facebooklogocolour

 Mengapa Kita Harus Mempelajari Sejarah Bolshevisme?

COVER BOLSH“Pada 1917, Rusia memasuki krisis sosial yang terbesar. Berdasarkan semua pelajaran sejarah, kita bisa mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa bila pada saat itu tidak ada Partai Bolshevik maka energi revolusioner rakyat yang begitu besar itu akan tersia-siakan dalam ledakan-ledakan sporadis, dan gejolak-gejolak besar itu akan berakhir dengan kediktatoran kontra-revolusioner yang paling kejam. Perjuangan kelas adalah penggerak utama sejarah. Ia membutuhkan program yang tepat, partai yang kokoh, kepemimpinan yang dapat dipercaya dan berani – bukan pahlawan-pahlawan dalam ruang gambar yang penuh dengan frase-frase revolusioner, tetapi kaum revolusioner yang siap berjuang sampai akhir. Inilah pelajaran utama Revolusi Oktober” (Leon Trotsky)[1]

Ada banyak kesamaan antara Revolusi Oktober di Rusia dan revolusi-revolusi borjuis di masa lalu. Sering kali kesamaan ini sungguh mengejutkan, bahkan mencakup kepribadian dari para dramatis personnae (aktor) utama, seperti kesamaan antara Charles I[2] dari Inggris dan Louis XVI[3] dari Prancis dengan Tsar Nikolas[4] dari Rusia, dengan istri-istri mereka yang berasal dari berbagai negeri asing. Tetapi dari semua kesamaan ini, ada perbedaan fundamental antara Revolusi Bolshevik dengan revolusi-revolusi borjuis masa lalu. Kapitalisme, tidak seperti sosialisme, dapat dan telah bangkit secara spontan dari perkembangan kekuatan-kekuatan produksi. Sebagai sebuah sistem produksi, kapitalisme tidak membutuhkan intervensi sadar manusia. Pasar berfungsi seperti sarang semut atau komunitas binatang lainnya yang self-organizing (mengorganisir diri sendiri), dalam kata lain pasar berfungsi secara buta dan otomatis. Kenyataan bahwa pasar berfungsi secara anarkis, penuh gejolak, dan kacau, bahwa ia sangatlah boros dan tidak efisien dan menciptakan kesengsaraan umat manusia, ini semua tidak relevan baginya. Kapitalisme “berfungsi” dan telah berfungsi – tanpa membutuhkan kontrol atau perencanaan manusia – selama 200 tahun. Untuk membawa sistem seperti ini ke dunia, tidak dibutuhkan pemahaman atau pengetahuan dalam yang luarbiasa. Fakta inilah yang menjadi perbedaan fundamental antara revolusi borjuis dan sosialis.

Sosialisme berbeda dari kapitalisme karena sosialisme membutuhkan kontrol dan administrasi proses produksi secara sadar oleh kelas buruh sendiri. Ia tidak akan dapat berfungsi tanpa intervensi sadar manusia. Revolusi sosialis berbeda secara kualitatif dari revolusi borjuis karena ia hanya dapat dimenangkan dengan gerakan kelas buruh yang sadar. Sosialisme harus demokratik, kalau tidak maka ia bukan sosialisme. Dari awal, dalam periode transisi dari kapitalisme ke sosialisme, jalannya industri, masyarakat, dan negara harus berada di tangan rakyat pekerja. Harus ada partisipasi yang paling luas oleh rakyat dalam administrasi dan kontrol. Hanya dengan demikianlah kita dapat mencegah bangkitnya birokrasi dan menciptakan kondisi-kondisi material untuk pergerakan ke arah sosialisme, sebuah bentuk masyarakat yang lebih tinggi dan tanpa eksploitasi, penindasan, dan pemaksaan, dan oleh karenanya negara, relik barbarisme yang mengerikan ini, akan hilang secara perlahan-lahan.

Ada satu lagi perbedaan. Untuk menaklukkan kekuasaan, kaum borjuasi harus memobilisasi massa untuk melawan kekuasaan lama. Mobilisasi ini akan mustahil bila dilakukan dengan deklarasi bahwa tujuan mobilisasi ini adalah untuk membentuk kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk kekuasaan Rent, Interest, and Profit (Sewa, Bunga, dan Profit). Alih-alih, kaum borjuasi mengedepankan diri mereka sebagai perwakilan dari seluruh umat manusia yang menderita. Di Inggris abad ke-17, mereka berjuang demi terbentuknya kerajaan Allah di muka bumi. Di Prancis abad ke-18 kaum borjuasi mempromosikan diri mereka sebagai perwakilan Rule of Reason (Kekuasaan Nalar). Banyak dari mereka yang berjuang di bawah panji ini sungguh-sungguh percaya pada tujuan-tujuan ini. Manusia tidak berjuang untuk hal-hal yang hampir mustahil, mengorbankan segalanya, tanpa motivasi yang lahir dari keyakinan yang membara akan kebenaran dari perjuangan mereka. Tujuan-tujuan mulia ini ternyata hanya ilusi saja. Isi sesungguhnya dari revolusi Inggris dan Prancis adalah borjuis, dan dalam epos tersebut ini tidak bisa tidak. Dan karena sistem kapitalis berfungsi seperti yang telah kita jelaskan di atas, tidaklah penting apakah orang-orang paham atau tidak bagaimana sistem ini berfungsi.

Karya ini, tidak seperti karya-karya lain dengan topik yang sama, tidak dimulai dengan pandangan bahwa revolusi hanyalah sejarah belaka. Situasi dunia hari ini menyediakan semakin banyak bukti bahwa peran progresif kapitalisme telah berakhir. Kondisi-kondisi material untuk sosialisme sudah matang dalam skala dunia. Sudah ada kemungkinan untuk menciptakan dunia yang berlimpah. Namun jutaan orang masih hidup dalam kesengsaraan yang tak tertanggungkan. Bila kita saksikan dunia kita hari ini, buku Lenin Imperialisme, Tahapan Tertinggi Kapitalisme sangatlah relevan. Kekuasaan bank-bank, monopoli-monopoli, dan perusahaan-perusahaan multinasional raksasa tidak pernah sebesar hari ini. Dan mereka tidak berniat menyerahkan kekuasaan ini tanpa perlawanan, seperti halnya monarki-monarki absolut di masa lalu. Syarat pertama untuk kemajuan umat manusia adalah menghancurkan kekuasaan para bangsawan-bangsawan modern ini. Untuk melakukan ini, pertama-tama kita harus mengalahkan dan menumbangkan perlawanan dari kelas yang hari ini memegang kekuasaan: para bankir dan monopoli yang mendominasi tidak hanya melalui kekuatan ekonomi mereka tetapi juga melalui kontrol mereka atas negara dan monopoli kebudayaan mereka.

Untuk memenuhi tugas-tugas ini, kelas buruh harus memiliki sebuah partai dan kepemimpinan yang mampu. Tidak seperti kaum revolusioner Prancis dan Inggris pada abad ke-17 dan ke-18, kelas buruh modern hanya bisa mengubah masyarakat berdasarkan pemahaman ilmiah akan dunia ini. Marxisme menyediakan pemahaman ini. Marxisme menyediakan sosialisme yang konsisten dan ilmiah. Sejarah Bolshevisme menyediakan kepada kita sebuah model bagaimana ini bisa dicapai. Dalam sejarah, kita akan menemui kesulitan untuk mencari contoh lain seperti Partai Bolshevik pada 1917, yang tumbuh dari 8000 anggota menjadi lebih dari seperempat juta dalam waktu 9 bulan. Namun pencapaian ini bukan karena ledakan spontan. Ini adalah hasil dari puluhan tahun kerja yang sabar, yang dimulai dengan lingkaran-lingkaran kecil dan melalui berbagai tahapan, dimana kemenangan yang spektakuler diikuti dengan kekalahan yang pahit, kekecewaan, dan keputusasaan. Kehidupan setiap manusia melalui momen-momen yang serupa. Semua pengalaman ini adalah kehidupan itu sendiri, dan bagaimana seorang mengatasi masalah-masalah kehidupan dan menyerap pelajaran dari berbagai macam situasi memungkinkan dia untuk tumbuh dan berkembang. Begitu juga partai. Kita juga mendapatkan pelajaran-pelajaran berharga dari pengalaman dan pengetahuan orang lain. Bayangkan betapa sulitnya kehidupan kita bila kita menolak mempelajari pengetahuan yang sudah terkumpul dari orang-orang yang ada di sekitar kita! Dan dengan cara yang sama, kita harus mempelajari pengalaman kolektif kelas buruh di berbagai negeri, dan dengan begitu menghindari kesalahan-kesalahan yang lampau. Seperti yang dikatakan oleh George Santayana, “dia yang tidak mempelajari sejarah akan mengulanginya lagi.”

Apakah Kita Memerlukan Partai?

Seluruh sejarah perjuangan kelas selama seratus tahun terakhir telah menjawab pertanyaan ini. Marxisme sama sekali tidak menyangkal pentingnya peran individu dalam sejarah, tetapi hanya menjelaskan bahwa peran yang dimainkan oleh individu atau partai dibatasi oleh perkembangan sejarah tertentu, oleh situasi objektif sosial, yang pada analisa terakhir, ditentukan oleh perkembangan kekuatan-kekuatan produksi. Ini tidak berarti – seperti yang dituduh oleh para pengkritik Marxisme – bahwa manusia hanyalah boneka dari “determinisme ekonomi”. Marx dan Engels menjelaskan bahwa manusia membuat sejarah mereka sendiri, tetapi mereka tidak melakukannya sebagai agen-agen yang sepenuhnya bebas, tetapi harus bekerja di atas dasar masyarakat yang ada saat itu. Kualitas-kualitas pribadi dari figur-figur politik – persiapan teoritis, kemampuan, keberanian, dan keteguhan mereka – dapat menentukan hasil dari sebuah situasi tertentu. Ada momen-momen kritis dalam sejarah manusia di mana kualitas kepemimpinan dapat menjadi faktor menentukan yang menggerakkan perimbangan kekuatan ke satu arah atau arah yang lain. Periode seperti ini bukanlah hal yang normal, tetapi hanya muncul ketika semua kontradiksi-kontradiksi yang tersembunyi menjadi matang perlahan-lahan sampai ke titik di mana, dalam bahasa dialektika, kuantitas berubah menjadi kualitas. Walaupun individu tidak dapat menentukan perkembangan masyarakat hanya dengan kekuatan kehendaknya sendiri, namun peran faktor subjektif pada akhirnya adalah faktor yang menentukan dalam sejarah manusia.

