facebooklogocolour

Situs Militan Indonesia akan ditutup pada akhir Oktober. Kunjungi situs Perhimpunan Sosialis Revolusioner (revolusioner.org)!

Bagian Pertama: Lahirnya Marxisme Rusia

Bab 1. Tsar Rusia dan Gerakan Tani Narodnik

Matinya Seorang Otokrat

ALEXANDER II Assasination

Pada 1 Maret 1881, kereta kuda Tsar Alexander II[1] sedang melewati Kanal Catherine di kota St. Petersburg, ketika seorang anak muda tiba-tiba melempar apa yang tampaknya seperti bola salju. Ledakan yang menyusul tidak mengenai targetnya, dan sang Tsar turun, tidak terluka, untuk berbincang dengan beberapa tentara Cossack[2] yang terluka. Saat itu juga teroris kedua, Grinevitsky[3], cepat melompat ke depan dan berkata: “Terlalu cepat untuk berterimakasih pada Tuhan”, dan melempar bom ke kaki sang Tsar. Satu setengah jam kemudian, Kaisar seluruh rakyat Rusia mati. Tindakan ini menandai salah satu periode yang paling penting dalam sejarah revolusi – sebuah periode dimana segelintir anak-anak muda yang berdedikasi dan heroik melawan kekuatan negeri Tsar. Namun keberhasilan para teroris ini dalam membunuh figur tertinggi dari autokrasi ini justru menghantarkan pukulan mematikan terhadap Narodnaya Volya[4] yang mengorganisirnya.

Fenomena Narodnik Rusia (“populisme”) adalah konsekuensi dari keterlambatan kapitalisme Rusia. Membusuknya masyarakat feodal berlangsung lebih cepat daripada terbentuknya kaum borjuasi. Di bawah kondisi ini, sejumlah lapisan kaum intelektual, terutama kaum muda, pecah dari birokrasi bangsawan dan gereja. Mereka mulai mencari jalan keluar dari kebuntuan masyarakat Rusia ini. Akan tetapi, ketika mereka mencari-cari basis dukungan dalam masyarakat, mereka tidak menemukan siapapun. Kelas borjuasi masih mentah, terbelakang, dan tidak berkembang, dan mereka tidak tertarik pada kelas ini. Sementara kelas proletariat baru saja lahir, tidak terorganisir, tidak terlatih secara politik dan jumlahnya kecil, terutama bila dibandingkan dengan jutaan kaum tani yang merupakan mayoritas rakyat Rusia yang tak terdidik dan tertindas.

Oleh karenanya bisa dipahami mengapa kaum intelektual revolusioner melihat “rakyat” dalam kaum tani sebagai kekuatan yang punya potensi revolusioner. Gerakan ini mengambil akarnya dari titik balik besar dalam sejarah Rusia pada 1861. Pembebasan kaum hamba yang berlangsung pada tahun itu bukanlah karena kebaikan hati Alexander II.Ini karena ketakutan akan ledakan sosial setelah kekalahan Rusia yang memalukan dalam Perang Krimea 1853-56[5]. Bukan untuk pertama kalinya, dan juga bukan untuk terakhir kalinya, kekalahan militer mengekspos kebangkrutan rejim autokrasi ini, dan memberikan dorongan kuat untuk perubahan sosial. Tetapi Dekrit Emansipasi ini tidak menyelesaikan apa-apa, dan sesungguhnya membuat kaum tani lebih sengsara. Para tuan tanah mengambil tanah yang lebih subur. Tanah-tanah yang tandus diberikan pada kaum tani. Titik-titik strategis seperti sumber air dan penggilingan biasanya ada di tangan para tuan tanah yang memaksa para petani untuk membayar. Lebih parah lagi, para petani yang “bebas” ini secara legal terikat pada komune desa atau mir yang punya kewajiban kolektif untuk memungut pajak. Mereka tidak boleh meninggalkan mir tanpa izin. Kebebasan bergerak dibatasi dengan sistem paspor internal. Komune desa ini, pada kenyataannya, diubah menjadi “sistem polisi lokal yang paling rendah”.[6]

Bahkan lebih parah, reforma agraria ini memperbolehkan para tuan tanah untuk menyita seperlima (di beberapa kasus, dua perlima) tanah yang sebelumnya dikerjakan oleh para petani. Tentunya mereka mengambil tanah yang paling menguntungkan – hutan, padang rumput, sumber air, tanah penggembalaan, penggilingan, dll. – yang memberi mereka kuasa atas para tani yang “teremansipasi” ini. Setiap tahun, semakin banyak keluarga tani yang jatuh ke lembah hutang dan kemiskinan akibat pemerasan ini.

Emansipasi kaum hamba adalah sebuah usaha untuk melakukan reforma dari atas guna mencegah revolusi dari bawah. Seperti semua reforma penting, ini adalah hasil sampingan dari revolusi. Daerah pedesaan Rusia telah terguncang oleh pemberontakan-pemberontakan tani. Di dekade terakhir pemerintahan Nikolas I, telah terjadi 400 pemberontakan tani, dan jumlah yang sama dalam 6 tahun selanjutnya (1855-60). Dalam kurun 20 tahun, 1835-1854, 230 tuan tanah dan penegak hukum mati dibunuh, dan selama 3 tahun sebelum 1861 ada 54 yang mati dibunuh. Pengumuman emansipasi ini disambut dengan gelombang kekacauan dan pemberontakan, yang secara brutal ditindas. Harapan-harapan seluruh generasi pemikir progresif akan reforma ini dikhianati dengan kejam oleh hasil dari emansipasi itu, yang ternyata adalah penipuan besar. Kaum tani, yang percaya bahwa tanahnya adalah milik mereka, ditipu dari semua sisi. Mereka harus menerima sepetak tanah yang ditentukan oleh hukum (dengan persetujuan dari tuan tanah) dan harus membayar redemption fee (ongkos ganti) selama 49 tahun dengan bunga 6%. Sebagai akibatnya, para tuan tanah menguasai kira-kira 78,7 juta hektar tanah, sementara kaum tani yang merupakan mayoritas hanya memiliki 37,1 juta hektar tanah.

Pada tahun-tahun setelah 1861, kaum tani, yang terkurung di dalam “sepetak tanah yang miskin” dan dimiskinkan oleh beban hutang, melakukan serangkaian pemberontakan lokal. Tetapi kaum tani, sepanjang sejarah, selalu tidak mampu memainkan peran yang mandiri dalam masyarakat. Walaupun mereka berani dan mampu melakukan pengorbanan revolusioner, usaha-usaha mereka untuk menumbangkan kaum penindas hanya bisa berhasil bila kepemimpinan gerakan revolusioner diambil oleh kelas yang lebih kuat, lebih homogen, dan lebih sadar, yang ada di kota. Tanpa faktor kepemimpinan ini, pemberontakan-pemberontakan kaum tani semenjak zaman pertengahan selalu menemui kekalahan yang brutal. Ini adalah akibat terpencar-pencarnya kaum tani dan kurangnya kohesi sosial dan kesadaran kelas.

Di Rusia, dimana mode produksi kapitalis masihlah dalam fase embrio, kelas revolusioner macam itu tidak ada di kota-kota. Namun satu lapisan kasta kaum pelajar dan intelektual yang miskin, kaum raznochintsy (mereka yang tanpa pangkat dan posisi) atau “kaum proletar intelektual” sangat sensitif terhadap keresahan masyarakat yang tersembunyi di celah-celah kehidupan Rusia. Beberapa tahun kemudian, sang teroris Myskhin menyatakan di pengadilan bahwa “gerakan kaum intelektual bukanlah sesuatu yang diciptakan secara artifisial, tetapi adalah gema dari keresahan masyarakat.”[7] Kemampuan kaum intelektual untuk memainkan peran sosial yang mandiri juga tidak lebih daripada kaum tani. Akan tetapi, kaum intelektual dapat menjadi barometer yang cukup akurat untuk mengukur keresahan dan ketegangan yang sedang berkembang dalam masyarakat.

Pada 1861, seorang penulis demokrat terkemuka Alexander Herzen[8] menulis dari pengasingannya di London di korannya Kolokol (Lonceng) untuk mendorong kaum muda Rusia “turun ke bawah!”. Ditahannya penulis-penulis terkemuka seperti Chernyshevsky[9] (yang tulisan-tulisannya dipengaruhi oleh Marx dan punya pengaruh besar terhadap Lenin dan generasinya) dan Dimitri Pisarev[10] menunjukkan kemustahilan reforma liberal yang damai. Pada akhir 1860an, basis gerakan massa revolusioner kaum muda populis telah terbentuk.

