam sebuah negara buruh, mayoritas mengawasi minoritas kecil, yakni para mantan kapitalis, dan oleh karena itu mesin birokrasi yang masif seperti zaman dulu tidak diperlukan. “Kediktatoran Proletariat” atau Demokrasi Buruh, suatu sebutan yang lebih disukai Trotsky, sangat memperluas bentuk-bentuk tertinggi dari demokrasi borjuasi.

Demokrasi borjuasi didefinisikan oleh Marx sebagai sistem dimana kaum buruh menentukan setiap lima tahun seksi kelas penguasa yang mana yang akan menipu kepentingan-kepentingan mereka di Parlemen. Semua orang dapat mengatakan apapun yang mereka inginkan, selama dewan-dewan direktur perusahaan-perusahaan-lah yang menentukan apa yang akan terjadi.

Negara buruh yang baru akan memperluas demokrasi dari segi politik hingga ekonomi dengan menasionalisasi monopoli-monopoli besar. Organ-organ kekuasaan yang baru, seperti Soviet-soviet di Rusia, yang berdasarkan rakyat yang bersenjata, membentuk “badan kerja, eksekutif dan legislatif pada saat yang sama.” Birokrasi akan digantikan oleh keterlibatan massa dalam menjalankan negara dan masyarakat. Untuk mencegah munculnya kekuasaan birokrasi, kaum proletariat di Paris tahun 1871 dan Rusia tahun 1917 memperkenalkan kebijakan-kebijakan sebagai berikut:

  1. Pemilihan seluruh pejabat, dengan hak untuk merecallnya.
  2. Bubarkan badan-badan khusus bersenjata, yang digantikan dengan rakyat bersenjata.
  3. Tidak ada pejabat yang boleh menerima upah lebih besar daripada seorang buruh ahli.
  4. Jabatan-jabatan pemerintah harus digilir di antara rakyat.

Dengan pengurangan jam kerja, massa diberikan kesempatan untuk ikut serta dalam menjalankan negara, dan mendapatkan akses ke kebudayaan, sains, dan kesenian. Seperti pernah dikatakan oleh Engels, jika seni, sains dan pemerintahan tetap dimonopoli oleh minoritas, mereka akan menggunakan dan menyelewengkan posisi ini untuk kepentingan mereka sendiri, seperti apa yang terjadi dalam negeri-negeri Stalinis.

Dalam sejarah, negara muncul seiring kemunculan masyarakat kelas. Oleh karena itu, sejak kelahirannya negara buruh akan mulai pupus, seiring kelas-kelas itu sendiri larut dalam masyarakat. Inilah mengapa Engels mendeskripsikan negara proletariat sebagai “setengah-negara”. Seperti dikatakan Lenin:

“Di bawah sosialisme demokrasi ‘primitif’ niscaya akan dihidupkan kembali karena untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban, massa rakyat akan bangkit untuk secara mandiri mengambil bagian, tidak hanya dalam pengambilan suara dan pemilihan umum, namun juga dalam administrasi sehari-hari negara. Di bawah Sosialisme semua orang akan bergiliran memerintah dan kemudian akan terbiasa dengan tidak ada orang yang memerintah”. (Ibid)

Dalam tahap Sosialisme yang rendah ini, seperti yang disebut Marx, kita melihat masyarakat “sebagaimana mereka muncul dari masyarakat kapitalis; yang dalam segala aspeknya, secara ekonomi, moralitas dan intelek, masih memiliki tanda lahir dari masyarakat lama yang dari rahimnya ia muncul”. (Marx, Kritik Program Gotha) Walaupun eksploitasi manusia oleh manusia telah dihentikan, produksi belum mencapai tingkat yang cukup tinggi untuk sepenuhnya menghapus ketidaksetaraan atau perbedaan kelas. Manusia tetap harus mengikuti prinsip: “Ia yang tidak bekerja tidak akan makan”. Negara, meskipun memiliki karakter transisional, tetap menjadi penjaga ketidaksetaraan.

Masyarakat tanpa kelas

Dengan langkah-langkah besar dalam perkembangan produksi, yang berdasarkan ilmu pengetahuan yang paling maju dan perencanaan yang sadar, kemanusiaan memasuki fase yang lebih tinggi. Kelas-kelas dan negara akan pupus sepenuhnya, dan masyarakat sekarang mengadopsi  slogan “Dari setiap orang menurut kemampuannya, untuk setiap orangnya menurut kebutuhannya”. Antitesis antara kota dan desa, antara pekerjaan mental dan fisik menghilang dengan revolusi lebih lanjut dalam kekuatan-kekuatan produksi. Dalam kata-kata Lenin, “cakrawala sempit hukum borjuasi”, (Lenin, Negara dan Revolusi) yang membuat kita menghitung dengan dingin seperti Shylock apakah seseorang belum bekerja setengah jam lebih lama dibandingkan orang yang lain, apakah seseorang dibayar kurang dibandingkan orang yang lain--cakrawala sempit ini akan ditinggalkan. Masyarakat tidak perlu lagi mengatur berapa banyak barang yang seharusnya diterima oleh seseorang; semua dapat mengambil dengan bebas sesuai kebutuhan.

Karakter masyarakat kelas yang barbar akan berakhir untuk selama-lamanya. Masa prasejarah umat manusia akan tuntas. Kekuatan-kekuatan produksi yang dibangun selama beribu-ribu tahun masyarakat kelas sekarang menyediakan dasar bagi masyarakat tanpa kelas di mana negara dan pembagian kerja menjadi tidak lagi diperlukan. Umat manusia menetapkan tugas untuk menaklukkan alam, dan dengan demikian membuka keajaiban sains dan teknologi. Dalam kata-kata Engels, “pemerintahan terhadap manusia digantikan dengan administrasi hal-ihwal”. (Engels, Anti-Dühring)

Dan Trotsky menunjukkan bahwa “Setelah manusia menaklukkan kekuatan-kekuatan anarkis dalam masyarakatnya sendiri, ia akan mulai membentuk dirinya sendiri, seperti seorang kimiawan dengan penumbuk dan tabung reaksinya. Untuk pertama kalinya manusia akan menganggap dirinya sebagai bahan mentah, atau setidaknya sebagai produk yang setengah jadi dalam fisik dan mental. Sosialisme akan berarti sebuah lompatan dari alam keperluan menuju alam kebebasan dalam artian bahwa, bagi manusia hari ini, dengan segala kontradiksinya dan ketiadaan harmoni, akan membuka jalan bagi ras manusia yang baru dan lebih bahagia”. (Leon Trotsky, Mempertahankan Revolusi Rusia)

Diterjemahkan oleh Sekar dari “What is Marxism?” oleh Rob Sewell dan Alan Woods.

Bersambung ke Bagian 3: Ekonomi Marxis