Kehadiran sebuah partai dan kepemimpinan revolusioner adalah satu hal yang menentukan dalam perjuangan kelas, seperti halnya kualitas serdadu dan kepemimpinan militer dalam peperangan. Partai revolusioner tidak dapat diimprovisasi saat ia dibutuhkan, seperti halnya kepemimpinan militerdalam peperangan tidak dapat diimprovisasi ketika perang pecah. Partai revolusioner ini harus dipersiapkan secara sistematis selama bertahun-tahun dan bahkan puluhan tahun. Pelajaran ini telah dibuktikan oleh sejarah, terutama sejarah abad ke-20. Rosa Luxemburg[5], seorang revolusioner dan martir besar kelas buruh, selalu menekankan inisiatif revolusioner massa sebagai motor penggerak revolusi. Dalam hal ini, ia sangat benar. Melalui jalannya revolusi massa belajar dengan cepat. Tetapi sebuah situasi revolusioner, karena watak dasar dari revolusi itu sendiri, tidaklah dapat berlangsung lama. Masyarakat tidak dapat berada dalam situasi bergejolak terus menerus. Harus ada jalan keluar, atau momen revolusioner ini akan hilang. Kaum buruh tidak punya cukup waktu untuk bereksperimen atau belajar lewat trial-and-error. Dalam situasi hidup-atau-mati, kekeliruan harus dibayar dengan mahal! Oleh karenanya, kita harus mengkombinasikan gerakan massa yang “spontan” dengan organisasi, program, perspektif, strategi, dan taktik – dalam kata lain, dengan sebuah partai revolusioner yang dipimpin oleh kader-kader berpengalaman.

Sebuah partai bukan hanya sebuah bentuk organisasional, bukan hanya sebuah nama, panji, atau sekumpulan orang-orang, atau aparatus. Bagi seorang Marxis, sebuah partai revolusioner pertama-tama adalah ide, program, metode, dan tradisi, dan hanya setelah itu sebuah organisasi dan aparatus (yang tentunya penting) untuk membawa gagasan-gagasan ini ke lapisan rakyat pekerja yang luas. Partai Marxis, sejak awalnya, harus mendasarkan dirinya pada teori dan program, yang merupakan kumpulan pengalaman kelas proletariat. Tanpa ini, partai tersebut bukanlah apa-apa. Pembangunan partai revolusioner dimulai dengan kerja yang panjang dan meletihkan untuk mengumpulkan dan mendidik kader-kader, yang akan menjadi tulang punggung partai selama masa hidupnya. Tetapi ini hanya setengah dari masalah kita. Yang setengah lagi lebih rumit: bagaimana meraih massa buruh dengan gagasan dan program kita? Ini bukanlah sebuah masalah yang sederhana.

Marx menjelaskan bahwa emansipasi kelas buruh adalah tugasnya kelas buruh sendiri. Massa kelas buruh belajar dari pengalaman. Mereka tidak belajar dari buku. Ini bukan karena mereka tidak pintar, seperti yang dibayangkan oleh orang-orang kelas menengah yang sombong, tetapi karena mereka tidak punya waktu, tidak punya akses ke kebudayaan dan kebiasaan membaca bukanlah sesuatu yang datang secara otomatis, tetapi harus dibangun. Seorang buruh yang pulang ke rumah setelah bekerja delapan, sembilan, atau sepuluh jam tidak hanya letih secara fisik tetapi juga mental. Hal terakhir yang dia inginkan adalah belajar atau menghadiri pertemuan. Lebih baik serahkan hal-hal seperti itu ke “mereka-mereka yang pintar”. Tetapi ketika pemogokan terjadi, seluruh psikologi ini berubah. Dan revolusi adalah seperti sebuah pemogokan besar seluruh masyarakat. Rakyat ingin tahu apa yang sedang terjadi. Mereka ingin belajar, ingin berpikir, dan ingin beraksi. Tentu saja, aksi-aksi massa rakyat, yang kurang pengalaman dan pengetahuan taktik, strategi, dan perspektif, menemui dirinya dalam kondisi yang tidak menguntungkan ketika menghadapi kelas penguasa, yang, dengan politisi-politisi dan perwira-perwira militer mereka, punya banyak pengalaman dan jauh lebih siap. Kelas penguasa punya berbagai macam senjata: negara, angkatan bersenjata, polisi dan pengadilan, pers dan media massa – yang merupakan instrumen yang luar biasa kuat untuk membentuk opini publik, memfitnah, berbohong, dan membunuh karakter. Kelas penguasa juga punya senjata-senjata lain: kontrolnya atas sekolah dan universitas, para “pakar”, profesor-profesor, ahli-ahli ekonomi, filsuf-filsuf, pengacara, pemuka-pemuka agama, dan banyak lainnya yang bersedia mencampakkan moralitas mereka untuk mempertahankan “peradaban ini” (yakni, privilese mereka sendiri dan juga para tuan mereka) dari “kekacauan” dan “massa”.

Kelas buruh tidak mencapai kesimpulan-kesimpulan revolusioner secara otomatis. Bila demikian, maka kita tidak perlu membangun partai. Tugas mengubah masyarakat akan menjadi sangat mudah bila gerakan buruh bergerak dalam garis yang lurus. Tetapi ini tidak demikian. Selama periode sejarah yang panjang, kelas buruh mencapai pemahaman akan perlunya organisasi. Melalui pembentukan organisasi, serikat buruh dan di tingkatan yang lebih tinggi organisasi politik, kelas buruh mulai mengekspresikan dirinya sebagai sebuah kelas, dengan identitas yang mandiri. Seperti yang dikatakan Marx, kaum buruh berubah dari kelas dalam dirinya sendiri menjadi kelas untuk dirinya sendiri. Perkembangan ini berlangsung selama sebuah periode sejarah yang panjang, melalui berbagai macam perjuangan, yang melibatkan tidak hanya minoritas aktivis yang kurang lebih sadar, tetapi juga “massa rakyat yang secara politik tidak terdidik”, yang secara umum terbangunkan dan menjadi aktif dalam kehidupan politik hanya melalui peristiwa-peristiwa besar. Melalui peristiwa-peristiwa sejarah yang besar, kelas buruh mulai membentuk organisasi-organisasi massa untuk membela kepentingan mereka. Organisasi-organisasi yang berevolusi secara historis ini – serikat buruh dan partai buruh – mewakili benih masyarakat yang baru dalam yang lama. Mereka berfungsi sebagai alat untuk memobilisasi, mengorganisir, melatih, dan mendidik kelas buruh.

Rakyat, yang baru terbangunkan ke dalam kehidupan politik, harus mencari partai politik yang paling mampu membela kepentingan mereka; partai yang paling teguh dan berani, dan juga partai yang menunjukkan dirinya paling memiliki visi, yang dapat menunjukkan jalan ke depan di tiap-tiap tahapan, dengan mengeluarkan slogan-slogan yang sesuai dengan situasi yang ada. Tetapi bagaimana menentukan partai mana dan program mana yang tepat? Ada begitu banyak partai dan program! Rakyat harus menguji partai-partai ini dan para pemimpin ini dalam praktek, karena tidak ada jalan lain. Proses estimasi secara suksesif ini sangat menghabiskan waktu, tetapi ini adalah satu-satunya cara. Di setiap revolusi – bukan hanya di Rusia 1917, tetapi juga di Prancis pada abad ke-18 dan Inggris abad ke-17 – kita saksikan proses yang serupa, dimana melalui pengalaman, melalui sebuah proses estimasi secara suksesif, massa menemukan jalan mereka ke sayap yang paling revolusioner. Sejarah dari setiap revolusi dikarakterkan dengan jatuh bangunnya partai-partai dan pemimpin-pemimpin politik, sebuah proses dimana tendensi-tendensi yang lebih ekstrem selalu menggantikan yang lebih moderat, sampai gerakan ini kehabisan tenaga.

Dalam sejarah gerakan kelas buruh dunia yang panjang, kita tidak akan mungkin menemukan sejarah yang begitu kaya dan berwarna-warni seperti Partai Bolshevik sebelum 1917. Sejarah sepanjang tiga dekade dan mencakup semua tahapan perkembangan dari lingkaran kecil sampai menjadi partai massa, yang melewati semua tahapan perjuangan legal dan ilegal, tiga revolusi, dua peperangan, dan dihadapkan dengan berbagai macam masalah teori yang kompleks, bukan hanya di atas kertas tetapi juga dalam praktek: terorisme individual, masalah kebangsaan, masalah agraria, imperialisme, dan Negara. Dan kita juga tidak akan mungkin menemukan harta karun literatur Marxis yang begitu luas dan kaya, yang menjawab semua permasalahan dari A sampai Z dengan begitu tajamnya, seperti dalam tulisan-tulisan dari dua tokoh revolusioner terbesar di abad ke-20 –Lenin (Vladimir Ilyich Ulyanov) dan Trotsky (Lev Davidovich Bronstein). Namun para pembaca hari ini yang ingin mempelajari karya-karya mereka akan menemui halangan yang teramat besar. Hampir semua literatur mengenai sejarah Bolshevisme ditulis oleh para musuh Bolshevisme. Dengan beberapa pengecualian, seperti karya sejarawan Marxis dari Prancis, Pierre Broué dan Marcel Liebman, mustahil kita bisa menemukan buku sejarah Partai Bolshevik yang layak baca. Akan tetapi karya Broué dan Liebman agak berbeda dari buku ini. Walaupun saya merekomendasikan karya mereka, mereka hanya berbicara secara parsial mengenai topik yang ingin saya kupas di sini, yakni bagaimana kaum Bolshevik mempersiapkan diri mereka untuk merebut kekuasaan pada 1917.

Mengenai Karya Ini

Karya ini ditulis oleh seorang Marxis yang berkomitmen, yang telah membaktikan seluruh kehidupan dewasanya untuk berjuang demi gagasan-gagasan Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky. Dengan menyatakan ini, saya tidak melihatnya sebagai sebuah kekurangan, tetapi justru sebaliknya. Saya tidak menganggap sejarah Bolshevisme hanya sebagai topik akademik, tetapi sebagai sesuatu yang hidup dan relevan untuk hari ini. Saya mengenal sejarah Bolshevisme bukan hanya dari buku-buku saja. Empat puluh tahun berpartisipasi aktif dalam gerakan Marxis telah memberi saya banyak pemahaman dalam yang tidak dimiliki oleh banyak penulis yang datang dari latar belakang akademik. Karl Kautsky[6], di hari-hari ketika dia masihlah seorang Marxis, menulis satu buku yang merupakan contoh terbaik dari metode materialisme historis – Fondasi Kekristenan. Di buku ini dia menggambarkan gerakan Kristen Perdana[7] dengan cara yang hanya mungkin dilakukan oleh seseorang yang punya pengalaman langsung dengan gerakan Sosial Demokrasi Jerman di masa-masa awalnya yang heroik, ketika Sosial Demokrasi berjuang di bawah tanah dam melawan Hukum Anti-Sosialis di Jerman[8]. Benar, konten sosial dari kedua gerakan ini sangatlah berbeda, seperti halnya momen sejarah dimana mereka berkembang. Walaupun begitu kesamaan-kesamaan antara dua gerakan revolusioner rakyat miskin melawan pemerintahan kaum kaya ini sangatlah mengejutkan, begitu juga perbedaan-perbedaannya.