Kondisi massa yang mengenaskan di Rusia pasca-reforma membuat geram lapisan-lapisan intelektual yang terbaik. Penangkapan tokoh-tokoh sayap demokrat yang paling radikal, Pisarev dan Chernyshevsky, hanya membuat kaum intelektual lebih terasing dan lebih terdorong ke kiri. Sementara generasi kaum liberal yang lebih tua telah terkooptasi, generasi kaum muda radikal yang baru bermunculan di universitas-universitas, yang digambarkan oleh figur Bazarov dalam novel Fathers and Son karya Turgenev. Karakter utama dari generasi ini adalah ketidaksabaran akan kelambanan kaum liberal, yang mereka benci. Generasi muda ini sangat percaya sekali dengan gagasan penumbangan revolusioner yang sepenuhnya dan rekonstruksi radikal masyarakat dari atas hingga bawah.

Dalam waktu 12 bulan setelah Emansipasi, “Tsar reformis” ini telah bergerak ke reaksi. Kaum intelektual ditindas. Universitas-universitas diawasi dengan ketat oleh Menteri Pendidikan yang reaksioner, Count Dimitri Tolstoy, yang mencanangkan sebuah sistem pendidikan untuk menghancurkan semangat independen, imajinasi, dan kreativitas kaum muda. Sekolah-sekolah dipaksa mengajarkan bahasa Latin 47 jam setiap minggu dan bahasa Yunani 36 jam setiap minggu, dengan penekanan berat pada tata bahasa. Ilmu alam dan sejarah tidak dimasukkan ke dalam kurikulum karena mereka berpotensi subversif. Kepala sekolah mengawasi cara berpikir murid-murid. “Reformasi” disusul oleh pengawasan polisi yang ketat dan pencekikan kebebasan. Reaksi ini semakin intens setelah kegagalan pemberontakan Polandia pada 1863. Revolusi tersebut ditenggelamkan ke dalam lautan darah. Ribuan rakyat Polandia dibunuh dan ratusan digantung dalam represi yang menyusul. Count Muravyov yang brutal secara pribadi menggantung 128 orang dan membuang 9423 pria dan wanita. Yang diasingkan ke Rusia dua kali jumlahnya. Peter Kropotkin[11], teoretikus anarkis, menyaksikan penderitaan kaum eksil Polandia di Siberia ketika dia ditugaskan di sana sebagai seorang kapten muda Tentara Imperial: “Saya menyaksikan beberapa dari mereka di Lena, berdiri setengah telanjang di dalam sebuah gubuk reyot, mengerumuni sebuah panci besar yang penuh dengan sup, dan mengaduk sup yang mendidih itu dengan sendok panjang, sementara pintu gubuk reyot itu terbuka lebar dan membiarkan angin dingin masuk. Setelah dua tahun bekerja seperti itu, para martir ini pasti akan mati karena makanan yang buruk.”[12]

Tetapi, di bawah permukaan reaksi, benih-benih kebangkitan revolusioner yang baru sedang berkecambah. Pangeran Kropotkin ini adalah contoh bagaimana angin selalu menggoyang ranting-ranting atas pohon terlebih dahulu. Lahir di sebuah keluarga aristokrat, Kropotkin yang pernah menjadi perwira angkatan bersenjata, seperti banyak kaum muda generasinya, tersentuh oleh penderitaan rakyat yang mengenaskan dan terdorong untuk menarik kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Di memoarnya, Kropotkin menggambarkan dengan jelas evolusi politik dari generasinya: “Tetapi apa hak saya untuk menikmati kebahagiaan yang lebih tinggi ini ketika di sekeliling saya hanya ada kemiskinan dan perjuangan untuk roti yang sudah berjamur, ketika apa yang saya butuhkan untuk memperbolehkan saya hidup di dunia yang lebih baik datang dari merenggut kebutuhan-kebutuhan dari orang-orang yang menanam gandum ini dan tidak punya cukup roti untuk anak-anak mereka?” tanya Kropotkin pada dirinya sendiri.

 Kekejaman terhadap rakyat Polandia menunjukkan wajah lain dari “Tsar sang reformis”, seorang yang menurut Kropotkin, “dengan senang hati menandatangani dekrit-dekrit yang paling reaksioner dan kemudian menjadi tidak bahagia.”[13] Kekuasaan autokrasi yang korup dan bangkrut, birokrasi yang opresif, mistisisme dan konservatisme religius yang merasuki semua hal membangkitkan semua kekuatan yang hidup dalam masyarakat untuk memberontak. “Pahit,” tulis pujangga Nekrasov, “roti yang dibuat untuk kaum budak.” Pemberontakan melawan perbudakan ini mendorong para pelajar muda revolusioner untuk mencari jalan keluar. Mengikuti kata-kata Herzen, slogan mereka menjadi “V Narod!” (Turun ke bawah!). Bagi kaum muda yang berani dan berdedikasi ini, kata-kata yang diucapkan oleh Herzen memberikan kesan yang kuat. “Turun ke bawah … Inilah tempatmu … Tunjukkanlah … bahwa dari antara kalian akan lahir bukan birokrat-birokrat baru, tetapi prajurit-prajurit rakyat Rusia.”

‘Turun ke Bawah’

Gerakan kaum muda kelas-atas ini naif dan penuh kebingungan, tetapi juga berani dan penuh pengorbanan, dan meninggalkan warisan tak ternilai untuk generasi masa depan. Sementara mengkritik karakter utopis program mereka, Lenin selalu menghargai keberanian revolusioner dari kaum Narodnik awal ini. Dia tahu bahwa gerakan Marxis di Rusia dibangun di atas tulang-tulang para martir ini, yang dengan bahagia melepas kekayaan dan kenyamanan duniawi mereka untuk menghadapi kematian, penjara, dan pengasingan demi sebuah dunia yang lebih baik. Kebingungan teori adalah sesuatu yang diharapkan dari sebuah gerakan yang baru saja lahir. Tidak adanya kelas buruh yang kuat, tidak adanya tradisi yang jelas atau contoh dari masa lalu yang bisa menerangi jalan mereka, sensor yang mencegah mereka untuk bisa mengakses tulisan-tulisan Marx, semua ini membuat kaum muda revolusioner Rusia tidak mampu memahami proses-proses yang sedang berlangsung dalam masyarakat.

Bagi kebanyakan kaum muda, Marx dilihat sebagai “hanya seorang ekonom”, sementara doktrin Bakunin[14] mengenai “penghancuran total” dan seruan aksi langsungnya tampak lebih sesuai dengan semangat generasi muda yang letih dengan ceramah dan tidak sabar ingin mendapatkan hasil. Pavel Axelrod, di memoarnya, menjelaskan bagaimana teori-teori Bakunin begitu populer di antara kaum muda karena kesederhanaannya.[15] Menurut Bakunin, “rakyat” secara insting revolusioner dan sosialis – bahkan semenjak Zaman Pertengahan – seperti yang ditunjukkan oleh pemberontakan-pemberontakan petani, pemberontakan Pugachev, dan bahkan para bandit-bandit, yang diusung sebagai teladan! Satu-satunya hal yang diperlukan untuk memercikkan pemberontakan adalah bagi para pelajar muda untuk turun ke desa-desa dan berpropaganda mengenai revolusi. Pemberontakan-pemberontakan lokal akan segera memprovokasi sebuah pemberontakan umum dan menghancurkan seluruh bangunan rejim yang ada.

Trotsky dengan tajam menggambarkan semangat para pelopor muda ini:

“Para muda dan mudi, kebanyakan dari mereka adalah mantan pelajar, dalam jumlah ribuan berangkat ke seluruh penjuru Rusia untuk mewartakan propaganda sosialis, terutama ke pedalaman Volga dimana mereka mencari-cari legenda pemberontakan Pugachev dan Razin.[16] Gerakan ini, yang luar biasa dalam skalanya dan penuh dengan idealisme kaum muda, yang merupakan awal dari revolusi Rusia, sangatlah naif. Para propagandis tidak punya organisasi yang memandunya. Mereka juga tidak punya program yang jelas. Mereka tidak punya pengalaman melakukan gerakan bawah tanah. Dan ini tidak bisa tidak. Anak-anak muda ini, yang telah memutuskan hubungan mereka dengan keluarga dan sekolah mereka, yang tidak punya profesi, hubungan pribadi, tanggung jawab, ataupun rasa takut terhadap yang berkuasa, tampak seperti kristalisasi hidup dari pemberontakan kerakyatan. Konstitusi? Parlementerisme? Kebebasan politik? Tidak, mereka tidak akan tergoyahkan dari jalan perjuangan mereka oleh jebakan-jebakan Barat ini. Yang mereka inginkan adalah revolusi total, tanpa jembatan atau tahapan-tahapan.”[17]