Banyak sekali situasi yang dihadapi oleh para pelopor Marxisme Rusia yang sangatlah akrab bagi saya dari pengalaman pribadi saya; tidak hanya pengalaman kerja memperjuangkan gagasan Marxisme dalam gerakan Buruh Inggris, tetapi juga pengalaman gerakan revolusioner di Prancis 1968, di Portugal 1975, dan di Spanyol selama tahun-tahun terakhir kediktatoran Franco dan gerakan bawah tanah melawan kediktatoran Pinochet di Chili. Semua ini memberi saya banyak kesempatan untuk menyaksikan secara langsung situasi-situasi macam apa yang dihadapi oleh kaum Bolshevik dalam perjuangan panjang mereka melawan rejim Tsar. Selain itu, selama bertahun-tahun saya punya pengalaman pribadi dengan kerja kaum revolusioner di negara-negara Dunia Ketiga di Amerika Latin dan Asia – terutama Pakistan, yang memiliki ciri masyarakat semi-feodal yang sangat mirip dengan Rusia Tsar. Lalu juga, tiga puluh tahun yang lalu sebagai seorang mahasiswa di Uni Soviet, dimana saya memperoleh banyak materi untuk buku ini, saya bertemu dan berbincang dengan orang-orang yang berpartisipasi dalam Partai Bolshevik, termasuk, dalam satu kesempatan, dua nenek tua yang dulu bekerja sebagai sekretaris Lenin di Kremlin setelah revolusi. Saya percaya pengalaman-pengalaman ini telah memberi saya banyak pemahaman yang dalam akan watak Bolshevisme yang sesungguhnya.

Akhirnya, saya berhutang banyak pada Ted Grant[9], kameradsaya, kawan dan guru saya selama 40 tahun terakhir. Saya menganggap Ted tidak hanya sebagai seorang Marxis yang hebat, tetapi juga sebagai benang penghubung langsung – salah satu benang penghubung yang masih hidup – dengan tradisi-tradisi revolusioner masa lalu: Oposisi Kiri dan Partai Bolshevik itu sendiri. Berkat kerja dia selama 60 tahun terakhir, gagasan-gagasan Lenin dan Trotsky – pemimpin-pemimpin Revolusi Oktober – masih hidup dan berkembang. Karya ini ditulis sebagai volume pelengkap karya Ted Grant, Russia – From Revolution to Counter-revolution, dimana Ted menulis mengenai proses yang berlangsung di Rusia setelah Revolusi Oktober. Saya percaya bahwa dua karya ini menyajikan sebuah sejarah dan analisa Bolshevisme dan Revolusi Rusia secara komprehensif, dari hari-harinya yang paling awal sampai hari ini.

Saya sadar kalau bukanlah kebiasaan para sejarawan akademik Bolshevisme untuk “menyatakan kepentingan mereka” seperti yang sudah saya lakukan di sini. Ini sayang sekali, karena mayoritas besar dari mereka, walaupun mengklaimnetral, pada kenyataannya jelas dimotivasi oleh prasangka kebencian terhadap Bolshevisme dan revolusi secara umum. Terlebih lagi, komitmen terhadap sebuah cara pandang tertentu tidak berarti menihilkan objektivitas. Seorang dokter bedah dapat mengabdi dengan penuh semangat untuk menyelamatkan nyawa pasiennya, dan karena alasan ini ia dapat dengan sangat hati-hati membedakan organ-organ yang ingin dibedahnya. Saya telah mencoba secara objektif menulis mengenai topik ini. Karena tujuan buku ini adalah agar generasi yang baru dapat mempelajari semua pengalaman sejarah Bolshevisme, maka akan sangat bodoh dan konter-produktif bila kita menutup mata terhadap sejumlah masalah, kesulitan, dan kesalahan kaum Bolshevik.

Ketika Oliver Cromwell[10] dilukis fotonya, dia dengan keras menghardik sang artis agar “lukis aku seperti apa adanya – dengan kudis dan semuanya!” Sikap jujur yang sama, realisme blak-blakan yang sama selalu mengkarakterkan cara berpikir Lenin dan Trotsky. Dimana mereka membuat kesalahan, mereka tidak ragu-ragu untuk mengakuinya. Setelah revolusi, Lenin pernah mengatakan bahwa mereka telah melakukan “banyak kebodohan”. Ini jauh sekali dari tulisan kaum Stalinis yang memberikan gambaran yang keliru mengenai Partai Bolshevik, yang digambarkan selalu benar dan tidak pernah salah. Karya ini mengungkapkan sisi-sisi kuat Bolshevisme, tetapi tidak akan menyembunyikan masalah-masalah mereka. Kalau kita melakukan ini, maka ini akan sangat merusak perjuangan Leninisme bukan di masa lalu tetapi untuk hari ini dan masa depan. Agar generasi baru dapat mempelajari sejarah Bolshevisme, kita harus melukisnya apa adanya – “dengan kudis dan semuanya”.

Saya sengaja menggunakan banyak sumber dari orang-orang yang bukan Bolshevik, terutama penulis-penulis Menshevik seperti Dan, Axelrod, dan Martov, dan kaum Ekonomis Akimov. Setidaknya beberapa penulis borjuis, walaupun mereka kritis terhadap Bolshevisme, telah mengutip banyak materi yang relevan. Buku-buku seperti karya David Lane mengenai sejarah awal Sosial Demokrasi Rusia, atau buku Robert McKean St. Petersburg Between the Revolutions mengandung banyak materi yang langka. Buku McKean jelas ditulis sebagai antidot terhadap gambaran berlebihan mengenai kekuatan Bolshevik di tahun-tahun sebelum 1917, dan akan sangat berharga sekali bila saja sang penulis tidak terpengaruh oleh kebenciannya terhadap Bolshevisme. Kebanyakan yang lain bahkan lebih parah.

Setelah mempelajari materi-materi ini selama lebih dari 30 tahun, kesimpulan yang saya raih adalah ini: sumber terbaik untuk menemukan kembali sejarah Bolshevisme adalah tulisan-tulisan Lenin dan Trotsky. Tulisan-tulisan ini adalah harta karun informasi dan gagasan-gagasan yang bila diambil secara keseluruhan memberikan gambaran detil mengenai sejarah Rusia dan dunia dalam periode saat itu. Masalahnya adalah begitu banyaknya materi ini – 45 volume Lenin dalam bahasa Inggris, dan sekitar 10 lagi dalam bahasa Rusia. Trotsky mungkin menulis lebih banyak lagi, tetapi penerbitan karya-karyanya lebih terpencar-pencar. Otobiografinya yang brilian, My Life, buku monumentalnya History of the Russian Revolution, dan mahakarya terakhirnya, Stalin, menyediakan begitu banyak informasi mengenai sejarah Bolshevisme. Masalahnya adalah butuh waktu yang panjang sekali untuk membaca semua karya Lenin dan Trotsky. Oleh karenanya saya sengaja menggunakan cukup banyak kutipan panjang dari sumber-sumber ini, walaupun ini membuat buku ini lebih panjang dan padat. Meski demikian, bagi saya ini penting sekali, untuk dua alasan: 1) untuk mengantisipasi tuduhan kalau saya mengutip sepotong-sepotong; 2) untuk membuat pembaca tertarik membaca tulisan Lenin dan Trotsky. Karena, pada akhirnya tidak ada yang bisa menggantikan membaca karya-karya Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky.

Tanpa Partai Bolshevik, tanpa kepemimpinan Lenin dan Trotsky, kaum buruh Rusia, kendati semua heroisme mereka, tidak akan pernah dapat merebut kekuasaan pada 1917.Inilah pelajaran utama dari karya ini. Bila kita amati sejarah gerakan buruh internasional, kita dapat saksikan serangkaian kekalahan-kekalahan yang tragis dan berlumuran darah. Di sini untuk pertama kalinya, bila kita tidak ikut sertakan episode Komune Paris[11] yang singkat tetapi heroik itu, kelas buruh Rusia berhasil menumbangkan penindas mereka dan memulai tugas transformasi sosialis. Seperti yang dikatakan oleh Rosa Luxemburg, hanya mereka kaum Bolshevik yang berani. Mereka berhasil dengan brilian. Inilah “kejahatan” yang tidak pernah dapat dimaafkan oleh kaum borjuasi dan para apologis bayaran mereka. Sampai hari ini, kaum borjuasi hidup ketakutan setengah mati akan revolusi dan mendedikasikan tidak sedikit sumber daya untuk memerangi ini. Tugas mereka ini sangatlah terbantu oleh kejahatan-kejahatan Stalinisme. Pengkhianatan terhadap gagasan-gagasan Lenin oleh birokrasi Stalinis di Rusia akhirnya menuju ke kesimpulan logisnya: pengkhianatan terbesar dalam sejarah gerakan buruh, kehancuran Uni Soviet dan usaha kasta birokrasi penguasa untuk bergerak ke arah kapitalisme Hari ini, 80 tahun setelah Revolusi Oktober, semua pencapaian Revolusi Oktober sedang dihancurkan dan digantikan dengan barbarisme “pasar bebas”. Tetapi tidaklah pernah cukup bagi kelas penguasa hanya dengan menumbangkan revolusi. Mereka harus menghapus memori revolusi tersebut, menguburnya dengan kotoran dan fitnah. Untuk melakukan ini, mereka membutuhkan jasa-jasa para akademisi yang patuh, yang sangat bersemangat sekali untuk melayani dan mempertahankan “ekonomi pasar bebas” (baca “kekuasaan bank-bank dan monopoli-monopoli raksasa”). Inilah yang menjelaskan kebencian buta terhadap Lenin dan Trotsky, yang mewarnai semua tulisan para sejarawan borjuis Revolusi Rusia, yang bersembunyi di balik kedok netralitas.

Bagaimana Kaum Borjuasi “Menjelaskan” Revolusi Oktober

Sejarawan dari Skotlandia, Thomas Carlyle, ketika dia menulis mengenai revolusioner ulung Inggris Oliver Cromwell, mengeluh bahwa sebelum dia menulis dia pertama-tama harus menggali Cromwell dari bawah tumpukan bangkai-bangkai anjing. Sejarah pada umumnya tidaklah netral, dan terutama sejarah revolusi. Semenjak Revolusi Oktober, Partai Bolshevik dan para pemimpinnya telah menjadi sasaran kebencian dari semua kekuatan yang memusuhi Revolusi Oktober. Ini tidak hanya dari kaum borjuasi dan kaum Sosial Demokrat, tetapi juga dari berbagai elemen-elemen anarkis borjuis kecil dan semi-anarkis, dan terutama juga kaum Stalinis yang naik ke tampuk kekuasaan di atas mayat partainya Lenin. Mustahil menemukan sejarah Partai Bolshevik yang baik dari mereka. Walaupun universitas-universitas Barat terus menerbitkan buku tanpa hentinya mengenai aspek ini atau itu dari gerakan revolusioner Rusia, kebencian terhadap Bolshevisme dan Lenin serta Trotsky terus hadir dari halaman pertama hingga akhir.

Penjelasan yang biasanya diberikan oleh buku-buku sejarah Barat mengenai Revolusi Oktober adalah bahwa ini bukanlah sebuah revolusi tetapi sebuah kudeta yang digagas oleh segelintir orang. Tetapi “penjelasan” ini tidak menjelaskan apapun. Bagaimana menjelaskan segelintir “konspirator”, yang jumlahnya tidak lebih dari 8.000 pada bulan Maret, dapat memimpin kelas buruh untuk merebut kekuasaan hanya sembilan bulan kemudian? Penjelasan seperti inimengatakan secara tidak langsung bahwa Lenin dan Trotsky memiliki kekuatan mukjizat. Namun menggunakan penjelasan supranatural sebagai penjelasan sejarah tidak memberi kita pencerahan apapun. Ini hanya membawa kita ke satu tempat, yakni ranah agama dan mistisisme. Kita tidak menyangkal peran penting individu dalam proses sejarah. Peristiwa-peristiwa 1917 mungkin adalah konfirmasi paling jelas bahwa di bawah situasi tertentu individu dapat memainkan peran menentukan. Tanpa Lenin dan Trotsky, Revolusi Oktober tidak akan pernah terjadi. Tetapi menyatakan ini tidaklah cukup. Lenin dan Trotsky telah aktif dalam gerakan revolusioner selama hampir dua dekade sebelum revolusi, dan selama itu mereka tidak mampu memimpin revolusi dan untuk periode yang panjang mereka tidak punya pengaruh terhadap massa. Jelas tak masuk akal bila kita mengatributkan kemenangan Revolusi Oktober pada kejeniusan Lenin dan Trotsky semata.

Sudah terlalu banyak bukti bahwa Revolusi Rusia melibatkan kebangkitan massa yang tidak ada presedennya dalam sejarah. Terlalu banyak untuk dikutip di sini. Tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya sedang melakukan studi pasca-sarjana di Moskow, saya ingat percakapan saya dengan seorang perempuan yang sudah sangat tua, yang berpartisipasi sebagai seorang anggota Partai Bolshevik saat Revolusi Oktober di daerah Volga. Saya tidak ingat tepatnya dimana, dan juga lupa nama perempuan tersebut, tetapi saya ingat bahwa dia menghabiskan 17 tahun hidupnya di salah satu kamp kerja paksa Stalin, bersama dengan banyak kaum Bolshevik lainnya. Dan saya ingat satu hal lagi. Ketika saya tanya dia mengenai Revolusi Oktober, dia menjawab dengan dua kata, yang agak sulit diterjemahkan: “Kakoi pod’yom!” Kata “pod’yom” tidak ada terjemahannya dalam bahasa Inggris, tetapi kata itu kurang lebih berarti “kebangkitan spiritual”. Melebihi segunung statistik, kata ini menggambarkan intensitas massa rakyat yang memeluk revolusi ini, bukan hanya buruh, tani miskin, dan prajurit, tetapi juga perwakilan-perwakilan terbaik dari kaum intelektual (perempuan ini adalah guru sekolah). Revolusi Oktober menarik ke dalam dirinya semua yang terbaik, semua yang hidup dan progresifDan saya ingat bagaimana mata perempuan tua itu bersinar saat dia mengingat kembali kebahagiaan dan harapan pada saat itu. Hari ini, ketika sekumpulan orang-orang sinis berbaris dan bergiliran mencoreng memori Revolusi Oktober dengan lumpur, saya masih ingat wajah perempuan tua itu, yang tersirat bertahun-tahun kesengsaraan, namun bersinar ketika mengingat Revolusi Rusia kendati nasib buruk yang menimpanya dan generasinya.

Belakangan ini salah satu tendensi pemikiran sejarah borjuasi adalah menyerang Bolshevisme dengan menghidupkan kembali musuh-musuh politiknya, Ekonomisme, dan terutama Menshevisme. Salah satu sejarawan utama yang melakukan ini adalah Solomon Schwarz. Tesis utamanya adalah “secara fundamental, Bolshevisme menekankan inisiatif minoritas yang aktif; Menshevisme menekankan keterlibatan massa.” Dari pernyataan yang sejak awalnya sudah keliru ini, dia secara alami menyimpulkan bahwa “Bolshevisme mengembangkan konsepsi dan praktek diktatorial; Menshevisme tetap sepenuhnya demokratis.”[12] Buku ini akan menunjukkan bahwa pernyataan Solomon tidak punya dasar sama sekali. Buku ini akan menunjukkan bahwa Partai Bolshevik selama sejarahnya punya demokrasi internal yang sangat luas. Sejarah Bolshevik adalah sejarah pertarungan gagasan-gagasan dan tendensi-tendensi dimana setiap orang mengungkapkan pemikiran mereka dengan bebas. Demokrasi internal menyediakan oksigen yang dibutuhkan untuk perkembangan gagasan-gagasan yang pada gilirannya menjamin kemenangan. Ini jauh berbeda sekali dengan rejim partai-partai “komunis” di bawah Stalin yang totaliter dan birokratis.

Sajian terbaru dari sekolah sejarah anti-Bolshevik adalah bukunya Orlando Figes, A People’s Tragedy, the Russian Revolution 1891-1924. Di sini kita disajikan dengan sebuah gambaran revolusi yang datang langsung dari Infernonya Dante[13]. Sang profesor yang objektif dan ilmiah ini menggambarkan Revolusi Oktober sebagai sebuah “konspirasi”, sebuah “kudeta”, sebuah “kegilaan orang-orang mabuk”. Revolusi Oktober adalah “hasil dari kebangkrutan (degenerasi) revolusi urban (?), dan terutama gerakan buruh, sebuah kekuatan yang terorganisir dan konstruktif, dengan vandalisme, kejahatan, kekerasan umum dan penjarahan sebagai ekspresi utama dari keruntuhan sosial ini.”[14] Figes tahu bahwa kekacauan-kekacauan dan kemabukan-kemabukan yang dilakukan oleh elemen-elemen terbelakang dengan cepat dihentikan oleh Bolshevik. Insiden-insiden ini bersifat episodik dan tidak penting, namun di sini yang insidental digambarkan sebagai esensi dari revolusi. Bagi para pembela “ilmiah” dari tatanan sosial yang ada, memang esensi revolusi adalah kekacauan, kegilaan, dan chaos. Apa lagi yang bisa diharapkan dari massa rakyat? Mereka terlalu bodoh dan terbelakang untuk bisa memahami apapun, apalagi berkuasa. Tugas yang penuh tanggungjawab ini hanya boleh diemban oleh yang pintar saja. Biarlah para penebang pohon dan pengangkut air melakukan pekerjaan mereka, dan tinggalkan urusan memerintah masyarakat kepada para lulusan Universitas Cambridge.

Apakah kita bersikap tidak adil pada Tuan Figes? Mungkin kita salah membaca pesan dari bukunya yang sangat tebal itu? Biarlah sang penulis berbicara sendiri. Di Kongres Soviet, mayoritas besar memberikan dukungan mereka untuk mentransfer kekuasaan ke soviet. Fakta ini menjadi masalah bagi tesis utama Figes bahwa Revolusi Oktober adalah kudeta. Tetapi jangan khawatir! Figes punya jawaban untuk setiap masalah. Alasan mengapa rakyat mendukung kekuasaan soviet adalah karena mereka terlalu bodoh. Tuan Figes menulis: “Para delegasi yang mungkin terlalu bodoh untuk memahami signifikansi politik dari perbuatan mereka, mengangkat tangan mereka untuk mendukung [kekuasaan soviet]” [15]

Argumen bahwa mayoritas rakyat yang memilih dalam pemilu adalah “mungkin terlalu bodoh” untuk memahami isu-isu politik yang ada adalah argumen menentang demokrasi secara umum. Apa yang Figes coba katakan? Bahwa sebelum kaum Bolshevik dan sekutu-sekutunya meraih mayoritas di soviet-soviet, para buruh dan tentara tahu betul apa yang sedang terjadi. Tetapi pada Revolusi Oktober tiba-tiba mereka “mungkin terlalu bodoh” untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Argumen seperti ini tidak akan menipu siapapun. Bahwa para delegasi Kongres Soviet tidak punya ijazah Universitas Cambridge, ini dengan penuh penyesalan harus kita akui. Sebagai gantinya, mereka telah belajar beberapa hal selama Perang Dunia I dan sembilan bulan revolusi. Mereka tahu cukup jelas apa yang mereka inginkan: perdamaian, roti, dan tanah. Dan mereka tahu bahwa Pemerintahan Provisional[16] dan para pendukung pemerintahan ini – kaum Menshevik dan Sosialis Revolusioner – tidak akan memberikan apa yang mereka inginkan. Mereka juga belajar dari pengalaman mereka bahwa satu-satunya partai yang akan memenuhi apa yang mereka inginkan adalah Partai Bolshevik. Semua ini mereka pahami dengan sangat baik tanpa harus lulus ujian.

Tentu saja setiap orang punya hak untuk menulis sejarah dari sudut pandang anti-revolusioner. Tetapi akan jauh lebih baik kalau sejak awal menyatakan bahwa tujuan utama dari tulisan tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa revolusi tidak ada gunanya, dan oleh karenanya para pembaca akan jauh lebih baik menerima sistem kapitalisme. Namun, pengakuan seperti ini tidak dapat dilakukan oleh para sejarawan.