Pada musim panas 1874, ratusan kaum muda dari kelas menengah dan atas turun ke desa-desa. Mereka ingin mengobarkan revolusi di antara kaum tani. Pavel Axelrod, salah seorang Bapak Marxisme Rusia, bercerita mengenai bagaimana kaum muda revolusioner ini secara radikal memutuskan hubungan dengan kelas mereka sendiri: “Siapapun yang ingin melayani rakyat harus keluar dari universitas, mencampakkan privilese dan keluarga mereka, dan bahkan memalingkan punggung mereka dari ilmu sains dan seni. Mereka harus memutuskan semua hal yang menghubungkan mereka dengan kelas-kelas atas, membakar semua jembatan di belakang mereka. Dalam kata lain, mereka harus melupakan semua jalan untuk mundur atau menyerah. Para propagandis ini harus melakukan transformasi diri secara total supaya bisa satu hati satu rasa dengan rakyat lapisan bawah, tidak hanya secara ideologis tetapi juga dalam kebiasaan sehari-hari.”[18]

Kaum muda mudi yang berani ini tidak punya program yang jelas selain mencari jalan “turun ke bawah”. Mengenakan pakaian lusuh yang dibelinya dari toko loak dan dengan paspor palsu, mereka turun ke desa-desa dengan harapan dapat mempelajari cara hidup di desa dan melakukan kerja mereka tanpa terdeteksi. Mengenakan pakaian petani bukanlah untuk sok-sokan. Kropotkin menjelaskan bahwa “Jurang pemisah antara kaum tani dan kaum terpelajar di Rusia sangatlah besar, dan kontak antara keduanya sangatlah jarang sehingga bila ada seorang yang berpakaian kota muncul di sebuah desa, ini akan menarik perhatian yang luas. Bahkan juga di kota, bila ada seorang yang dari penampilan dan cara bicaranya bukanlah seorang buruh dan dia tampak sedang bergaul dengan seorang buruh, polisi akan segera curiga.”[19]

Sayangnya, semangat revolusioner yang mengagumkanini berlandaskan teori yang secara fundamental keliru. Gagasan mistis “jalan ke sosialisme ala Rusia” yang entah bagaimana dapat meloncat dari barbarisme feodal ke masyarakat tanpa kelas, dengan meloncati tahapan kapitalisme, adalah penyebab dari serangkaian kegagalan dan tragedi. Sebuah teori yang keliru niscaya menyebabkan bencana dalam praktek. Kaum Narodnik termotivasi oleh gagasan bahwa revolusi dapat dikobarkan oleh tekad baja dan keteguhan dari sekelompok kecil orang. Tentu saja faktor subjektif[20] memainkan peran menentukan dalam sejarah manusia. Karl Marx menjelaskan bahwa manusia menciptakan sejarah mereka sendiri, tetapi mereka tidak menciptakannya di luar konteks hubungan sosial dan ekonomi yang ada.

Usaha dari para teoretikus Narodnik untukmenciptakan “jalan sejarah yang unik” untuk Rusia, yang berbeda dari jalan sejarah Eropa Barat, akhirnya menyeret mereka ke filsafat idealisme dan pandangan mistis mengenai kaum tani. Teori Bakunin yang penuh dengan kebingungan menemukan gaungnya di antara kaum Narodnik yang sedang mencari pembenaran ideologis untuk aspirasi revolusioner mereka. Ini adalah manifestasi dari relasi kelas di Rusia yang masih belum berkembang dan masih cair.

Bakunin menjungkirbalikkan realitas. Ia menggambarkan mir – yang merupakan unit dasar dari rejim Tsar di desa-desa – sebagai musuh Negara. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan oleh kaum revolusioner adalah pergi ke desa-desa dan membangkitkan kaum tani “yang secara insting revolusioner” untuk melawan rejim Tsar dan semuanya akan beres. Tidak perlu “politik” atau organisasi partai dalam bentuk apapun. Mereka tidak berjuang untuk tuntutan-tuntutan demokratis (karena demokrasi juga mewakili semacam Negara dan oleh karenanya juga adalah sebuah tirani). Mereka hanya ingin menumbangkan negara “secara umum” dan menggantikannya dengan federasi komunitas-komunitas lokal yang sukarela, yang berdasarkan mir, dimana fitur-fitur reaksionernya telah dihapus.

Kontradiksi-kontradiksi dalam teori ini dengan cepat terungkap ketika kaum muda Narodnik mencoba mempraktekkannya. Semangat revolusioner para pelajar ini ditanggapi dengan kecurigaan atau bahkan kebencian oleh para petani, yang sering kali menyerahkan para pendatang baru ini ke pihak yang berwajib.

Zhelbayov, salah seorang pemimpin organisasi Narodnaya Volya (Kehendak Rakyat) menceritakan usaha sia-sia kaum muda Narodnik untuk memenangkan kaum tani, seperti “ikan yang membenturkan kepalanya ke balok es”[21]. Kendati mengalami penindasan dan eksploitasi yang buruk, kaum tani Rusia, yang percaya bahwa “raganya adalah milik Tsar, jiwanya milik Tuhan, dan punggungnya milik tuan tanah”, tidak bisa dimasuki dengan gagasan-gagasan revolusioner kaum Narodnik. Syok dan kekecewaan kaum inteligensia terekspresikan oleh kata-kata seorang partisipan di bawah ini:

“Kami sendiri terlalu dibutakan oleh pengharapan akan tibanya revolusi sehingga tidak melihat bahwa kaum tani tidak punya semangat revolusioner sebanyak yang kami inginkan. Tetapi kami tahu bahwa mereka ingin tanah dibagi-bagikan kepada mereka. Mereka mengharapkan sang Kaisar akan bertitah dan tanah akan dibagi-bagikan… kebanyakan dari mereka percaya bahwa sang Kaisar sudah akan melakukannya dari dulu kalau saja dia tidak dicegah oleh tuan-tuan tanah besar dan para pejabat – dua musuh utama sang Kaisar dan kaum tani.

Usaha naif untuk berpenampilan seperti petani sering kali punya sisi tragikomedi, seperti yang diceritakan oleh Debogori-Mokrievich: “Para petani tidak mengizinkan kamibermalam di gubuk mereka. Mereka tidak menyukai baju kami yang lusuh dan kotor. Kami tidak mengira ini sama sekali ketika kamiberpakaian seperti pekerja.”[22]

Tidur di luar, kelaparan, kedinginan dan letih, kaki mereka terluka karena perjalanan panjang di atas sepatu bot yang murah, semangat kaum Narodnik ini luluh lantak ketika berbenturan dengan tembok ketidak-acuhan kaum tani. Perlahan-lahan, mereka-mereka yang tidak tertangkap, yang mengalami demoralisasi dan letih, kembali ke kota. Gerakan “turun ke bawah” dihancurkan oleh gelombang penangkapan – pada 1874 saja lebih dari 700 ditangkap. Ini adalah kekalahan yang mahal. Tetapi pidato-pidato heroik dan penuh semangat dari para revolusioner yang tertangkap ini mengobarkan sebuah gerakan yang baru, yang bergulir dengan segera.

Kaum Narodnik bersumpah berjuang demi “rakyat” di setiap ucapan mereka. Namun mereka terisolasi dari massa tani yang mereka idolakan. Pada kenyataannya, seluruh gerakan mereka terkonsentrasikan di tangan kaum inteligensia. Trotsky menulis:

“Penyembahan kaum Populis terhadap kaum tani dan komune mereka adalah cermin kepura-puraan kaum pekerja intelektual yang ingin menjadi instrumen progres utama, kalau bukan satu-satunya. Seluruh sejarah kaum inteligensia Rusia berkembang di antara dua kutub kebanggaan-diri dan penyangkalan-diri, yang adalah bayang-bayang pendek dan panjang dari kelemahan sosial mereka.”[23]

Kelemahan sosial kaum inteligensia adalah refleksi dari relasi kelas di masyarakat Rusia yang belum matang. Perkembangan industri yang pesat dan terbentuknya kelas buruh kota yang kuat yang disebabkan oleh masuknya kapital asing yang besar pada 1890an adalah musik yang sayupnya masih jauh bagi kaum inteligensia periode 1860an. Dengan mengandalkan diri mereka sendiri, kaum inteligensia revolusioner mencari jalan keluar lewat teori “jalan ke sosialisme ala Rusia”, yang berdasarkan kepemilikan bersama yang ada di mir.

Teori-teori gerilya-isme dan terorisme individual yang sekarang-sekarang ini menjadi populer di antara beberapa kelompok tertentu adalah pengulangan dalam bentuk karikatur gagasan-gagasan lama kaum Narodnik dan teroris Rusia. Seperti kaum Narodnik Rusia, mereka mencoba mencari basis di antara kaum tani Negeri-Negeri Ketiga, di antara kaum lumpenproletar, semua kelas kecuali kelas proletar. Gagasan ini tidak ada kesamaannya dengan Marxisme. Marx dan Engels menjelaskan bahwa satu-satunya kelas yang mampu memimpin revolusi sosialis dan membentuk negara buruh yang sehat untuk menuju ke masyarakat tanpa kelas adalah kelas buruh. Dan ini bukanlah sebuah kebetulan. Hanya kelas buruh, karena perannya dalam masyarakat dan produksi, terutama produksi industri skala besar, yang memiliki insting kesadaran sosialis. Bukan sebuah kebetulan kalau metode-metode perjuangan kelas proletar adalah berdasarkan aksi massa kolektif: pemogokan, demonstrasi, mogok umum.