Sekolah Kebohongan Stalin

Sumber utama sejarah Bolshevisme lainnya adalah dari setumpukan buku-buku yang diterbitkan selama puluhan tahun di Uni Soviet dan disebarluaskan oleh Partai-partai Komunis Stalinis di seluruh dunia. Dari semua ini, sama mustahilnya kita bisa mendapatkan kebenaran mengenai sejarah Bolshevisme. Setelah merebut kekuasaan di bawah kondisi keterbelakangan, dimana kelas buruh yang letih tidak mampu mempertahankan kendali di tangannya, kaum birokrasi terpaksa bermulut manis mengenai Bolshevisme dan Revolusi Oktober. Dengan cara yang sama kaum birokrasi Internasional Kedua[17] bermulut manis mengenai “sosialisme” sementara menjalankan kebijakan borjuis, dan Paus Roma bermulut manis mengenai ajaran-ajaran Kristen Perdana. Birokrasi penguasa di USSR, sementara membaringkan tubuh Lenin di mausoleum, mengkhianati semua gagasan-gagasan dasar Lenin dan Revolusi Oktober. Mereka mengotori panji Bolshevisme yang bersih dengan fitnah dan darah. Untuk mengonsolidasi kekuasaan mereka, kasta birokrasi penguasa ini harus menghancurkan kaum Bolshevik Tua. Seperti semua penjahat, Stalin tidak ingin ada saksi yang dapat bersaksi melawannya. Fakta ini menentukan buku-buku sejarah di USSR.

Seringkali ditekankan kalau Bolshevisme dan Stalinisme itu pada dasarnya sama. Ini adalah kebohongan yang ada di belakang semua fitnah para sejarawan borjuis. Tetapi Negara Buruh demokratis yang didirikan oleh Lenin dan Trotsky pada Oktober 1917 sama sekali tidak ada kesamaannya dengan rejim birokratis-totaliter yang dipimpin oleh Stalin dan para penggantinya. Kemenangan Stalin dan birokrasi -- yang merupakan akibat dari keterisolasian revolusi di bawah kondisi keterbelakangan, kemiskinan, dan buta huruf -- berarti pencampakan gagasan, tradisi, dan metode Lenin dan berubahnya Internasional Ketiga[18] dari kendaraan revolusi dunia menjadi instrumen kebijakan luar negeri birokrasi Moskow. Pada 1943, setelah digunakan secara sinis oleh Stalin sebagai instrumen kebijakan asing Moskow, Komunis Internasional dikubur dengan cara yang memalukan, tanpa kongres. Warisan politik dan organisasi Lenin mengalami pukulan besar selama satu periode sejarah. Kenyataan ini mewarnai bagaimana orang-orang memandang sejarah Bolshevisme. Bahkan para penulis yang bermaksud baik (belum lagi yang bermaksud buruk) tidak bisa tidak berpandangan buruk ketika melihat kejahatan-kejahatan rejim Stalinis yang sangatlah asing bagi tradisi demokratis Bolshevisme.

Untuk bisa menang, Stalin harus menghancurkan rejim demokratis yang didirikan oleh Revolusi Oktober. Partai Bolshevik menorehkan dalam programnya pada 1919 empat kondisi untuk kekuasaan Soviet:

1) Pemilu yang bebas dan demokratis dengan hak recall bagi semua pejabat

2) Tidak boleh ada pejabat yang menerima gaji lebih tinggi daripada seorang buruh terampil

3) Rakyat yang bersenjata, dan bukan badan-badan khusus orang-orang bersenjata

4) Perlahan-lahan, semua tugas menjalankan pemerintah harus dilakukan oleh semua orang secara bergiliran. Ketika semua orang adalah birokrat, maka tidak akan ada lagi birokrat.

Kondisi-kondisi ini, yang dipaparkan oleh Lenin di buku Negara dan Revolusi, adalah berdasarkan program Komune Paris. Seperti yang dijelaskan oleh Engels, Negara Buruh bukan lagi Negara dalam artian yang lama, tetapi sebuah Semi-Negara, sebuah rejim transisional yang tujuannya adalah untuk mempersiapkan jalan ke transisi menuju sosialisme. Ini adalah gagasan demokratis yang dipraktekkan oleh Lenin dan Trotsky setelah Revolusi Oktober. Sama sekali tidak ada kesamaannya dengan rejim birokratis dan totaliter di bawah Stalin dan para penerusnya. Terlebih lagi, rejim birokratis ini hanya bisa berdiri di atas basis kontra-revolusi politik, yang melibatkan pembasmian secara fisik partainya Lenin: Pengadilan-Pengadilan Pembersihan pada 1930an. Mari kita kutip satu statistik untuk membuktikan ini. Pada 1939, dari anggota-anggota Komite Pusat 1917 di masanya Lenin, hanya tiga yang masih hidup: Stalin, Trotsky, dan Alexandra Kollontai. Selain Lenin dan Sverdlov yang meninggal secara alami, sisanya dibunuh atau terdorong untuk bunuh diri.[19] Kamenev dan Zinoviev dieksekusi pada 1936. Bukharin, yang Lenin katakan sebagai “favorit Partai” dieksekusi pada 1938. Nasib yang sama dialami oleh puluhan ribu kaum Bolshevik di bawah rejim Stalin. Hanya satu suara yang terus menggema mengutuk kejahatan-kejahatan Stalin dan mempertahankan warisan Bolshevisme yang sesungguhnya. Suara ini dibungkam pada 1940, ketika Leon Trotsky, seorang revolusioner sepanjang hidupnya, pemimpin insureksi Oktober dan pendiri Tentara Merah yang pertama di dunia, akhirnya dibunuh di Meksiko oleh salah seorang agennya Stalin.

Kepada mereka yang terus bersikeras kalau Stalinisme itu sama dengan Leninisme, kita berhak menanyakan kepada mereka pertanyaan ini: bila rejim Lenin dan Stalin benar-benar sama, mengapa Stalin hanya bisa berkuasa setelah secara fisik membasmi generasi Bolshevik Tua?

Di bawah Stalin dan para penggantinya, semua yang berhubungan dengan Revolusi Oktober dan sejarah Bolshevisme ditutupi dengan kabut pekat distorsi yang berisi mitos-mitos. Ini dijadikan sejarah Uni Soviet setelah kematian Lenin. Tradisi Bolshevisme yang sesungguhnya dikubur di atas tumpukan tebal kebohongan, fitnah, dan distorsi. Hubungan antara partai dan kelas, dan juga, terutama antara partai dan kepemimpinan, dipresentasikan dalam bentuk karikatur birokratis. Sejarah-sejarah resmi dari pemerintahan Soviet memberikan sebuah gambaran yang terlalu sederhana dan dari satu sisi saja mengenai hubungan antara Partai Bolshevik dan gerakan massa. Kesan yang diciptakan adalah bahwa di setiap langkah Partai Bolshevik adalah sebuah kekuatan yang menggerakkan revolusi dengan mudahnya seperti seorang konduktor musik yang mengayun-ayunkan tongkat musiknya di hadapan orkestra yang menurut dan disiplin. Dari versi semacam ini, kita tidak akan dapat mempelajari apapun mengenai Partai Bolshevik, Revolusi Rusia, atau dinamika revolusi secara umum. Ini tentu saja bukan sebuah kebetulan karena tujuan sejarah di bawah kekuasaan birokrasi Stalinis adalah bukan untuk mendidik orang untuk menciptakan revolusi tetapi untuk mengagung-agungkan kasta penguasa dan menjaga mitos kepemimpinan yang tidak pernah salah di atas Partai yang tidak pernah salah. Ini tidak ada hubungannya dengan Partainya Lenin, kecuali namanya saja yang sama. Dengan cara yang sama semua monarki, terutama dinasti yang telah merebut kursi singgasana, berusaha menulis ulang sejarah untuk menggambarkan pendahulunya sebagai penguasa yang agung dan memiliki kekuatan manusia super. Kalaupun ada beberapa hal yang sesuai dengan kebenaran, ini hanya kebetulan saja.

Sebagai sumber, sejarah dari kaum Stalinis tidak ada gunanya. Menggambarkan sejarah Bolshevisme seperti yang dilakukan mereka ini – yakni sebagai sebuah garis lurus yang terus naik, sampai ke perebutan kekuasaan – adalah sama dengan meninggalkan ranah sejarah yang serius dan memasuki hagiografi (penulisan biografi orang-orang kudus). Di sini saya hanya menggunakan satu sumber dari Soviet: Istoriya KPPS (Sejarah Partai Komunis Uni Soviet) yang diterbitkan di USSR di bawah rejim Nikita Khrushchev yang relatif “liberal” pada akhir 1950an dan awal 1960an. Ini mungkin adalah sejarah PKUS yang paling detil yang terbit di Uni Soviet. Sumber ini berguna karena banyaknya materi di dalamnya, kebanyakan dari arsip-arsip partai yang sebelumnya dirahasiakan. Tetapi, pada dasarnya, ini sama biasnya seperti sejarah-sejarah Stalinis lainnya, dan bahkan informasi-informasi faktual dari sumber ini harus digunakan dengan hati-hati.

Kebohongan-kebohongan Baru

Ini bukanlah tempatnya untuk berbicara mengenai peristiwa-peristiwa di Rusia setelah kematian Lenin sampai hari ini. Topik ini adalah tema dari buku Russia – From Revolution to Counter-Revolution yang sudah dirujuk di atas. Pendeknya, keterisolasian Revolusi Rusia dalam kondisi keterbelakangan ekonomi dan kebudayaan yang mengerikan niscaya menghasilkan kebangkitan kasta birokrasi penguasa yang menghancurkan tradisi Bolshevisme dan menghancurkan secara fisik Partai Bolshevik, dan akhirnya melikuidasi satu-satunya pencapaian progresif Revolusi Oktober – nasionalisasi dan perencanaan ekonomi. Seperti yang diprediksi oleh Trotsky, konsekuensi dari restorasi kapitalisme adalah ambruknya kekuatan produksi dan kebudayaan yang paling parah. Rakyat Rusia harus membayar sangat mahal usaha kaum birokrasi untuk mengubah dirinya menjadi kelas penguasa dan mengkonsolidasikan kekuasaan dan privilesenya dengan bergerak ke kapitalisme.

Seperti yang kita prediksi sejak awal, ini akan menemui perlawanan dari kelas buruh pada tahapan tertentu. Benar, proses ini telah tertunda. Tetapi bagaimana mungkin tidak? Periode panjang di bawah kekuasaan totaliter, dan sebagai akibatnya gagasan sosialisme dan komunisme terdiskreditkan secara parsial; kebingungan dan disorientasi besar akibat runtuhnya USSR; dan kemudian runtuhnya kekuatan produksi yang tidak ada presedennya yang untuk sementara waktu mengejutkan para buruh. Akhirnya, dan yang paling penting, absennya sebuah partai Komunis yang sejati, yang berdiri di atas program, metode, dan tradisi Lenin dan Trotsky. Semua ini telah melempar gerakan jauh ke belakang. Tetapi hari ini banyak hal sedang berubah di Rusia. Kendati tidak adanya kepemimpinan, kelas buruh lewat pengalaman mereka perlahan-lahan meraih kesimpulan-kesimpulan yang diperlukan. Cepat atau lambat gerakan buruh akan memperjuangkan program, kebijakan, dan kepemimpinan Leninis.

Dengan runtuhnya Stalinisme, sejarah-sejarah yang tua ini telah masuk ke tong sampah. Tetapi menggantikan mereka adalah kebohongan anti-Bolshevik yang baru dan bahkan lebih kotor. Restorasi kapitalisme di Rusia telah mengembangbiakkan “sejarawan-sejarawan” baru yang begitu bersemangat memenuhi perintah tuan-tuan baru mereka, dengan menerbitkan berbagai “pengungkapan-pengungkapan baru”. Kenyataan bahwa apa yang mereka tulis hari ini berkontradiksi dengan apa yang mereka tulis kemarin sama sekali tidak mengganggu mereka, karena tujuan mereka bukan untuk mencari kebenaran tetapi untuk mendapatkan uang dan melayani kaum kapitalis. Selama puluhan tahun, makhluk-makhluk ini menggambarkan Lenin seperti gereja Ortodoks menulis mengenai kehidupan para santo, lengkap dengan mukjizat-mukjizat, dan tanpa banyak bukti ilmiah. Mereka menyembah birokrasi Stalinis yang membayar mereka banyak uang untuk menulis sampah-sampah ini, dan pada umumnya mereka berlaku seperti pelayan-pelayan teladan. Hari ini Tuan mereka telah berubah, dan mereka melompat dengan begitu lincahnya seperti anjing sirkus. Dari melantunkan lagu-lagu pujian untuk Stalin, Brezhnev[20], dan Gorbachev[21], mereka sekarang melantunkan pujian untuk “Pasar”.

Para penulis Rusia modern ini punya moralitas dan nilai-nilai yang sama dengan “Rusia baru”, yakni nilai-nilai pasar, dalam kata lain nilai-nilai hutan belantara. Untuk memastikan datangnya kekayaan-kekayaan baru dari mengeksploitasi rakyat Rusia, sejarah revolusioner Rusia harus dikubur dengan kotoran-kotoran, karena para penguasa baru tidak ingin revolusi ini terjadi lagi di masa depan. Seperti halnya ada pasar di Rusia untuk Mercedez Benz dan pornografi, juga ada uang yang bisa didapatkan dari menjelek-jelekkan Lenin dan Revolusi Oktober. Dan dimana ada uang, para intelektual “Rusia Baru” ini tidak kalah antusiasnya dengan para pencuri dan spekulator yang sekarang berkuasa di Rusia. Sebuah genre literatur yang baru telah tercipta, yang biasanya seperti ini: seorang mantan anggota Partai atau KGB “menemukan” di arsip-arsip sejumlah “rahasia baru yang mengejutkan” mengenai Lenin. Ini kemudian disajikan ke publik dalam bentuk “studi” yang ditandatangani oleh beberapa akademisi atau figur-figur lain yang memberikan informasi “baru” ini sebuah lingkaran suci “objektivitas ilmiah”. Setelah beberapa bulan, “penemuan-penemuan mengejutkan” ini diterbitkan di Barat, ditemani dengan pujian-pujian. Kemudian komentar-komentar dari media Barat dipublikasikan di pers Rusia, tetapi sebelum diselipkan dengan tambahan-tambahan yang menyeramkan dan fiktif. Pada kenyataannya, tidak ada yang baru di sini, dan tidak ada yang mengejutkan.

Di antara banyak penemuan baru ini, Lenin dituduh mendukung penggunaan kekerasan – selama Perang Sipil[22]! Tetapi apa itu perang kalau bukan penggunaan kekerasan untuk mencapai sebuah tujuan, yakni kelanjutan dari politik dengan cara yang lain seperti diktum Clausewitz yang terkenal itu. Benar, Alkitab mengajarkan kita kalau mengambil nyawa seseorang adalah dosa berat. Tetapi ajaran ini tidak pernah menghentikan monarki-monarki dan para politisi Kristen dari menggunakan kekerasan yang paling kejam untuk kepentingan mereka. Mereka-mereka yang menangis air mata buaya akan nasib tsar Nikolas dengan nyamannya melupakan kekejaman rejimnya semenjak hari pertama ia berkuasa. Mungkin karya ini akan menggugah ingatan mereka. Dan mungkin mereka akan terkejut kalau Revolusi Oktober adalah sebuah peristiwa yang relatif damai, dan bahwa pertumpahan darah yang mengerikan hanya terjadi akibat pemberontakan para pemilik budak dan Tentara Putih[23] mereka, yang didukung oleh imperialisme dunia. Dalam tiga tahun setelah Revolusi Oktober, republik Soviet diserang oleh tidak kurang dari 21 tentara asing: Inggris, Prancis, Jerman, Amerika, Polandia, Cekoslowakia, Jepang, dan lainnya. Seperti biasa, kalau mengenai meremukkan pemberontakan para budak, kelas penguasa akan bertindak dengan kekejaman yang paling menjijikkan. Tetapi kali ini berbeda. Para budak yang sudah bebas ini tidak menyerah begitu saja. Mereka melawan dan menang.

Kekerasan para tuan tanah dan kapitalis dihadapi dengan kekerasan buruh dan tani. Inilah yang tidak bisa mereka maafkan. Trotsky mengorganisir kelas buruh ke dalam Tentara Merah. Dengan kombinasi keahlian militer dan keberanian dengan kebijakan revolusioner dan internasionalis, mereka berhasil mengalahkan semua kekuatan kontra-revolusioner. Ini jelas menggunakan kekerasan yang tidak direstui oleh ajaran-ajaran dari Gunung Sinai. Musuh-musuh revolusi berpura-pura terhenyak. Tetapi penolakan mereka terhadap kekerasan tidaklah absolut. Orang-orang yang sama yang menghujat Lenin dan Trotsky tidak mengedipkan mata ketika mereka menyebut nama Presiden AS yang memerintahkan penjatuhan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, atau Perdana Menteri Inggris yang memerintahkan pembakaran pria, wanita, dan anak-anak dalam pemboman Dresden[24]. Tindakan-tindakan ini, tidak hanya diterima, tetapi juga dipuji-puji (“mereka memperpendek peperangan dan mengurangi jatuhnya korban dari pihak Sekutu …”). Para pengorganisir kampanye penghitaman Lenin dan Bolshevik sangat sadar kalau Revolusi Oktober melakukan peperangan untuk membela diri. Mereka tahu bahwa bila Tentara Putih menang mereka harus mendirikan sebuah kediktatoran yang kejam di Rusia dan kaum buruh dan tani harus membayar sangat mahal. Oleh karenanya, semua hingar-bingar mengenai tuduhan kekejaman Lenin harus dilihat seperti apa adanya: sinisme dan kemunafikan yang paling rendah.

Hujatan ini bukan hanya tidak berdasar, tapi jujur saja sangat bodoh. Misalnya mengenai tuduhan bahwa Lenin adalah agen imperialisme Jerman. Bila Lenin sungguh adalah agen imperialisme Jerman, mustahil menjelaskan tindakan Lenin dan tentara Jerman setelah Revolusi Oktober. Pada kenyataannya, bukan Lenin atau kaum Bolshevik yang menginginkan intervensi tentara Jerman pada 1917, tetapi justru kaum borjuasi Rusia. Ada banyak saksi yang bisa membuktikan bahwa kelas penguasa di Rusia lebih memilih menyerahkan Petrograd ke Jerman daripada melihatnya jatuh ke tangan Bolshevik.

Benar bahwa para pemimpin militer Jerman berharap bahwa kembalinya Lenin ke Rusia akan membantu menggoyahkan Tsar dan melemahkannya secara militer. Bukanlah sebuah hal aneh bagi kekuatan-kekuatan imperialis untuk menggunakan kekacauan internal untuk melemahkan musuhnya. Tugas kaum revolusioner adalah menggunakan semua kontradiksi antar kaum imperialis untuk memajukan revolusi. Lenin sangatlah sadar akan tujuan pemerintahan Jerman. Inilah mengapa, ketika dia dihalangi oleh Inggris dan Prancis dari menyeberangi wilayah Sekutu untuk kembali ke Rusia, yang memaksanya kembali lewat Jerman, dia menuntut kondisi-kondisi yang sangat ketat. Tidak seorangpun boleh naik atau turun dari keretanya dalam perjalanannya ke Rusia. Dia tahu bahwa musuh-musuh Bolshevisme akan mencapnya sebagai “agen Jerman”. Tetapi dia sudah mempersiapkan jawaban untuk tuduhan ini.

Seperti yang Trotsky jelaskan bertahun-tahun kemudian di hadapan Komisi Dewey[25]: “Dia menjelaskan dengan terbuka kepada kaum buruh, Soviet pertama di Petrograd: ‘Situasi saya adalah demikian dan demikian. Satu-satunyacara untuk kembali ke Rusia adalah dengan melalui Jerman. Harapan Ludendorff[26] adalah harapan dia sendiri, dan harapan saya sama sekali berbeda. Kita akan lihat siapa yang akan menang.’ Dia jelaskan semuanya. Dia tidak menyembunyikan apapun. Dia mengatakan ini di hadapan seluruh dunia. Dia adalah seorang revolusioner yang jujur. Wajar saja kalau kaum sauvinis dan patriot menuduhnya sebagai agen Jerman, tetapi hubungannya dengan kelas buruh sangat kuat.”[27]

Selama Perang Dunia I, bukan hanya Jerman tetapi juga Sekutu menggunakan kaki-tangan mereka di gerakan buruh untuk meraih dukungan di antara organisasi-organisasi kiri di negeri-negeri lain. Tetapi tuduhan bahwa imperialisme Jerman telah membeli kaum Bolshevik dengan emas dan ada persekutuan antara mereka adalah sebuah tuduhan yang keji dan juga bodoh. Ini tidak sesuai dengan semua fakta yang ada mengenai tindak-tanduk Bolshevik selama dan setelah perang. Contohnya, Volkogonov mencoba menunjukkan bahwa uang Jerman ditransfer ke Bolshevik lewat Swedia. Tetapi dengan mudah dapat ditunjukkan bahwa Shlyapnikov, perwakilan Bolshevik di Swedia, di depan publik mengutuk sayap pro-Jerman dalam Sosial Demokrasi Swedia dan tidak punya hubungan sama sekali dengan agen Jerman Troelstra. Sementara sikap Lenin terhadap Parvus selama Perang terdokumentasi di bab-bab buku ini. Kita dapat berbicara lebih banyak mengenai kebohongan-kebohongan dan distorsi-distorsi Volkogonov, tetapi seperti pepatah Rusia: seorang dungu bertanya lebih banyak daripada yang dapat dijawab oleh seratus orang bijak. Dan ini benar bukan hanya untuk orang dungu tetapi juga untuk orang-orang yang bermaksud buruk.