Sebaliknya, prinsip utama semua kelas sosial lainnya adalah individualisme pemilik properti dan penindas buruh, besar maupun kecil. Selain kaum borjuasi yang kebencian terhadap sosialismenya adalah syarat utama eksistensinya, ada kelas menengah, termasuk kaum tani. Kaum tani adalah kelas sosial yang paling sukar meraih kesadaran sosialis. Di lapisan atas kelas menengah adalah kaum tani kaya, pengacara, dokter, para politisi; semua dekat dengan kaum borjuasi. Akan tetapi, bahkan para petani tak bertanah di Rusia, walaupun secara formal adalah kaum proletar pedesaan, memiliki kesadaran yang jauh tertinggal daripada saudara-saudarinya di perkotaan. Satu harapan dari petani tak-bertanah adalah memiliki tanah, yakni menjadi seorang tuan tanah kecil. Terorisme individual dan “gerilya-isme” dalam berbagai bentuknya adalah metode-metode kaum borjuasi kecil, terutama kaum tani, tetapi juga kaum mahasiswa, intelektual, dan lumpenproletar. Benar kalau di bawah kondisi-kondisi tertentu – terutama di epos hari ini – massa tani miskin dapat dimenangkan ke gagasan kepemilikan kolektif, seperti yang kita saksikan di Spanyol pada 1936. Tetapi syarat untuk perkembangan semacam ini adalah gerakan revolusioner kaum buruh di perkotaan. Di Rusia, kelas buruh berkuasa dengan memobilisasi kaum tani miskin bukan berdasarkan slogan-slogan sosialis, tetapi dengan slogan “tanah untuk kaum tani!” Kenyataan ini dengan sendirinya menunjukkan sejauh apa massa tani Rusia terpisah dari kesadaran sosialis bahkan pada 1917.

Bagi kaum Narodnik, yang tidak punya dasar teori yang kuat dan memegang konsep relasi kelas yang tidak jelas (“rakyat”), argumen Marxis mengenai peran kepemimpinan kaum proletar terdengar seperti debat akademis. Apa hubungannya dengan kelas buruh? Jelas Marx dan Engels tidak memahami situasi unik yang ada di Rusia! Kaum Narodnik menganggap buruh di kota sebagai sebuah penyimpangan – sebagai “petani di pabrik-pabrik”, yang hanya mampu memainkan peran pembantu bagi kaum tani dalam revolusi. Ini berkebalikan dengan relasi kekuatan-kekuatan kelas yang sesungguhnya, seperti yang ditunjukkan oleh peristiwa-peristiwa selanjutnya.

Kendati semua prasangka para teoretikus Narodnik, hampir satu-satunya kelas yang merespons seruan revolusioner mereka adalah “kaum tani kota”, sebutan mereka untuk buruh pabrik. Sungguh sebuah paradoks. Seperti para gerilyawan modern hari ini, para pendukung Zemlya i Volya[24] (Tanah dan Kebebasan) mengadopsi kebijakan menyeret kaum buruh revolusioner keluar dari pabrik dan mengirim mereka ke pedesaan. Plekhanov, sebelum ia menjadi seorang Marxis, berpartisipasi dalam aktivitas semacam ini dan mampu melihat konsekuensinya. Dia menulis:

“Kaum buruh revolusioner yang telah bekerja di kota selama bertahun-tahun merasa tidak kerasan di desa dan kembali ke sana dengan enggan... Kebiasaan-kebiasaan dan institusi-institusi desa menjadi tak tertanggungkan bagi seorang yang kepribadiannya telah mulai berubah...”

“Ini adalah orang-orang yang berpengalaman, yang dengan jujur mengabdi dan dipenuhi dengan pandangan-pandangan Populis. Tetapi usaha-usaha mereka untuk menetap di pedesaan tidak menghasilkan apa-apa. Setelah menyisir desa-desa dengan maksud mencari tempat yang cocok untuk menetap (dimana beberapa dari mereka dianggap orang asing), mereka mengangkat bahu mereka dan berakhir kembali ke Saratov dimana mereka membuat kontak dengan buruh-buruh di sana. Kami terkejut oleh alienasi ‘rakyat’ terhadap anak-anak kota mereka. Faktanya jelas, dan kami harus mencampakkan usaha melibatkan buruh dalam masalah tani.”[25]

Menurut teori Narodnik, para buruh kota lebih jauh terpisah dari sosialisme dibandingkan kaum tani. Oleh karenanya, seorang organisator Narodnik yang bertanggungjawab melakukan kerja di antara buruh-buruh Odessa mengeluh bahwa “para buruh di pabrik, yang termanjakan oleh kehidupan kota dan tidak mampu menyadari koneksi mereka dengan kaum tani, lebih kurang terbuka pada propaganda sosialis.”[26] Kendati begitu, kaum Narodnik tetap melakukan kerja di antara kaum buruh dan mendapat hasil-hasil penting. Pelopor kerja ini adalah Nikolai Vasilevich Chaikovsky. Kelompoknya membentuk lingkaran-lingkaran propaganda di distrik-distrik buruh di Petersburg, dimana Kropotkin adalah salah seorang propagandisnya. Realitas memaksa sejumlah seksi kaum Narodnik untuk berhadapan langsung untuk pertama kalinya dengan “masalah buruh” yang, setelah ditendang keluar oleh teori-teori Bakunin, dengan keraskepala masuk kembali lewat jendela. Bahkan di periode awal ini, kelas buruh Rusia, walaupun jumlahnya sangat kecil, mulai melangkah ke gerakan revolusioner.

Sikap buruh terhadap “tuan-tuan muda” ini sangatlah jelas. Seorang buruh Petersburg, I.A. Bachkin, menganjurkan kepada kawan-kawan buruhnya: “Kau harus ambil buku-buku dari para mahasiswa, tetapi ketika mereka mulai mengajari kau hal-hal yang konyol, jitak kepala mereka.” Kemungkinan Bachkin yang ada di pikiran Plekhanov ketika dia menceritakan keengganan buruh untuk pergi bekerja ke desa-desa. Bachkin ditangkap pada September 1874, dan setelah dibebaskan pada 1876 dia mengatakan kepada Plekhanov bahwa dia “siap” seperti sebelumnya untuk melakukan kerja propaganda revolusioner, tetapi hanya di antara kaum buruh... “Saya tidak ingin pergi ke desa. Para petani seperti domba, mereka tidak akan pernah paham revolusi.”[27]

 Sementara kaum intelektual Narodnik bergelut dengan masalah-masalah teori revolusi, kesadaran kelas mulai muncul di pusat-pusat kota. Emansipasi kaum hamba adalah tindakan kekerasan kolektif terhadap kaum tani, demi kepentingan perkembangan kapitalisme di pertanian. Para tuan tanah “membubarkan tata masyarakat feodal”[28] untuk membuka jalan ke kapitalisme, seperti yang dijelaskan oleh Lenin. Ini mempercepat proses diferensiasi kaum tani, dengan kristalisasi kelas tani kaya (kulak) di atas dan kelas tani miskin yang besar di bawah. Untuk lari dari kemiskinan di desa, para petani miskin bermigrasi dalam jumlah besar ke kota-kota untuk mencari kerja. Pada periode 1865-80, jumlah buruh pabrik meningkat 65 persen, dan jumlah buruh tambang meningkat 106 persen. A.G. Rashin menyediakan statistik jumlah buruh di Rusia[29]:

Tahun

Jumlah buruh pabrik

Jumlah buruh tambang

Total

1865

509.000

165.000

674.000

1890

840.000

340.000

1.180.000

Perkembangan industri mendapat dorongan kuat pada 1870an. Populasi St. Petersburg tumbuh dari 668.000 pada 1869 menjadi 928.000 pada 1881. Dicabut paksa dari latar belakang tani mereka dan dilempar ke kehidupan pabrik, kesadaran para buruh mengalami transformasi yang cepat. Laporan-laporan polisi menggambarkan kaum buruh yang semakin geram dan berani. “Metode-metode para majikan yang semakin kasar dan vulgar menjadi semakin tak tertanggungkan oleh buruh. Buruh jelas sadar bahwa pabrik tidak akan bisa berjalan tanpa tenaga kerja mereka,” tulis salah satu laporan ini. Tsar Alexander membaca laporan ini dan lalu menulis catatan kecil: “Sangat buruk.”

Meningkatnya konflik buruh ini lalu melahirkan kelompok buruh pertama. Serikat Buruh Rusia Selatan dibentuk oleh E. Zaslavsky (1844-1878). Anak keluargabangsawan, dia “turun ke bawah” pada 1872-1873 dan lalu menjadi yakin bahwa taktik ini tidak berguna dan mulai melakukan kerja propaganda di antara buruh Odessa. Dari lingkaran-lingkaran buruh, dengan pertemuan mingguan dan penerbitan koran, Serikat ini lahir. Programnya dimulai dengan premis bahwa “kaum buruh hanya akan mendapatkan hak-haknya dengan cara revolusi kekerasan yang mampu menghancurkan semua privilese dan ketidakadilan, dan menjamin kesejahteraan pribadi dan publik.”[30] Pengaruh Serikat ini tumbuh pesat, dan akhirnya Serikat ini diberangus. Para pemimpinnya ditangkap dan dihukum kerja paksa. Zaslavsky sendiri dipenjara 10 tahun. Kesehatan dia memburuk akibat kondisi penjara yang keras. Dia terserang TBC dan mati di penjara.

Perkembangan yang lebih besar adalah Serikat Buruh Rusia Utara, yang dibentuk secara ilegal pada musim gugur 1877 di bawah kepemimpinan Khalturin dan Obnorsky. Victor Obnorsky adalah seorang pandai-besi, dan lalu bekerja sebagai mekanik. Saat bekerja di berbagai pabrik di St. Petersburg, dia menjadi terlibat dengan lingkaran-lingkaran diskusi buruh, dan harus mengasing ke Odessa untuk menghindari penangkapan. Di sana dia berhubungan dengan Serikatnya Zaslavsky. Dia berkelana ke luar negeri sebagai kelasi laut, dimana dia mendapat pengaruh dari Sosial Demokrasi Jerman. Kembali ke St. Petersburg, dia bertemu dengan P.L. Lavrov dan P. Axelrod, pemimpin gerakan Narodnik. Stepan Khalturin adalah figur penting dalam gerakan revolusioner pada akhir 1870an. Seperti Obnorsky, dia adalah seorang pandai-besi dan mekanik. Dia memulai aktivitasnya dalam kelompok Chaikovsky, dimana dia bekerja sebagai propagandis. Dalam tulisannya mengenai figur-figur buruh militan, Plekhanov menggambarkan kaum revolusioner kelas buruh ini:

“Ketika aktivitas-aktivitas Khalturin masih legal, dia bertemu dengan para pelajar dan mencoba mengenal mereka, mendapatkan berbagai informasi dari mereka dan meminjam buku-buku. Dia sering berdiskusi dengan mereka sampai tengah malam, tetapi dia jarang memberikan pendapatnya sendiri. Para pelajar menjadi bersemangat, senang dapat mendidik seorang buruh yang bodoh, dan mereka akan berbicara panjang lebar, berteori dengan bahasa yang semudah mungkin. Stepan menatap para pembicara ini dengan hati-hati. Kadang-kadang matanya menyiratkan ironi. Selalu ada elemen ironi dalam relasinya dengan para pelajar... Dengan buruh, sikapnya sangat berbeda... Dia melihat buruh sebagai kaum revolusioner yang lebih teguh dan alami, dan dia menjaga mereka. Dia ajari mereka. Dia cari buku-buku dan pekerjaan untuk mereka. Dia mendamaikan mereka ketika mereka bertengkar dan menghardik yang salah. Kamerad-kameradnya sangat menyayanginya. Dia tahu ini, dan dia menyayangi mereka bahkan lebih besar.Tetapi bahkan dalam relasinya dengan mereka, Khalturin tidak pernah melepas sikap pendiamnya … Dalam pertemuan-pertemuan, dia jarang berbicara dan enggan berbicara. Di antara buruh St. Petersburg, ada orang-orang yang berpendidikan dan kompeten sepertinya. Ada orang-orang yang sudah melihat dunia yang lain, sudah tinggal di luar negeri. Rahasia pengaruh besar Khalturin, yang bahkan dapat disebut kediktatoran, adalah perhatian yang dicurahkannyauntuk setiap hal. Bahkan sebelum pertemuan dimulai, dia berbicara dengan setiap orang untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka. Dia selalu mempertimbangkan masalah dari semua sisi, dan oleh karenanya dia adalah orang yang paling siap.”[31]

Khalturin adalah contoh seorang buruh propagandis yang aktif di lingkaran-lingkaran buruh di periode awal gerakan buruh Rusia. Akan tetapi, bahkan dia terseret ke dalam aktivitas-aktivitas teroris di periode selanjutnya, dimana dia mengorganisir usaha pembunuhan Tsar.

“Tanah dan Kebebasan”

Sementara, sisa-sisa gerakan Narodnik mencoba mengkonsolidasikan kembali kekuatan mereka di kota-kota di bawah bendera baru. Pada 1876, Zemlya i Volya dibentuk oleh Natansons, Alexander Mikhailov dan Georgi Plekhanov. Organisasi bawah tanah yang baru ini dipimpin oleh sebuah Dewan Umum dengan Komite Eksekutif (atau Pusat Administrasi) yang lebih kecil. Di bawah badan-badan ini adalah Seksi Tani, Seksi Buruh, dan Seksi Muda (Pelajar), dan “Seksi Disorganisasi”, yakni sayap bersenjata untuk “perlindungan dari tindakan sewenang-wenang pihak otoritas”. Program Zemlya i Volya berdasarkan gagasan “sosialisme tani” yang dipenuhi dengan kebingungan – semua tanah ditransfer ke kaum tani dan penentuan-nasib-sendiri akan diberikan ke semua daerah kerajaan Rusia. Rusia akan diperintah berdasarkan komune-komune tani yang punya otonomi. Akan tetapi, semua ini subordinat pada penumbangan revolusioner rejim autokrasi, yang akan dilaksanakan “secepat mungkin” – ini harus dilaksanakan secepat mungkin untuk mencegah melemahnya mir (komune tani) oleh perkembangan kapitalisme! Oleh karenanya, yang pertama menggagaskan “sosialisme di satu negeri” adalah kaum Narodnik, yang ingin membebaskan masyarakat dari horor kapitalisme dengan gagasan “jalan unik perkembangan sejarah” untuk Rusia, yang berdasarkan apa-yang-dikira keunikan kaum tani Rusia dan institusi-institusi sosialnya.

Pada 6 Desember 1876, sekitar 500 orang – kebanyakan mahasiswa – menggelar demo ilegal di depan Katedral Kazan, dengan slogan “tanah dan kebebasan” dan “hidup revolusi sosialis!” Demonstrasi ini dipimpin oleh seorang mahasiswa berumur 21 tahun, yang bernama Georgi Plekhanov, yang seruan revolusionernya membuat dia harus hidup di pengasingan dan di bawah tanah selama bertahun-tahun. Lahir pada 1855, anak keluarga aristokrat dari Tambov, Plekhanov, seperti kebanyakan dari generasinya, melatih dirinya lewat tulisan-tulisan tokoh-tokoh demokrat besar Rusia – Belinsky, Dobrolyubov, dan yang terutama, Chernyshevsky. Ketika masih muda, dia bergabung dengan gerakan Narodnik, berpartisipasi dalam misi-misi berbahaya, termasuk membebaskan kawan-kawannya yang dipenjara dan bahkan membunuh seorang agen provokator. Ditangkap berulang kali, dia selalu berhasil meloloskan diri dari para penangkapnya.

Setelah pidatonya yang radikal, Plekhanov terpaksa ke luar negeri mengasing, tetapi namanya menjadi begitu tenar sehingga dia terpilih – tanpa kehadirannya di Rusia – sebagai anggota “lingkaran utama” Zemlya i Volya. Kembali ke Rusia pada 1877, Plekhanov menjalani hidup bawah tanah. Disenjatai dengan knuckleduster dan pistol yang dia simpan di bawah bantalnya setiap malam, dia pergi ke Saratov, di Volga, dimana dia ditugasi untuk memimpin “seksi buruh” Zemlya i Volya. Pengalaman langsungnya dengan buruh pabrik memiliki pengaruh besar terhadap pemikirannya, yang membantunya pecah dari prasangka-prasangka Narodnik dan menemukan jalan ke Marxisme.

Pada Desember 1877, sebuah ledakan di gudang mesiu di sebuah pabrik senjata di Pulau Vasilevsky menyebabkan 6 buruh mati dan banyak lainnya terluka. Pemakaman buruh ini berubah menjadi demonstrasi. Plekhanov menulis sebuah manifesto yang diakhiri dengan kata-kata ini: “Kaum buruh! Sekarang adalah waktunya kalian mulai berpikir. Janganlah harapkan bantuan dari siapapun. Dan jangan harapkan bantuan dari kelas atas! Para petani telah lama mengharapkan bantuan dari kelas atas, dan yang mereka dapatkan hanyalah tanah yang buruk dan pajak yang lebih besar, bahkan lebih besar daripada sebelumnya … Akankah kau juga, para buruh di kota-kota, menerima ini selamanya?”[32]

Plekhanov mendapatkan jawabannya lebih cepat dari yang dia, atau siapapun, kira. Booming ekonomi akibat peperangan Russo-Turki (1877-78) menciptakan kondisi untuk ledakan pemogokan-pemogokan yang tak pernah terlihat sebelumnya, yang dipimpin oleh lapisan kelas buruh yang paling tertindas, yakni buruh garmen. Bukan untuk terakhir kalinya buruh garmen bergerak lebih cepat daripada batalion buruh industri metal yang lebih besar. Buruh-buruh ini meminta bantuan dari “para mahasiswa” lewat kontaknya dengan sejumlah buruh revolusioner.