Leninisme dan Masa Depan

Setelah runtuhnya Tembok Berlin, para pengkritik Marxisme sangat berbahagia. Tetapi semua euforia mereka dengan cepat menjadi abu. Krisis kapitalisme, pada tahapan ini, tercermindalam pesimisme para ahli strategi kapital. Tetapi seiring dengan terkuaknya krisis ini, ini juga akan tercermindalam krisis organisasi-organisasi massa buruh yang selama puluhan tahun terakhir telah mengalami proses degenerasi reformis dan birokratis yang jauh lebih parah daripada yang dialami oleh Internasional Kedua sebelum 1914. Para pemimpin buruh menganggap Marxisme seperti seekor bangkai anjing. Mereka sepenuh hati merangkul pasar dan semua solusi ekonomi borjuis yang mutakhir. Vitalitas reformisme kanan di periode pasca-perang, setidaknya di negeri-negeri kapitalis maju, hanyalah sebuah ekspresi dari kenyataan bahwa kapitalisme sedang melalui sebuah periode ekspansi yang panjang, yang mirip dengan periode kira-kira 20 tahun sebelum Perang Dunia I. Tetapi periode ini sedang berakhir. Saat saya menulis bab terakhir buku ini, dimana-mana kita temui berita mengenai krisis yang sedang berkembang di kapitalisme dunia.

Sejak 1945, dunia tidak pernah begitu bergejolaknya. Marx dan Engels memprediksi bahwa kapitalisme akan berkembang sebagai sebuah sistem yang mendunia. Hari ini prediksi tersebut telah terbukti benar. Dominasi pasar dunia adalah fakta yang paling mencolok di epos kita hari ini. Kemenangan globalisasi telah diusung sebagai kemenangan akhir ekonomi pasar. Tetapi kemenangan ini mengandung benih kehancurannya sendiri. Jauh dari menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi dasar kapitalisme, globalisasi hanya menyiapkan panggung yang lebih besar bagi kontradiksi-kontradiksi ini. Krisis yang dalam di Asia memanifestasikan dirinya sebagai akumulasi barang-barang tak terjual (over-produksi atau “over-kapasitas”) yang didampingi oleh kelumpuhan Jepang yang dulunya adalah motor utama pertumbuhan ekonomi dunia. Di belahan bumi yang lain, melejitnya saham-saham secara tak terkontrol menimbulkan ketakutan akan keruntuhan finansial di AS. Kekhawatiran kaum borjuasi terekspresikan dalam alarm-alarm waspada di bursa-bursa saham dunia.

Argumen lama mengenai superioritas “ekonomi pasar bebas” hari ini terdengar seperti lelucon bagi jutaan orang. Di bawah panji “privatisasi”, bank-bank dan monopoli-monopoli raksasa menjarah pemerintah. Di bawah panji “liberalisasi”, mereka memaksa kaum borjuasi yang lemah di negeri-negeri eks-kolonial di Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk membuka pasar mereka untuk ekspor dari Barat, yang jelas mereka kalah bersaing. Inilah alasan utama dari hutang-hutang besar yang kronik dari Dunia Ketiga dan krisis permanen yang dialami oleh dua pertiga populasi dunia. Dimana-mana kita saksikan perang dan konflik untuk berebut pasar. Situasi ini seperti seratus tahun yang lalu. Gejolak-gejolak di Asia, Afrika, dan Amerika Latin tidaklah jauh dari Eropa. Bencana akibat pecahnya Yugoslavia menunjukkan bahwa proses yang sama dapat terjadi di Eropa kecuali kalau logika hutan belantara kapitalisme dihapus dan diganti dengan sistem yang rasional dan harmonis.

Ironisnya, pemicu utama krisis hari ini adalah kegagalan kebijakan-kebijakan “pasar bebas” di Rusia. Ini adalah titik balik tidak hanya untuk Rusia tetapi juga seluruh dunia. Suasana kegembiraan yang mendominasi mood para ahli strategi kapital setelah runtuhnya Tembok Berlin telah menguap seperti setetes air di atas kompor panas. Mereka sekarang sudah ganti lagu, sudah tidak lagi melantunkan lagu mengenai kematian Marxisme, sosialisme, dan komunisme. Tulisan-tulisan para ekonom dan politisi borjuis dipenuhi dengan peringatan-peringatan yang muram. Di Rusia, sebuah ledakan sosial sedang dipersiapkan, yang akan menyiapkan kembalinya tradisi-tradisi 1917. Dalam skala dunia, krisis kapitalisme sedang memasuki sebuah tahapan yang baru dan meledak-ledak. Revolusi di Indonesia [Gerakan Reformasi 1998 – Penj.] hanyalah babak pertama dari drama yang akan berlangsung di bulan-bulan dan tahun-tahun ke depan. Ini akan menemukan ekspresinya tidak hanya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, tetapi jugadi Eropa dan Amerika Utara juga.

Di kebangkitan pra-revolusioner ini, Rusia tidak akan menduduki tempat terakhir. Lenin suka mengutip satu pepatah Rusia: “Kehidupan adalah guru”. Pelajaran dari restorasi kapitalisme di Rusia adalah sebuah pelajaran yang brutal. Tetapi sekarang pendulum ini mulai bergerak ke arah sebaliknya. Kaum kapitalis Rusia dan para pendukung mereka di Barat merasa khawatir. Bila saja para pemimpin CPRF (Partai Komunis Federasi Rusia) adalah Leninis sejati, maka buruh Rusia hari ini sudah akan ada di ambang perebutan kekuasaan. Kelas buruh Rusia hari ini seribu kali lebih kuat dibandingkan 1917. Kalau mereka bergerak, tidak akan ada yang bisa menghentikan mereka. Masalahnya, seperti pada Februari 1917, adalah kepemimpinan. Peran yang dimainkan Zyuganov[28] bahkan lebih parah daripada kaum Menshevik pada 1917. Di semua pidato dan artikel para pemimpin CPFR, tidak ada satupun atom gagasan Lenin dan Bolshevik. Seperti mereka tidak pernah ada sama sekali. Ini adalah indikasi sejauh mana reaksi Stalinis telah melempar gerakan ini ke belakang. Regenerasi gerakan buruh Rusia hanya dapat dilakukan dengan kembali ke tradisi Bolshevisme. Sejarah Bolshevisme masih merupakan model klasik untuk teori dan praktek Marxisme dalam perjuangannya untuk memenangkan massa. Kita harus kembali ke Lenin, dan juga kembali ke gagasan-gagasan seorang tokoh yang bersama dengan Lenin memimpin Revolusi Oktober, Leon Trotsky.

Para pemimpin ini tidak akan dapat selamanya menghambat gerakan. Buruh akan berusaha keras mencari jalan keluar dari krisis ini dengan aksi kelas mereka sendiri. Dengan melakukan ini, mereka akan menemukan kembali tradisi-tradisi revolusioner masa lalu, tradisi 1905 dan 1917. Munculnya kembali soviet-soviet, walaupun dalam berbagai bentuk: komite aksi, komite penyelamat, adalah bukti nyata bahwa proletariat Rusia belum melupakan tradisi revolusinya. Gerakan ini akan terus berlanjut dan tumbuh, dengan pasang naik dan surut. Bukankah selalu begitu? Inilah pelajaran utama dari buku ini. Dan ada pelajaran lainnya yang kita tidak boleh lupa. Tidak akan ada yang bisa menghancurkan kehendak tidak-sadar kelas buruh untuk mengubah masyarakat. Bolshevisme hanyalah ekspresi sadar dari usaha tidak-sadar atau semi-sadar dari kelas proletariat untuk mengubah kondisi-kondisi dasar keberadaan mereka. Tidak akan ada satupun kekuatan di muka bumi yang akan dapat menghentikan gerakan buruh Rusia. Lewat pengalaman mereka, generasi yang baru akan menemukan kembali jalan ke Bolshevisme. Tradisi ini masih ada, dan revolusi akan menemukan jalan ke sana.

 -----------

Catatan Kaki

[1] Trotsky, Writings, 1935-36, hal. 166

[2] Charles I (1600-1649) adalah Raja Inggris, Skotlandia dan Skotlandia. Dia ditumbangkan oleh Revolusi Inggris, sebuah revolusi borjuis demokratik dan dieksekusi.

[3] Louis XVI (1754-1793) adalah Raja Prancis yang ditumbangkan oleh Revolusi Prancis 1789, sebuah Revolusi Borjuis Demokratik yang paling megah di dunia yang menumbangkan monarki Prancis dan mendirikan Republik yang pertama. Dia lalu dieksekusi pancung dengan guillotine.

[4] Tsar Nikolas II (1868-1918) adalah kaisar Rusia yang terakhir, sebelum dia ditumbangkan oleh Revolusi Februari 1917, dan dieksekusi pada 1918.

[5] Rosa Luxemburg (1871-1919) adalah teoretikus dan pemimpin Marxis Jerman yang paling terkemuka. Bersama-sama dengan Karl Liebknecht, dia memimpin pembentukan Partai Komunis Jerman pada 1919. Para pemimpin sosial demokrasi Jerman lalu menggunakan kelompok paramiliter Freikorps untuk menculik dan membunuh Luxemburg dan Liebknecht. Luxemburg ditembak di kepala dan mayatnya dibuang ke kanal.

[6] Karl Kautsky (1854-1938) menyandang reputasi sebagai guru besar Marxis Jerman. Lenin pun pada satu ketika menganggapnya sebagai gurunya. Akan tetapi, dengan semakin dekatnya revolusi, semakin menjauh ia dari Marxisme revolusioner. Sampai akhirnya dia menentang Revolusi Oktober mati-matian dan menjadi salah satu kekuatan kontra-revolusioner. Lenin dan Trotsky mengecam mantan guru mereka ini sebagai pengkhianat. 

[7] Masa Kekristenan Perdana adalah periode sejarah Kekristenan sebelum tahun 325, yakni sebelum pertemuan Dewan Nicaea Pertama yang diselenggarakan oleh Kaisar Romawi Constantine I guna mengooptasi agama ini ke dalam negara.  Sebelum pertemuan Dewan Nicaea Pertama ini, agama Kristen adalah bagian dari gerakan revolusioner rakyat miskin dan tertindas yang menentang privilese dan kesewenang-wenangan kelas penguasa, yang diwakili oleh Kerajaan Romawi. Setelah tidak mampu menghancurkan Kristen dengan represi kekerasan, Kerajaan Romawi memilih untuk mengooptasi para pemimpin gereja yang korup guna menjadikan Kristen sebagai agama resmi dan membersihkannya dari pesan-pesannya yang revolusioner yang berbahaya bagi kelas penguasa.