Plekhanov, sebagai pemimpin seksi buruh Zemlya i Volya, menemui dirinya memimpin gerakan ini. Sayangnya, kaum Narodnik tidak tahu apa yang harus dilakukan oleh mereka dalam gerakan buruh, karena buruh tidak pernah masuk ke dalam skema mereka. Dalam 2 tahun, St. Petersburg menyaksikan 26 pemogokan. Pemogokan-pemogokan ini baru dapat dihentikan setelah gelombang besar pada 1890an. Anggota-anggota Serikat Buruh Rusia Utara memainkan peran penting dalam pemogokan-pemogokan ini. Pada bulan-bulan pertama 1879, serikat ini mencapai puncaknya, dengan 200 buruh terorganisir, yang tersebar di berbagai pabrik. Mereka semua terhubungkan ke sebuah badan terpusat. Lingkaran-lingkaran buruh ini bahkan punya perpustakaan, yang juga secara hati-hati disebarkan di antara berbagai kelompok bawah tanah dan secara luas digunakan bahkan oleh buruh-buruh di luar serikat. Khalturin memulai percetakan bawah-tanah. Obnorsky membangun kerjasama dengan kelompok-kelompok buruh di Warsawa, “contoh pertama hubungan bersahabat antara buruh Rusia dan Polandia,” seperti yang diamati oleh Plekhanov dengan rasa puas.[33]

Tetapi dalam waktu beberapa bulan setelah terbitnya nomor pertama koran ilegal mereka, Rabochaya Zarya (Fajar Buruh), polisi menggerebek rumah percetakan Serikat dan kebanyakan anggota mereka diciduk dan dihukum kerja paksa, penjara, dan pengasingan. Akibat dari dihancurkannya organisasi buruh yang pertama ini sangatlah buruk. Khalturin dan yang lainnya menarik kesimpulan pesimis dan bergerak ke arah terorisme. Butuh 10 tahun dan begitu banyak pengorbanan untuk membersihkan tendensi terorisme dari gerakan.

Sejak awal, gerakan revolusioner Rusia terpecah oleh polemik antara “kaum edukator” dan “kaum insureksionis”, kedua tendensi ini secara umum diwakili oleh Lavrov di satu sisi dan Bakunin di sisi lain. Kegagalan gerakan “turun ke bawah” membawa perseteruan ini ke titik perpecahan. Pada periode 1874-75, ada ribuan tahanan politik di Rusia, kaum muda yang harus membayar pembangkangan mereka dengan hilangnya kebebasan mereka. Yang lain diasingkan ke Siberia. Sisanya membusuk di penjara menanti pengadilan. Dari antara mereka yang masih aktif dan bebas, beberapa memutuskan untuk kembali ke desa-desa, tetapi kali ini sebagai guru sekolah atau dokter, untuk mengabdikan waktu dan energi mereka melakukan kerja-kerja pendidikan dan menanti hari-hari yang lebih baik. Tetapi bagi yang lain, mereka menyadari kekeliruan teori “kaum tani yang secara insting revolusioner” yang diusung oleh Bakunin, dan bagi mereka ini berarti jalan yang benar-benar lain harus ditempuh.

Zemlya i Volya tidak pernah menjadi sebuah organisasi massa. Anggota aktifnya hanya beberapa puluh, kebanyakan mahasiswa dan intelektual umur 20an dan 30an. Tetapi benih-benih kehancurannya sudah ada sejak awal. Para pendukung Lavrov ingin “membuka mata rakyat” dengan propaganda damai. “Kita jangan bangkitkan emosi rakyat, tetapi bangkitkan kesadaran diri mereka,” kata Lavrov.[34] Usaha-usaha untuk memprovokasi gerakan massa dengan propaganda yang menemui kegagalan demi kegagalan melahirkan sebuah teori baru dimana Bakuninisme dijungkirbalikkan. Dari “menolak politik” dan terutama menolak organisasi politik, sebuah seksi dari Narodnik banting setir 180 derajat dan membentuk sebuah organisasi teroris rahasia yang sungguh tersentralisir – Narodnaya Volywa – yang dibentuk untuk memprovokasi gerakan revolusioner massa dengan cara “propaganda of the deed” atau “propaganda aksi”.[35]

Kekalahan Rusia di Peperangan Russo-Turki mengekspos kebangkrutan rejim ini dan memberikan dorongan baru kepada kaum oposisi. Para pemimpin Narodnaya Volya memutuskan untuk meluncurkan perang melawan autokrasi dengan metode terorisme individual yang akan menyulut api pemberontakan “dari atas”. Ada selapisan anak-anak muda yang penuh semangat dan tidak sabar. Kata-kata Zhelyabov, seorang pemimpin Narodnaya Volya, meringkas semuanya: “Sejarah bergerak terlalu lambat. Ia butuh sebuah dorongan. Kalau tidak seluruh bangsa ini akan membusuk dan menjadi sampah sebelum kaum liberal dapat melakukan apapun.”

“Bagaimana dengan konstitusi?”

“Ini juga baik.”[36]

“Jadi apa yang kau inginkan – membentuk konstitusi atau mendorong sejarah?”

“Saya tidak bercanda, sekarang kami ingin memberi sejarah sebuah dorongan.”

Percakapan ini menunjukkan dengan jelas hubungan antara terorisme dan liberalisme. Kaum teroris tidak punya program mereka sendiri. Mereka meminjam gagasan-gagasan mereka dari kaum liberal, sementara kaum liberal bersandar pada kaum teroris untuk memberikan tekanan pada tuntutan-tuntutan mereka.

Pada musim gugur 1877, sekitar 200 kaum muda diadili karena kejahatan “turun ke bawah”. Mereka membusuk di penjara selama tiga tahun tanpa pengadilan dan banyak sekali kasus penyiksaan yang dilakukan oleh sipir penjara terhadap mereka. Bagi kaum revolusioner, perlakuan buruk, penyiksaan, dan penghinaan yang dialami oleh para tahanan adalah seutas jerami yang mematahkan punggung unta. Satu kasus yang menyebabkan kemarahan luas terjadi pada Juli 1877. Ketika Jenderal Trepov, seorang kepala polisi yang terkenal kejam, mengunjungi penjara, seorang tapol bernama Bogolyubov menolak berdiri. Dia dihukum cambuk 100 kali atas perintah Trepov. Satu titik balik terjadi pada Januari 1878 ketika seorang gadis muda bernama Vera Zasulich[37] melepaskan tembakan ke Trepov. Aksi ini, yang direncanakan dan dilakukan oleh Zasulich sendiri, ditujukan sebagai tindakan balas dendam atas perlakuan buruk terhadap para tahanan politik. Setelah insiden Zasulich ini, gerakan menuju “propaganda aksi” menjadi tak terbendung lagi, terutama setelah para juri membebaskan Zasulich.

Awalnya, penggunaan teror hanya dilakukan sebagai taktik untuk membebaskan kawan-kawan mereka yang dipenjara, membersihkan mata-mata polisi, dan membela diri dari penindasan pihak otoritas. Tetapi terorisme punya logikanya sendiri. Dalam waktu cepat, mania terorisme menyebar luas dalam organisasi. Sejak awal, sudah ada keraguan terhadap “taktik baru” ini. Di halaman-halaman jurnal partai, ada opini-opini yang kritis terhadap taktik ini. Satu artikel menulis: “Kita harus ingat bahwa pembebasan massa rakyat pekerja tidak akan tercapai lewat jalan teroris ini. Terorisme tidak ada kesamaan sama sekali dengan perjuangan melawan fondasi-fondasi orde sosial ini. Hanya sebuah kelas yang dapat melawan sebuah kelas. Oleh karenanya, kerja utama kita harus di antara rakyat.”[38]

Pengadopsian taktik baru ini menyebabkan perpecahan terbuka dalam gerakan, antara kaum teroris dan para pengikut Lavrov yang mendukung kerja persiapan dan propaganda jangka panjang di antara massa. Pada prakteknya, kecenderungan para pengikut Lavrov bergerak menjauhi revolusi, dan mulai menganjurkan politik “aksi-aksi kecil” dan pendekatan perubahan gradual “sedikit demi sedikit”. Sayap kanan Narodnisme menjadi tidak berbeda dengan liberalisme, sementara seksi Narodnik yang lebih radikal siap mempertaruhkan segalanya pada kekuatan peluru dan “kimia revolusioner” nitro-glycerine (bahan peledak dinamit).