[8] Hukum Anti-Sosialis di Jerman dicanangkan dari 1881-1890 oleh parlemen Jerman setelah usaha pembunuhan terhadap Kaisar Wilhelm I oleh dua aktivis radikal Max Hodel dan Dr. Karl Nobiling. Hukum ini melarang kelompok atau pertemuan yang bertujuan menyebarkan prinsip-prinsip sosialisme.

[9] Ted Grant (1913-2006) adalah seorang pemimpin dan teoretikus Marxis di Inggris. Dia dilahirkan di Afrika Selatan dan berkenalan dengan Marxisme ketika berumur 15 tahun, pertama lewat karya-karya Maxim Gorky dan Jack London. Dia lalu pindah ke Inggris saat berumur 21 tahun dan menjadi aktif dalam gerakan Trotskis di sana. Setelah berseteru dengan para pemimpin Internasional Keempat pada 1950an, Ted Grant keluar dari organisasi tersebut yang dianggapnya sudah mati. Dia lalu meneruskan tradisi Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky dengan memulai sebuah organisasi bernama Militant yang bekerja di dalam Partai Buruh Inggris sebagai sayap Marxis. Pada 1980an, Militant menjadi kelompok Trotskis terbesar di Eropa, dengan jumlah kader 8000 orang. Militant menguasai dewan kota Liverpool dan memimpin perlawanan terhadap Margaret Thatcher. Militant juga adalah bagian dari sebuah organisasi internasional, CWI (Committee for Workers’ International). CWI pecah pada 1992 dan Ted Grant beserta Alan Woods dan yang lainnya membentuk organisasi baru, IMT (International Marxist Tendency).

[10] Oliver Cromwell (1599-1658) adalah pemimpin militer dan politik Revolusi Inggris, yang mendirikan negara republik pertama di Inggris. Di bawah kuasanya monarki Inggris ditumbangkan dan raja Charles I dieksekusi.

[11] Komune Paris adalah revolusi pekerja pertama yang berhasil merebut kekuasaan walaupun hanya untuk sementara. Komune Paris berdiri dari 28 Maret hingga 28 Mei 1871. Setelah kekalahan Prancis dalam perang Franco-Prussian, Pemerintahan Pertahanan Nasional mengakhiri perang melawan Jerman dengan syarat-syarat yang kejam, salah satunya pendudukan Paris yang secara heroik telah bertahan selama enam bulan melawan pengepungan oleh tentara Jerman.  Rakyat pekerja Paris sangat marah terhadap pendudukan ini dan menolak untuk bekerja sama dengan tentara Jerman. Pada 18 Maret, pemerintahan Prancis yang baru, dipimpin oleh Thiers, setelah mendapatkan izin dari Jerman, mengirim tentara ke Paris untuk merebut persenjataan di dalam kota, serta untuk memastikan agar rakyat pekerja Paris tidak dipersenjatai dan melawan Jerman. Rakyat pekerja Paris melawan. Akibatnya Pemerintahan “Pertahanan Nasional” Prancis menyatakan perang terhadap kota Paris. Pada 26 Maret 1871, dewan kota atau Komune Paris dibentuk yang terdiri dari para pekerja dan prajurit yang terpilih. Kurang dari tiga bulan setelah anggota-anggota Komune Paris dipilih, kota Paris diserang dengan kekuatan penuh oleh tentara pemerintah Prancis. Tiga puluh ribu pekerja dibantai, ribuan orang ditembaki di jalan-jalan kota Paris. Ribuan lainnya ditangkap dan 7.000 pekerja diasingkan dari Prancis selamanya.

[12] S. S. Schwarz, The Russian Revolution of 1905, the Workers’ Movement and the Formation of Bolshevism and Menshevism, hal. 29.

[13]Inferno adalah puisi abad ke-14 oleh pujangga Italia Dante Alighieri, yang berkisah mengenai perjalanannya melalui neraka.

[14] O. Figes, A People’s Tragedy, the Russian Revolution 1891-1924, hal. 495.

[15] Figes 491.

[16] Pemerintah Provisional adalah pemerintahan sementara yang dibentuk setelah pecahnya Revolusi Februari 1917. Pemerintahan borjuis ini tidak berdaya untuk memenuhi aspirasi rakyat Rusia dan akhirnya ditumbangkan oleh Revolusi Oktober 1917.

[17] Internasional Kedua dibentuk pada tahun 1881 oleh partai-partai buruh massa Eropa. Organisasi internasional ini mendasarkan dirinya pada gagasan Marxisme. Akan tetapi dalam perjalanannya, banyak para pemimpin Internasional Kedua mulai mengadopsi gagasan reformisme. Pada tahun 1914, mayoritas seksi Internasionale Kedua mendukung Perang Dunia Pertama, dan ini menandai kehancuran organisasi tersebut.

[18] Komintern (1919-1943), yang juga disebut Internasional Ketiga, dibentuk untuk mengobarkan revolusi sosialis dunia.  Setelah kemenangan Revolusi Rusia, Bolshevik menyerukan kepada kaum revolusioner sedunia untuk datang ke Moskow dan membentuk sebuah organisasi internasional baru dari kaum komunis yang revolusioner. Lahirlah Komunis Internasional pada tahun 1919. Namun setelah Uni Soviet sendiri mulai mengalami kemunduran akibat keterisolasiannya, Komintern pun mulai menjadi bangkrut dan impoten. Organisasi ini menjadi instrumen kebijakan asing Soviet untuk melindungi kepentingan kaum birokrasi, dan berulang kali justru menelikung revolusi sosialis di banyak negara. Komunis Internasional akhirnya dibubarkan oleh Stalin pada tahun 1943 untuk berkompromi dengan kekuatan Sekutu.

[19] 13 tahun setelah karya ini ditulis, lebih banyak informasi yang menjadi tersedia mengenai nasib para Bolshevik Tua generasi Lenin. Walaupun informasi yang disediakan Alan Woods ini tidak sepenuhnya akurat, akan tetapi tetap menunjukkan bahwa mayoritas Bolshevik Tua generasi Lenin dibunuh oleh Stalin dan klik birokrasinya.

Ada 31 anggota Komite Pusat Bolshevik pada tahun 1917 ketika Bolshevik merebut kekuasaan: 23 anggota penuh dan 7 kandidat anggota. Dari 7 anggota Politbiro, 5 dieksekusi dan dibunuh oleh Stalin (Leon Trotsky, Zinoviev, Kamenev, Sokolnikov, dan Bubnov). Hanya 2 yang mati secara wajar: Stalin dan Lenin. Dari total 31 anggota Komite Pusat, 19 mati dieksekusi oleh Stalin (Zinoviev, Kamenev, Sokolnikov, Bubnov, Bukharin, Rykov, Milyutin, Smilga, Berzin, Krestinsky, Oppokov, Kiselyov, Preobrazhensky, Skyrpnyk, Yakovlevka, Osinsky, Teodorovich, Joffe – ia mati bunuh diri karena ditekan sampai putus asa sedemikian rupa oleh Stalin dan klik birokrasinya, dan Trotsky yang dibunuh oleh agen rahasia Stalin). Delapan anggota “beruntung” mati secara wajar sebelum Stalin naik ke tampuk kekuasaan pada 1927 setelah berhasil menyingkirkan Oposisi Kiri (Lenin, Sverdlov, Nogin, Sergeyev, Dzerzhinsky, Shaumyan, Uritsky, Dzhaparidze); kalau mereka masih hidup, sangatlah mungkin kebanyakan dari mereka akan dibunuh oleh Stalin. Hanya tiga yang selamat  (Kollontai, Muranov, dan Stasova).

[20] Leonid Brezhnev (1906-1982) adalah Sekjen Partai Komunis Uni Soviet dari 1964 sampai kematiannya pada 1982. Dia naik ke tampuk kekuasaan dengan menyingkirkan Khrushchev dalam sebuah kudeta istana.

[21] Mikhail Gorbachev (1931) adalah kepala negara Uni Soviet yang terakhir sampai pada pembubarannya pada 1991. Dia menjabat sebagai Sekjen Partai Komunis Uni Soviet dari 1985-1991, dan menjabat sebagai kepala negara dari 1988-1991. Dialah yang mencanangkan kebijakan Perestroika dan Glasnot, kebijakan reformasi ekonomi dan politik yang membuka jalan ke restorasi kapitalisme. Untuk usahanya ini, para pemimpin kapitalis menganugerahinya Hadiah Nobel Perdamaian pada 1990.

[22] Perang Sipil Rusia selama 1918-1921 dimana pasukan dari 21 negara imperialis bersama-sama dengan Tentara Putih menyerang Uni Soviet untuk menghancurkan negara Soviet yang masih muda tersebut. Peperangan ini dimenangi oleh Tentara Merah, tetapi ini dibayar dengan harga yang mahal. 15 juta rakyat mati, termasuk 1 juta pasukan Tentara Merah. Pada akhir Perang Sipil ini, Uni Soviet hampir hancur, dengan wabah kelaparan yang melanda seluruh negeri. Output ekonomi sangat rendah dibandingkan sebelum perang. Misalkan, produksi kapas jatuh ke level 5% sebelum perang, dan produksi besi 2% sebelum perang.

[23] Tentara Putih adalah pasukan kaum borjuasi dan feodalis Rusia yang ingin menggulingkan pemerintahan Uni Soviet. Mereka berperang melawan Tentara Merah pada Perang Sipil (1918-1921) dengan dibantu oleh 21 tentara imperialis.

[24] Pemboman Dresden adalah serangan militer terhadap kota Dresden, Jerman, saat Perang Dunia II. Pada bulan-bulan terakhir Perang Dunia II, Sekutu menjatuhkan 3900 ton bom ke kota ini dan 25 ribu warga sipil menjadi korban. Serangan pemboman terhadap warga sipil ini diperintahkan oleh Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, sebagai serangan teror terhadap warga Jerman.

[25] Komisi Dewey adalah sebuah komisi independen yang dibentuk pada Maret 1937 untuk memeriksa tuduhan-tuduhan dari Pengadilan Moskow terhadap Trotsky. Dipimpin oleh John Dewey, seorang intelektual dan filsuf dari Amerika, Komisi ini menemukan bahwa tuduhan-tuduhan Pengadilan Moskow tidak mengandung kebenaran sama sekali.

[26] Erich Ludendorff (1865-1937) adalah pemimpin militer dari Jerman yang memimpin Jerman dalam Perang Dunia I.

[27]The Case of Leon Trotsky, hal. 316

[28] Gennady Zyuganov (1944) adalah pemimpin Partai Komunis Federasi Rusia semenjak 1993.