Hari ini, para teroris modern berusaha membedakan diri mereka dari para leluhur Rusia mereka. Menurut mereka, kaum teroris Narodnik percaya pada terorisme individual dan ingin menggantikan gerakan massa dengan diri mereka sendiri. Sementara para pendukung “perjuangan bersenjata” atau “gerilyaisme urban” hari ini melihat diri mereka hanya sebagai sayap bersenjata perjuangan massa, yang tujuannya adalah untuk mendetonasi massa agar beraksi. Namun para pendukung Narodnaya Volya tidak pernah mengklaim sebagai gerakan yang terpisah dan berdiri sendiri. Tujuan mereka adalah untuk mendorong gerakan massa, berdasarkan kaum tani, yang akan menumbangkan pemerintah dan membentuk sosialisme. Tujuan mereka juga untuk “mendetonasi” gerakan massa dengan menjadi teladan pengorbanan yang berani.

Akan tetapi politik punya logikanya sendiri. Semua seruan Narodnaya Volya atas nama rakyat sesungguhnya hanyalah asap untuk menutupi ketidakpercayaan mereka pada kapasitas revolusioner massa rakyat. Argumen-argumen yang dikedepankan lebih dari seabad yang lalu di Rusia untuk membenarkan terorisme mirip sekali dengan argumen-argumen kelompok-kelompok “gerilya urban” hari ini: “Kami mendukung gerakan massa, tetapi pemerintah terlalu kuat,” dan seterusnya dan seterusnya. Dengan demikian, Morozov mengatakan:

“Mengamati kehidupan sosial di Rusia, kita dapat mencapai kesimpulan bahwa, karena tindakan dan kekerasan negara yang sewenang-wenang, tidak mungkin akan ada aktivitas yang bisa dilakukan atas nama rakyat. Tidak ada kebebasan berpendapat, tidak ada kebebasan pers. Oleh karenanya, kita aktivis pelopor harus, pertama-tama dan terutama, mengakhiri bentuk pemerintahan yang ada sekarang ini. Dan untuk melawan pemerintahan ini, tidak ada jalan lain selain dengan senjata di tangan. Konsekuensinya, kita akan berjuang melawan pemerintahan ini dengan metode William Tell, sampai kita mencapai momen dimana kita memenangkan kebebasan dimana kita dapat mendiskusikan semua masalah politik dan sosial tanpa halangan di pers dan di pertemuan-pertemuan publik, dan mengambil keputusan dengan metode perwakilan rakyat yang besar.”[39]

Kaum Narodnik adalah orang-orang idealis yang pemberani tetapi salah jalan, yang membatasi serangan-serangan mereka pada para penyiksa yang kejam, kepala polisi yang melakukan penindasan, dan orang-orang seperti itu. Sering kali mereka lalu menyerahkan diri mereka ke polisi untuk menggunakan pengadilan mereka sebagai platform untuk mengutuk pemerintahan. Mereka tidak menanam bom untuk membantai wanita dan anak-anak, atau bahkan membunuh prajurit-prajurit bawahan. Hanya kadang-kadang mereka membunuh polisi, dan ini untuk mendapatkan senjata. Namun, biarpun demikian, metode mereka sangatlah keliru dan konter-produktif, dan dikritik oleh kaum Marxis.

Teori-teori gerilyaisme urban yang katanya “modern” ini hanya mengulang dalam bentuk karikatur gagasan-gagasan teroris Rusia. Sungguh ironis kalau orang-orang ini, yang sering kali mengklaim sebagai “Marxis-Leninis”, sama sekali tidak tahu kalau Marxisme Rusia lahir dari perjuangan sengit melawan terorisme individual. Kaum Marxis Rusia dengan geram menyebut para teroris ini sebagai “kaum liberal dengan bom”. Para bapak-bapak liberal berbicara atas nama “rakyat”, tetapi menganggap bahwa rakyat terlalu bodoh untuk diberi kepercayaan untuk mengubah masyarakat. Peran mereka dibatasi pada memberikan suara setiap beberapa tahun dan lalu menyaksikan kaum liberal di Parlemen melakukan tugas mereka. Anak-anak kaum liberal ini membenci Parlemen. Mereka berdiri mewakili revolusi dan, tentu saja, “Rakyat”. Namun, ternyata Rakyat, karena bodoh, tidak dapat memahami mereka. Oleh karenanya, mereka menggunakan “kimia revolusioner’ bom dan senapan. Tetapi, seperti sebelumnya, peran massa direduksi menjadi penonton pasif. Marxisme percaya bahwa perubahan masyarakat harus datang dari aksi sadar yang dilakukan oleh kelas buruh. Hal-hal yang meningkatkan kesadaran buruh mengenai kekuatan mereka sendiri adalah progresif. Hal-hal yang menurunkan kesadaran buruh mengenai peran mereka adalah reaksioner. Dari sudut pandang ini, kebijakan terorisme individual paling menyakiti perjuangan justru ketika terorisme ini berhasil. Usaha untuk mencari jalan pintas dalampolitik biasanya membawa bencana. Apa kesimpulan yang didapati oleh buruh dari sebuah aksi terorisme individual yang berhasil dengan spektakuler? Hanya ini: bahwa mereka dapat mencapai tujuan mereka tanpa kerja persiapan yang panjang dan sulit dalam mengorganisir serikat buruh, berpartisipasi dalam pemogokan dan aksi-aksi massa lainnya, agitasi, propaganda, dan pendidikan. Semua ini akan dilihat sebagai hal-hal yang tak berguna, ketika semua permasalahan dapat diselesaikan hanya dengan bom dan pistol.

Sejarah abad ke-20 menyediakan banyak pelajaran tragis, apa yang terjadi ketika kaum revolusioner mencoba menggantikan gerakan kelas buruh yang sadar dengan aksi-aksi heroik segelintir orang-orang bersenjata. Sering kali – seperti halnya dengan Narodnaya Volya – usaha untuk menentang kekuatan pemerintah dengan metode-metode ini berakhir dengan kegagalan dan penguatan aparatus-aparatus penindas. Tetapi bahkan dalam beberapa kasus dimana perang gerilya berhasil menumbangkan rejim lama, ini tidak pernah berakhir dengan terbentuknya sebuah negara buruh yang sehat, apalagi sosialisme. Paling mentok, kemenangan perang gerilya berakhir dengan terbentuknya negara buruh cacat (sebuah rejim Bonapartisme proletar) dimana buruh ada di bawah kekuasaan elit birokrasi. Sesungguhnya, hasil ini sudah ditentukan oleh struktur militeris dari organisasi teroris dan gerilya, struktur komando mereka yang autokratik, tidak adanya demokrasi, dan paling utama kenyataan bahwa mereka berfungsi di luar kelas buruh dan lepas dari kelas buruh. Sebuah partai revolusioner yang sejati tidak membentuk dirinya untuk menjadi sekelompok orang yang menunjuk dirinya sendiri sebagai penyelamat rakyat, tetapi berusaha memberikan ekspresi yang terorganisir dan sadar kepada gerakan rakyat. Hanya gerakan proletar yang sadar dapat membawa kita ke sosialisme.

Sebuah seksi dari Zemlya i Volya mencoba melawan tendensi terorisme ini, tetapi mereka tersingkirkan. Usaha untuk mencapai sebuah kompromi pada Kongres Voronezh pada Juni 1879 gagal menghentikan perpecahan yang akhirnya terjadi pada Oktober pada tahun yang sama, dengan persetujuan formal untuk membubarkan organisasi yang lama. Keuangan dibagi dua dan kedua pihak setuju untuk tidak menggunakan nama organisasi yang lama. Faksi teroris mengadopsi nama Narodnaya Volya (Kehendak Rakyat), sementara sisa-sisa dari kaum Narodnik “desa” mengambil nama Cherny Peredel (Redistribusi Hitam), yang merujuk pada gagasan lama Narodnik mengenai revolusi agraria. Dari organisasi yang belakangan inilah Marxisme Rusia, yang dipimpin oleh Plekhanov, lahir.

 _______________
Catatan Kaki

[1] Tsar Alexander II (1818-1881) adalah kaisar Rusia dari 1885 sampai pembunuhannya pada 1881 di tangan anggota Narodnaya Volya. Di bawah kekuasaannya, pada 1861 dia melakukan reforma agraria yang menghapus perhambaan. Kaum tani meraih kebebasan tetapi tidak mendapatkan tanah. Mereka menjadi petani miskin tanpa tanah.

[2] Cossack adalah anggota komunitas militer di Ukraina dan Rusia bagian Selatan. Mereka sering digunakan oleh pemerintah Tsar untuk merepresi gerakan rakyat, terutama pada saat Revolusi Rusia 1905. Mereka menjadi pasukan kavaleri Tsar pada saat Perang Dunia Pertama. Setelah Revolusi Oktober, mereka berpihak pada Tentara Putih dalam perjuangan untuk menumbangkan Soviet.

[3] Ignaty Grinevitsky (1856-1881) adalah anggota kelompok Narodnaya Volya (Kehendak Rakyat). Ignaty adalah mahasiswa Politeknik St. Petersburg, dengan jurusan Matematika. Sejak umur 19 tahun dia bergabung dengan Narodyana Volya. Dia meninggal karena luka-lukanya dari bom bunuh diri yang berhasil membunuh Tsar Alexander II.

[4]Narodnaya Volya  (Kehendak Rakyat) adalah sebuah organisasi yang bertujuan menumbangkan rejim Rusia dengan metode terorisme individual. Dibentuk pada 1879, mereka percaya bahwa gerakan rakyat harus diprovokasi dengan aksi-aksi terorisme melawan rejim. Mereka juga percaya bahwa kaum tani adalah kelas revolusioner di Rusia dan bahwa Rusia dapat melompat dari feodalisme ke sosialisme.

[5] Perang Krimea (1853-1856) adalah konflik antara Rusia dan aliansi Prancis, Inggris, Ottoman, dan Sardinia untuk memperebutkan pengaruh di daerah-daerah di bawah Kerajaan Ottoman yang mulai melemah.

[6] Bernard Pares, A History of Russia, hal. 404.

[7] Dikutip dari Trotsky, The Young Lenin, hal. 29.

[8] Alexander Herzen (1812-1870) adalah salah satu pendiri populisme Rusia dan tokoh demokrasi Rusia yang pertama.

[9] Nikolay Chernyshevsky (1828-1889) adalah seorang demokrat revolusioner Rusia, filsuf materialis, dan sosialis. Dia adalah pemimpin gerakan demokrasi revolusioner pada 1860an dan tulisan-tulisannya mempengaruhi generasi Marxis Rusia selanjutnya. Lenin mengakui bahwa dia pertama kali belajar materialisme dialektis dari karya-karya Chernyshevsky. Novelnya What is to be done? adalah sumber inspirasi bagi generasi muda revolusioner. Karena aktivitasnya, pada 1862 dia dihukum penjara dan lalu diasingkan ke Siberia.

[10] Dimitri Pisarev (1840-1868) adalah seorang penulis Radikal dan kritikus sosial Rusia. Dia adalah salah satu penulis yang mendorong gerakan demokrasi di Rusia pada 1860an. Dia mempengaruhi banyak kaum Marxis Rusia di periode selanjutnya, termasuk juga Lenin.

[11] Peter Kropotkin (1842-1921) adalah teoretikus anarkis terkemuka dari Rusia. Lahir dari keluarga aristokrat, seperti kaum muda generasinya dia bergerak ke arah revolusi. Pada 1872 dia ditahan karena aktivitas radikalnya. Dia berhasil melarikan diri dan mengasing ke Eropa Barat sambil terus melakukan kerja revolusionernya. Saat Perang Dunia I, Kropotkin mengambil posisi pro-perang, dan mendukung pihak Rusia (dan Sekutu) untuk mengalahkan Jerman. Secara konkret ini mendukung kaum borjuasi nasional dalam peperangan imperialis.  Posisi ini dituangnya dalam Manifesto of the Sixteen dan dikritik keras oleh kaum Bolshevik. Pada 1917 setelah Revolusi Februari dia kembali ke Rusia. Dia tidak setuju dengan Bolshevisme dan terus menjadi kritik Partai Bolshevik sampai kematiannya pada 1921.

[12] P. Kropotkin, Memoirs of a Revolutionary, vol. 1, hal. 253.

[13] Kropotkin, Vol 2 hal 20 dan 25

[14] Mikhail Bakunin (1814-1876) adalah ahli teori anarkis terutama dari Rusia. Dia bergabung dengan Internasional Pertama dan berseteru melawan Marx dan Engels di dalam organisasi ini untuk kendali organisasi dan ideologi. Dalam perseteruan inilah garis pemisah antara Marxisme dan Anarkisme semakin kental.

[15] P. Axelrod, Perezhitoe i Peredumannoe, hal. 111-2.

[16] Yemelyan Pugachev adalah seorang Don Cossack yang memimpin pemberontakan kaum Cossack dan kaum hamba dalam melawan kaum bangsawan tuan tanah pada 1773, di bawah rejim Ratu Catherine II. Pemberontakan ini awalnya menemui kesuksesan, dengan penyitaan tanah besar-besaran dan ditaklukkannya sejumlah benteng kerajaan. Para pemberontak merebut Kazan. Mereka bisa saja merebut Moskow. Namun walaupun terjadi banyak kerusuhan di kota-kota, pemberontakan petani ini tidak mampu bersatu dengan massa kota dalam melawan musuh bersama mereka  - kaum bangsawan dan autokrasi. Walaupun para pemberontak menuntut dihapuskannya sistem perhambaan, mereka tidak punya program politik yang jelas, yang mampu menciptakan gerakan massa yang luas. Kelemahan fatal ini, ditambah pula tendensi-tendensi lokalis, tidak adanya organisasi dan disiplin, akhirnya melemahkan pemberontakan ini. Pemberontakan ini akhirnya berhasil dipatahkan dan Pugachev dieksekusi di Moskow pada Januari 1775.

Stepan Razin, seorang pemberontak Cossack, memimpin sebuah armada bajak laut pada 1670 dan berseru pada kaum tani Volga untuk memberontak. Pemberontakannya menemui kegagalan dan dia dieksekusi di Moskow pada 1671.

[17] Trotsky, The Young Lenin, hal. 28.

[18] Dari Axelrod, The Working Class and the Revolutionary Movement in Russia, dikutip di Baron, Plekhanov, hal. 25.

[19] Kropotkin, op. cit., vol. 2, hal. 119.

[20] Faktor subjektif adalah faktor sadar dalam sejarah, yakni aksi manusia untuk mengubah kehidupan dan nasib mereka. Sementara kondisi-kondisi objektif ditentukan oleh perkembangan sosial dan merupakan dasar dari aksi-aksi subjektif. Lebih spesifik, faktor subjektif merujuk pada peran kepemimpinan dan partai revolusioner di dalam perjuangan kelas.

[21] D. Footman, Red Prelude, hal. 86.

[22] Dikutip di D. Footman, op. cit., hal. 47 dan 49 (penekanan dari saya).

[23] Trotsky, The Young Lenin, hal. 25 (penekanan dari saya).

[24] Zemlya i Volya adalah organisasi revolusioner kaum Narodnik atau populis Rusia.

[25] Dikutip di Fyodr Dan, The Origins of Bolshevism, hal. 162-3

[26] Dikutip di F. Venturi, The Roots of Revolution, hal. 511.

[27] Ibid., hal;. 800

[28] Tatanan masyarakat feodal di Rusia dikenal dengan nama Soslovie di Rusia. Dalam sistem feodal Rusia ini, masyarakat dibagi menjadi empat lapisan: bangsawan, pendeta, penduduk kota, dan penduduk desa. Di tiap-tiap lapisan ini, ada banyak kategori. Tatanan masyarakat ini melemah dengan perkembangan kapitalisme di Rusia pada pertengahan kedua abad ke-19.

[29] A.G. Rashin, Formirovaniye Rabochego Klassa Rossiy, hal. 12.

[30] Dikutip di Venturi, op. cit., hal. 515 dan 516.

[31] Ibid., hal. 543.

[32] Ibid., hal. 548.

[33] Ibid., hal. 556.

[34] Ibid., hal. 556.

[35] “Propaganda Aksi” adalah salah satu konsep Anarkisme dimana gerakan revolusioner massa dapat diprovokasi atau dibangkitkan dengan aksi segelintir kaum anarkis yang melakukan aksi-aksi terorisme individual (pemboman gedung pemerintah, pembunuhan para petinggi pemerintah, dll.)

[36] Dikutip di Footman, op. cit., hal. 87.

[37] Vera Zasulich (1851-1919) adalah salah satu pendiri kelompok Marxis pertama di Rusia bersama dengan Plekhanov. Saat muda dia aktif sebagai kaum Narodnik. Bersama dengan Lenin, dia bekerja sama sebagai dewan editor menerbitkan koran Marxis Iskra. Zasulich akhirnya pecah dengan Lenin dan bergabung dengan kubu Menshevik. Selama Perang Dunia Pertama dia mendukung perang ini. Saat Revolusi Oktober meledak, dia menentangnya dan menjadi musuh pemerintahan Soviet.  

[38] Dikutip di J. Martov, Obshchestvennoe i Umstvennoe Techeniye v Rossii 1870-1905, hal. 44.

[39] Dikutip di Baron, op. cit., hal. 56 (penekanan saya).